Tag: Kolaborasi

Platform Kolaborasi dalam Mendukung Pengelolaan SDA Terpadu

IAP2 Indonesia – Hingga saat ini banyak para pemangku yang mengelola air secara parsial, sehingga diperlukan open platform yang dapat membangun kolaborasi antar pihak.

Chair of IAP2 Indonesia Sebagai Keynote Speaker

Sumber : dokumentasi pribadi, 2022

Pada 18 Oktober 2022, Pak Aldi Muhammad Alizar – Chair of IAP2 Indonesia diundang sebagai keynote speaker pada acara “Indonesia Collaboration Summit 2022 : Integrated Water Security Program Roadshow”. Materi yang dibawakan Pak Aldi adalah pentingnya kolaborasi antar pihak dalam mendukung pengelolaan air terpadu. Keynote speech Pak Aldi tentang kolaborasi menjadi kunci utama dalam peluncuran open platform tersebut. Presentasi dan demonstrasi untuk promosi Open Program dipaparkan oleh Pak Fanny Wedahuditama – GWP SEA Regional Coordinator. Selain itu acara tersebut dihadiri para panelis yang bergerak atau terlibat dalam pengelolaan sumber daya air yaitu, Water Stewardship Indonesia, Yayasan Konservasi Alam Nusantara, PT Pran Indo Permata Abadi, Yayasan Bambu Lestari, dan Multi Bintang Indonesia.

Baca Juga : Masalah dan Sumber Daya: Kunci Pemberdayaan Masyarakat (amf.or.id)

Poin – Poin Penting Keynote Speech dari IAP2 Indonesia

Sumber : Cut The Tosh Collaboration Summit

Poin – poin penting yang disampaikan oleh Pak Aldi dalam keynote speech-nya yaitu:

1) Masalah air sangat kompleks dan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dengan adanya kolaborasi maka setiap pihak akan terlibat dalam menyelesaikan masalah air. Hal tersebut akan lebih efektif dan efisien karena mengurangi usaha yang sifatnya sama;

2) Pentingnya menerapkan nilai – nilai partisipasi publik IAP2 (Core Values IAP2) sebagai integritas. ;

3) Studi kasus kolaborasi dari pengelolaan Sungai Citarum yang melibatkan pemerintah dan non pemerintah yang dikelompokkan menjadi regulator, operator, dan pemanfaat. Sungai Citarum menjadi suplai air baku 80% penduduk DKI Jakarta dan memiliki panjang sekitar 350 km. Tentunya terdapat permasalahan pada Sungai Citarum seperti menurunnya kualitas dan kuantitas, pencemaran, dan sedimentasi. Hal tersebut memerlukan kolaborasi antar pihak dari pusat maupun daerah untuk bersama – sama menjaga kualitas dan kuantitas Sungai Citarum;

Baca Juga : Pentingnya ESG dan Stakeholder Capitalism bagi Perusahaan – (iap2.or.id)

4) CSR (Corporate Sosial Responsibility), merupakan platform kemitraan multi – pihak yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas, dan masyarakat secara lebih luas. Hal – hal yang disampaikan oleh Pak Aldi menunjukkan bahwa dengan adanya kolaborasi antar pihak dapat mempercepat pencapaian target pembangunan berkelanjutan dan membangun dunia yang lebih inklusif dan berkeadilan;

5) Sejak abad ke – 9 masehi budaya kolaborasi sudah ada di Indonesia yaitu Subak. Istilah ‘Subak’ berasal dari Bahasa Bali yaitu sistem dan kelembagaan sosial yang memiliki aturan – aturan tersendiri dalam menentukan penggunaan air irigasi untuk menanam padi yang dilakukan secara demokratis dan hierarkis. Subak tidak hanya sebagai sistem irigasi, tetapi dihayati oleh masyarakat Bali sebagai konsep kehidupan dengan filosofi yang disebut sebagai Tri Hita Karana, yang diartikan sebagai tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan. Hal tersebut diaplikasikan dalam sistem subak sebagai Parahyangan (hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesame), dan Palemahan (hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam). Subak telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia (World Heritage). Dengan dukungan kelembagaan dan partisipasi publik yang kuat dapat mempertahankan budaya Subak hingga saat ini.

