Ternak Nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia dalam Menghadapi Demam Berdarah Dengue di Indonesia

IAP2 Indonesia mengadakan membertalk ke -6 bertajuk “Ternak Nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia dalam Menghadapi Demam Berdarah Dengue di Indonesia” dengan mengundang pembicara dari (WMP) World Mosquito Program yaitu Bu Claudia Surjadjaja – Asia Regional Director WMP dan Bu Bekti Andari – Asia Regional Project Manager – Communication and Engagement WMP. Membertalk ini dilatar belakangi oleh peningkatan kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) selama masa pandemi COVID-19 sehingga IAP2 Indonesia ingin memberikan informasi kepada masyarakat tentang inovasi WMP yaitu ternak nyamuk ber-Wolbachia  dalam menghadapi kasus DBD di Indonesia.

Bu Claudia melakukan presentasi tentang WMP dan ternak nyamuk ber – Wolbachia. Berdasarkan hasil presentasi beliau bahwa World Mosquito Program (WMP) adalah sebuah inisiatif non-profit yang bekerja di 12 negara yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari penyakit yang disebabkan oleh nyamuk seperti dengue, Zika dan Chikungunya dengan menggunakan metode Wolbachia. Wolbachia adalah bakteri alami yang terdapat di sekitar 60% serangga di dunia, namun ia tidak ada di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah. Bakteri ini dapat ditransfer melalui telur dan bakteri ini aman untuk manusia dan lingkungan. WMP berhasil memasukkan bakteri Wolbachia ke dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti dan terbukti mampu menekan perkembangan virus dengue. 

Terdapat tiga skenario dalam melakukan transfer Wolbachia ke generasi selanjutnya yaitu: 1) Jika nyamuk jantan yang ber-Wolbachia dan dilepaskan keluar ke alam terbuka sehingga nantinya nyamuk jantan kawin dengan nyamuk betina liar, maka nyamuk betina tersebut tetap bertelur tetapi tidak dapat menetas; 2) Skenario kedua yaitu jika nyamuk jantan ber-Wolbachia akan kawin dengan nyamuk betina ber-Wolbachia maka akan memproduksi telur dan anak – anak nyamuk tersebut tidak dapat menularkan dengue lagi; dan 3) Skenario ketiga yaitu jika nyamuk betina yang ber-Wolbachia dilepaskan dan kawin dengan nyamuk jantan liar maka telur yang dihasilkan adalah anak – anak nyamuk yang tidak memiliki virus dengue. Dari tiga skenario tersebut dari pertimbangan dampak pada manusia, lingkungan, dan hewan, WMP memilih skenario untuk melepaskan nyamuk betina ber-wolbachia dikarenakan jika melepaskan nyamuk jantan ber-Wolbachia maka populasi nyamuk akan berkurang. Release period yang dilakukan oleh WMP adalah 6 bulan dan populasi nyamuk ber-Wolbachia sudah hampir menyebar cukup besar dan diharapkan nyamuk liar nantinya akan memiliki Wolbachia.

Current Project Sites pelaksanaan program  WMP sudah tersebar di 3 wilayah regional yaitu: 1) Latin America Hub yang menjangkau Mexico, Colombia, dan Brazil; 2) Oceania Hub yang menjangkau Australia, Kiribati, Vanuatu, Fiji, dan New Caledonia; dan 3) Asia Hub yang menjangkau Sri Lanka, Indonesia, dan Vietnam. Kedepannya saat tahun baru Vietnam, WMP akan mulai menjangkau 2 tempat di South Vietnam. Sedangkan untuk Sri Lanka sudah selesai pada fase 1 dan adanya inisiatif pemerintah untuk membantu program WMP pada fase 2. Di Indonesia, WMP bekerjasama dengan UGM (Universitas Gajah Mada) selama 10 tahun lebih dalam menjalan ternak nyamuk ber-Wolbachia ini. Ternak nyamuk ber-Wolbachia menggunakan pendekatan berkelanjutan yang artinya non-GMO, No Insecticides, Self – sustaining (hanya satu kali aplikasi), dan Affordable long – term solution.

