Partisipasi Publik yang Efektif di Tingkat Masyarakat untuk Pengelolaan Air yang Lebih Baik

Dr. Kalithasan Kailasam merupakan Manager River Care Programme, Global Environment Centre Partner of GWP Malaysia hadir sebagai pembicara di webinar GWP SEA x IAP2 Indonesia bertajuk “Peningkatan Partisipasi Publik dalam Pengoptimalan Tata Kelola Air” (11/11/2021). Materi yang dipaparkan Dr. Kalithasan secara umum adalah pengelolaan dan manajemen sungai.

Krisis global yang disampaikan oleh Dr. Kalithasan bahwa hanya 3% dari air dunia adalah air tawar sehingga sekitar 1,1 miliar jiwa yang terkendala akses air bersih, dan 2,7 miliar menemukan water scarcity atau tidak dapat diaksesnya pasokan air yang aman setidaknya 1 bulan dalam setahun. Dr. Kalithasan menyampaikan bahwa kelangkaan air disebabkan oleh ulah manusia, seperti pembangunan yang tidak berkelanjutan, eksploitasi sumber daya, polusi, pembuangan illegal, gas emisi, dan limbah yang tidak diolah. 

Tata kelola dalam pengelolaan sumber daya air terdiri dari tiga aspek yaitu pertama adalah kualitas air sungai, kedua adalah kuantitas air, dan terakhir adalah kondisi fisik. Key scopes untuk memastikan partisipasi publik dalam pengoptimalan tata kelola air dalam mencapai Water Security Goals yaitu: 1) Ownership, artinya semua pemangku kepentingan harus terlibat dan merasa harus memiliki; 2) Conservation, seperti perlindungan, biodiversity, konservasi air dan alternatif untuk ketersediaan air; 3) Waste/Pollution Management, mengatasi sumber polusi, menerapkan 4R2C, dan pencegahan polusi dan limbah; 4) River Health: Monitoring/Sharing/Enforcement, seperti pengawasan dan audit kesehatan sungai, manajemen polusi; 5) Rehabilitation, meningkatkan kualitas air, menciptakan habitat, river flow/hydrology, Nature Based Solution; 6) Recognition/Rewards, yaitu Community Engagement, River Care Awards, National River Care Fund; dan 7) Education, pemetaan sungai, river address, sukarelawan dan adaptasi, paket dan tools pendidikan.

Tingkat spektrum dari Public Engagement yaitu awareness, participation, action, dan ownership. Dr. kalithasan menjelaskan bahwa menuju ke tingkat berikutnya akan semakin efektif dalam pengelolaan sumber daya air tetapi tingkat kesulitannya semakin rumit. Hal yang dilakukan untuk meningkatkan partisipasi publik yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap water security, melibatkan masyarakat dalam merumuskan kebijakan, dan juga kontribusi untuk meningkatkan ketertarikan dalam mekanisme partisipasi. GEC mengembangkan konsep Civic Science untuk memasukkan kembali Civic kedalam Civil Engineering sehingga dapat melaksanakkan aksi lokal dan menghubungkan kembali dengan alam.

Selanjutnya materi terkait stakeholder bahwa setiap sungai memiliki perbedaan pendekatan dalam pengelolaannya sehingga pemangku kepentingan yang terlibat terdiri dari federal agencies, local government agencies, private sector, education institutions, local community, civil society, general public, dan media. Selain itu perlunya keseimbangan antara manusia, hewan, dan tumbuhan, keseimbangan lainnya yaitu antara lingkungan, ekonomi, sosial, dan agama. SMART partnership yaitu melibatkan seluruh pemangku kepentingan menjadi aspek utama dalam menyukseskan manajemen sumber daya air. 

Baca Juga : Ternak Nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia dalam Menghadapi Demam Berdarah Dengue di Indonesia

Water footprint biasanya diartikan dalam istilah volume air jumlah penggunaan air tawar langsung (digunakan di rumah) dan tidak langsung (digunakan untuk kegiatan produksi barang dan jasa) oleh konsumen setiap tahunnya. Praktek manajemen terbaik dalam water consumption adalah jangan membuang makanan, menanam makanan sendiri, membeli makanan musiman, beli sedikit makanan yang diproses, dan mencoba untuk diet.

Selanjutnya Dr. Kalithasan menjelaskan Community base Financial Support System dalam pengelolaan sumber daya air salah satunya Wakaf Air (Water Endowment), merupakan sebuah inisiatif oleh kementerian lingkungan & air yang diluncurkan pada 17 Desember 2020. Pendanaan ini untuk mendanai project skala kecil dibawah RM 50.000.00, dan pendanaannya sudah termasuk water source pumping system, membeli peralatan pengganti, pendampingan operasi pencegahan, dan penyediaan sumber air alternatif yang melibatkan biaya pemeliharaan yang rendah dan aman digunakan. Pendanaan lainnya yaitu National River Care Fund, merupakan sebuah inisiatif oleh Global Environment Centre sebagai Program Nasional berjangka panjang dengan pendanaan sebesar RM 470.000 dalam 3 tahun dan 9 program besar.

Closing remarks yang diberikan oleh Dr. Kalithasan bahwa lingkungan merupakan bagian dari hidup kita, terutama air merupakan kebutuhan dasar dan menghubungkan dengan apapun sehingga perlunya tanggung jawab dan berpartisipasi untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air. Hal yang ditegaskan oleh Dr. Kalithasan yaitu “The most important attitude is Just Do It Walk The Talk (No Talk Action Only)”, hal tersebut memotivasi masyarakat untuk mulai bergerak membuat perubahan dan mulai ikut berpartisipasi pada pembangunan berkelanjutan khususnya water security development.

 

Artikel ini ditulis oleh Pundarika Vidya Andika

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.