Baca Juga : Menyambut Indonesia Menjadi Ladang Investasi Berkelanjutan (mirekel.id)

Tentang Open Platform GWP SEA

Sumber : https://gwp-sea.org/openprogram/

Latar belakang dari program ini adalah banyak pemangku kepentingan yang mengelola air secara parsial, hal tersebut mempersulit untuk membangun gambaran hal investasi dan perencanaan masa depan di tingkat lokal, provinsi, nasional, maupun regional. Jika terus dilakukan secara parsial maka ada kemungkinan terjadinya duplikasi dan konflik antaraksi di lapangan. Oleh karena itu GWP SEA meluncurkan Open Program dengan tujuan untuk mensinergikan aksi dalam mendukung pencapaian tujuan ketahanan air. Teman partisipasi dapat terlibat juga pada Open Program ini dengan cara melakukan pendaftaran pada : gwp-sea.org/openprogram/

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terpadat ke-4 di dunia, sehingga kebutuhan air bersih dan akses sanitasi menjadi masalah yang cukup kompleks dan harus diselesaikan bersama. Kolaborasi menjadi kunci utama untuk mempercepat pencapaian target pembangunan yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan.

Kolaborasi SGPP dan IAP2

Kolaborasi SGPP dan IAP2 : Perjalanan untuk Kemajuan Bersama

Jakarta – Pertemuan tahunan IAP2 Indonesia yang diselenggarakan Kamis, 5 Desember 2019 di Mula by Galeria, Cilandak, Jakarta Selatan, salah satunya menghadirkan Ony A. Jamhari, CEO dari School of Government and Public Policy (SGPP) Indonesia. SGPP merupakan mitra IAP2 Indonesia sejak tahun 2018, termasuk dalam menyelenggarakan International Forum on Public Participation and Stakeholder Engagement for Sustainable Development Goals (IFP2SE) pada 29 April – 1 Mei 2019 di Bangkok, Thailand.

Dalam sesi sharing bersama Ony A. Jamhari, ia memperkenalkan profil SGPP yang saat ini sudah berjalan lima tahun. Memiliki kampus yang berlokasi di Sentul, Bogor, SGPP memiliki 30-40 siswa di setiap angkatannya. Salah satu hal yang khas di SGPP adalah, setiap Senin pagi, mereka selalu mengadakan kuliah umum dengan berbagai topik dan pembicara yang ahli di bidangnya. Di angkatan ke-6 sekarang ini, SGPP memiliki satu kegiatan baru yaitu sesi Passion Talk, yang mana setiap mahasiswa akan mempresentasikan satu topik tertentu, mengenai expertise mereka atau hal-hal yang menjadi passion  mereka. Dalam setahun ini, rencananya ada 40 passion talk dan semua itu akan didokumentasikan oleh SGPP.

Terkait kerja sama SGPP dengan IAP2 Indonesia, Ony mengungkapkan kemitraan ini telah membawa energi positif bagi kedua belah pihak. Menurutnya, kolaborasi adalah kunci keberhasilan bagi instansi dan perorangan untuk dapat terus eksis dan tumbuh berkembang di zaman yang serba cepat ini. Bukan lagi berbicara siapa yang paling unggul tetapi apa yang dapat dilakukan bersama-sama untuk mencapai misi yang identik.