WMP di Yogyakarta melakukan quasi kontrol yang didanai oleh BMGF (Bill Melinda Gates Foundation).  Pada tahun 2016 yang lalu WMP melakukan RCT dengan partner – partner UGM yang didanai oleh Yayasan Tahija, mengingat sesuai standar WHO penelitian tertinggi adalah dengan pendekatan RCT (Randomized Controlled Trial). RCT sudah selesai di Yogyakarta dan sudah released. WMP juga bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Sleman dan tahun depan yaitu April 2022 akan bekerjasama dengan Kabupaten Bantul.

Selanjutnya materi tentang partisipasi masyarakat, communication dan engagement dalam program tersebut oleh Bu Bekti. WMP memiliki divisi khusus yaitu Community Engagement dan hal tersebut menjadi hal penting dikarenakan ternak nyamuk ber-Wolbachia akan berjalan efektif apabila pemerintah dan masyarakat mendukung. Sehingga untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat maka WMP menggunakan pendekatan partisipasi publik yaitu Public Acceptance Model (PAM), pada model ini terdapat 5 yaitu pertama kita harus mengetahui karakteristik masyarakat, menyusun strategi, setelah itu 3 bulan campaign melalui channel dan media sosial, menerima masukan dari masyarakat, dan kerja sama dengan community reference group yang dapat membantu WMP dalam memberikan solusi. WMP memiliki nilai yang terus dilakukan selama keberjalanan program yaitu Respect, Responsive, Transparency, dan Inclusivity. Dikarenakan WMP bekerja secara global maka campaign yang dibuat harus secara global yaitu “We Welcome Wolbachia” dengan gambar tangan yang berbentuk “W”, seperti pada gambar 1. 

Gambar 1. Campaign Global WMP

Sumber : WMP, 2021

Selain itu campaign juga harus beradaptasi dengan karakteristik wilayah seperti di Yogyakarta, Indonesia dibuat menggunakan bahasa jawa, slogan di Sleman yaitu “Si Wolly Nyaman : Wolbachia, Nyamuk Aman Cegah DBD di Sleman”, dan di Bantul yaitu “WoW MANTUL : Wolbachia Wis Masuk Bantul”. Campaign yang dilakukan oleh WMP lainnya yaitu di Sleman pernah didatangi oleh Bill Gates, WMP membuat mini lab di luar ruangan agar masyarakat lebih mengetahui, dan tentunya kerjasama dengan dinas kesehatan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.

Selesai pemaparan materi dilanjutkan diskusi dengan moderator, pertanyaan – pertanyaan yang sudah terkumpul dari para peserta menunjukkan antusiasme terhadap membertalk bertajuk ternak nyamuk ber-Wolbachia ini. Dari diskusi ini banyak pengetahuan baru tentang nyamuk seperti ciri – ciri tempat berkembang biak nyamuk, kemampuan nyamuk yang hanya bisa terbang sekitar 1 – 2 meter saja, bagaimana tahap transfer ternak nyamuk ber-Wolbachia, mengetahui lebih detail bakteri Wolbachia, tantangan dalam menjalankan program dan lainnya.

Baca Juga : Partisipasi Publik Yang Efektif Untuk Pengoptimalan Tata Kelola Air Melalui Platform Kemitraan

Acara diskusi ditutup dengan closing statement dari para pembicara. Bu Claudia menyampaikan bahwa menurut beliau Sains tidak ada batasan dan inovasi sains yang sudah dipublikasikan adalah milik semua sehingga bagaimana kita dapat menerima, Sains sejati tidak akan mengakui sendiri untuk digunakan kepentingan sendiri seperti inovasi public health yang harus diterima dan merasa dimiliki oleh semua masyarakat. Selanjutnya key message dari Bu Bekti adalah dalam menerapkan metode ternak nyamuk ber-Wolbachia tidak bisa berjalan dengan efektif jika hanya dilakukan oleh WMP sendiri dikarenakan untuk dapat memperbaiki masalah yang ada diperlukan partisipasi dan dukungan masyarakat terhadap program maupun inisiatif WMP, setiap dukungan apapun dapat ikut serta memberikan dampak besar pada perubahan.

 

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.