Untuk itu sejak ditandatanganinya MoU antara SGPP Indonesia dengan IAP2 Indonesia pada tahun 2018, komitmen untuk menjalin kerjasama terus dipupuk hingga saat ini. Kolaborasi dilakukan dalam lingkup kegiatan, antara lain, pertukaran bahan ilmiah, publikasi, dan informasi; konferensi bersama, program akademik, dan kegiatan budaya; kegiatan dan publikasi penelitian bersama; dan program kolaboratif akademik bersama. Di tahun 2020, kegiatan kolaboratif antara SGPP dan IAP2 Indonesia diharapkan bisa berkembang lebih jauh dan berdampak luas di masyarakat.

iap2 indonesia

Perkembangan IAP2 Indonesia

Jakarta – Pembangunan berkelanjutan yang inklusif mensyaratkan partisipasi masyarakat yang aktif dalam prosesnya. Namun demikian, praktik partisipasi publik belum dikelola secara maksimal meskipun sudah banyak regulasi pemerintah yang mengatur partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan serta evaluasi.

IAP2 Indonesia hadir untuk mendorong partisipasi publik dan memperkuat kapasitas pelaku pembangunan di Indonesia untuk memahami dasar-dasar partisipasi publik. Pada tahun 2019, IAP2 Indonesia telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintahan, perguruan tinggi maupun organisasi internasional untuk menjalankan visinya untuk memajukan partisipasi publik di Indonesia.

Di tingkat nasional, IAP2 Indonesia sedang merintis kerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas untuk mendorong praktik Kemitraan Multi-Pihak di daerah. Sebagai koordinator pelaksanaan pencapaian TPB di Indonesia, Bappenas telah melakukan beberapa upaya untuk pencapaian TPB. Salah satunya adalah peluncuran Panduan Kemitraan Multi Pihak. Dengan kerja sama ini, diharapkan Forum Kemitraan Multi Pihak untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan bisa tumbuh di daerah-daerah dan Bappenas dapat mendukung gerakan global The International Year of Participation 2021 yang digagasi oleh IAP2.

Selain dengan Bappenas, IAP2 Indonesia mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara  dan Reformasi Birokrasi dalam sosialisasi dan pendampingan forum konsultasi publik untuk peningkatan pelayanan publik di Banjarsari, Kalimantan Selatan. Dalam kerja sama ini, IAP2 Indonesia diminta memberikan input terkait teknik partisipasi publik yang efektif pada institusi pemerintahan. Ke depannya, forum konsultasi publik bisa menjadi ruang dialog bagi pemerintah dan masyarakat untuk perbaikan pelayanan publik.

Untuk membantu pencapaian TPB di daerah, IAP2 Indonesia mendukung beberapa kegiatan pelatihan Localise SDGs, yang merupakan program kolaboratif antara UCLG ASPAC (Asosiasi Pemda untuk Kawasan Asia Pasifik) dan APEKSI (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia). Dalam kontribusinya, IAP2 Indonesia menjadi narasumber untuk materi 10 Langkah Melibatkan Pemangku Kepentingan untuk Pembangunan Berkelanjutan dalam pelatihan yang dilaksanakan di Jakarta dan Ternate – Maluku Utara.

Tidak hanya bekerja sama dengan Pemerintah, IAP2 Indonesia pun membangun kerja sama dengan Lembaga Pendidikan, seperti School of Government and Public Policy (SGPP) Indonesia dan BI Institute. Bersama SGPP, IAP2 Indonesia telah menyelenggarakan beberapa kegiatan dan salah satunya adalah Forum Internasional di Bangkok. Rencananya, IAP2 Indonesia akan melibatkan SGPP untuk metariset tentang partisipasi publik di Indonesia. Sementara itu, kerja sama dengan BI Institute tengah dibangun untuk memperkenalkan gagasan kolaborasi dalam kepemimpinan.

Di tingkat internasional, IAP2 Indonesia bekerja sama dengan UNESCAP mendorong pelibatan pemangku kepentingan dan partisipasi publik untuk agenda 2030 (TPB). Ini adalah refleksi dari Tujuan 16 dan 17. Kerja sama dengan UNESCAP ini sudah terjalin sejak tahun lalu. Beberapa kegiatan yang telah terselenggara adalah pembuatan modul dan penyelenggaraan pelatihan internasional “Effective Stakeholder Engagement for the 2030 Agenda.”

April 2019 lalu, IAP2 dan UNESCAP menyelenggarakan forum internasional tentang Partisipasi Publik dan Pelibatan Pemangku Kepentingan untuk TPB, yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, akademisi dan praktisi di dua bidang, Pembangunan Berkelanjutan dan Partisipasi Publik. Forum ini menyediakan ruang untuk diskusi dan berbagi pengalaman tentang pelibatan pemangku kepentingan dan partisipasi publik dalam isu pembangunan berkelanjutan.

Baca juga seri Kabar Dalam Negeri lainnyaMencari Pintu Masuk Integrasi TPB di Daerah

Perlu diakui bahwa agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan membawa kesadaran baru tentang urgensi pelibatan pemangku kepentingan untuk pencapaian TPB. Persoalan global yang semakin kompleks tidak bisa diselesaikan secara sendiri-sendiri oleh masing-masing pihak. Ruang untuk kerja sama dan kolaborasi harus dieksplorasi dan diperkuat. Di sinilah IAP2 Indonesia akan terus hadir, membangun kolaborasi agar semua pihak memiliki kapasitas untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembangunan yang inklusif.

kolaborasi

Seluk Beluk Kolaborasi

Kamis, 1 Agustus 2019, telah diselenggarakan diskusi Ngobrolin Partisipasi (NGOPAS) yang mengangkat tema ‘The critical role of collaboration for the development sector’. Materi dibawakan oleh Stuart Waters yang saat ini menjabat sebagai Managing Director dan konsultan senior di lembaga Twyfords, Australia. Ia juga merupakan salah penulis untuk buku The Power of ‘Co’: The Smart Leaders’ Guide to Collaborative Governance.

NGOPAS kali ini diadakan di Mula, Cilandak Town Square selama tiga jam dan dihadiri oleh perwakilan dari Anwar Muhammad Foundation (AMF), School of Government and Public Policy – Indonesia (SGPP), Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), dan Mott Macdonald.

Mengusung topik kolaborasi, sesi NGOPAS mengupas seluk beluk kolaborasi secara interaktif. Dalam pengantarnya, Stuart menjelaskan bahwa kolaborasi adalah upaya yang dilakukan ketika sudah memiliki kompleksitas yang tinggi.

Dalam konteks agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan, tantangan pembangunan yang kompleks seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, krisis air bersih, kelestarian lingkungan dan disrupsi teknologi menjadikan kolaborasi sebagai tulang punggung untuk pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Stuart juga berbagi pengalaman internasionalnya tentang ketrampilan, perilaku, dan pola pikir yang dibutuhkan organisasi untuk meningkatkan efektivitas kolaborasi mereka. Sebagai pakar kolaborasi, ia menekankan hal yang paling penting dan mendesak adalah meningkatkan kapasitas untuk berkolaborasi efektif dengan lintas orang, budaya dan disiplin ilmu. Kolaborasi yang sebenarnya adalah tentang hubungan, nilai-nilai, ketakutan dan kerentanan manusia.

Baca juga seri Kabar Dalam Negeri lainnyaMenyusun Stategi Pelibatan Stakeholder untuk TPB

Belajar cara berkolaborasi berarti belajar bagaimana menjadi tidak nyaman dalam kebersamaan. Untuk itu, ia pun memperkenalkan kunci kerangka kerja kolaborasi dan mengeksplorasi penerapannya pada proyek nyata. Diskusi juga diselingi oleh tanya jawab terbuka dari para peserta yang ingin mengeksplorasi isu-isu penting yang relevan bagi mereka.

Materi dan foto dapat diunduh pada tautan berikut ini http://tiny.cc/20rjbz