Sepak Bola Indonesia, Sepak Bola Kita!

IAP2 Indonesia – Sepak bola merupakan olahraga yang populer di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Setiap pertandingan atau event sepak bola selalu disambut oleh animo tinggi masyarakat. Antusiasme itu terlihat dari tingginya animo masyarakat dalam menyaksikan pertandingan-pertandingan, baik menonton langsung di stadion maupun dengan mengadakan nonton bareng.

Dinamika Sepak Bola Indonesia

Sayangnya, kepopuleran itu tak sebanding dengan prestasi yang didapat Timnas Indonesia. Korupsi, kekerasan, dan pengelolaan yang buruk selama ini meredam ambisi sepak bola Indonesia. Sea Games 1991 adalah turnamen terakhir dimana Timnas Indonesia berhasil menjadi yang terbaik.

Baca Juga : Pentingnya Pelibatan Masyarakat Dalam Penanganan Sampah 

Banyak masalah di luar lapangan yang meredam ambisi Indonesia. Hasrat untuk menjadi juara selalu terhalang segelintir orang yang berusaha mengutamakan kepentingan pribadi. Akibat ambisi segelintir orang tersebut, sepakbola Indonesia pernah  mengalami kekalutan dengan munculnya dua federasi, liga , dan timnas yang saling bersaing, sehingga FIFA pernah mengucilkan Indonesia dari 2014-2016 karena kekacauan dan intervensi pemerintah dalam pengelolaan sepakbola Indonesia.

Masalah yang juga sudah berlangsung lama adalah penyogokan dan pengaturan pertandingan. 6 pemain diskors pada November 2021 karena mencoba memanipulasi hasil. Sebelumnya pada 2019, beberapa pejabat PSSI, ditangkap terkait tuduhan pengaturan skor.

Foto: Kompas.com

Selain itu, masalah kekerasan dan vandalism juga perlu perhatian lebih. Indonesia memiliki insiden hooliganisme tertinggi di Asia, menurut Save Our Soccer, sebuah organisasi pengamatan sepakbola, sejak 1994, 74 penggemar sepak bola telah tewas akibat kekerasan. Yang terbaru adalah Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 suporter sepak bola. Bencana tersebut merupakan bencana paling mematikan kedua dalam sejarah sepak bola dunia setelah tragedi Estadio Nacional di Peru pada tahun 1964 yang menewaskan 328 orang. Kejadian tersebut mendapat kecaman dari pecinta sepak bola di Indonesia bahkan dunia.

Baca Juga : Naik Turun Implementasi ESG dalam Bisnis Perusahaan 

Langkah yang telah diambil

Akibat desakan dari masyarakat Indonesia untuk mengusut tuntas kasus tersebut, Pemerintah Indonesia membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dipimpin Menko Polhukam dan Menpora. Salah satu rekomendasi TGIPF adalah harus ada restrukturisasi di tubuh pengurus PSSI. Langkah tersebut diambil sesuai rekomendasi TGIPF Tragedi Kanjuruhan yang lantas diperkuat dengan tuntutan sejumlah klub. PSSI mengumumkan akan segera menggelar Kongres Luar Biasa. KLB diadakan untuk merekonstruksi komposisi kepengurusan PSSI. Tujuannya untuk melakukan transformasi demi PSSI yang lebih baik dan profesional pasca-Tragedi Kanjuruhan.

Foto: pssi.org

Sepak Bola Kita!

Kongres Luar Biasa PSSI akan diadakan pada 16 Februari 2023 yang akan memilih Ketua Umum, Wakil Ketua Umum dan Anggota Komite Eksekutif periode 2023-2027. Ada 87 anggota PSSI yang menjadi voter, atau pemilik suara pada KLB. Beberapa diantaranya ialah artis dan publik figur yang memiliki klub di Liga Indonesia, seperti Raffi Ahmad (RANS Nusantara FC), Kaesang Pangarep (Persis Solo), Gading Marten (Persikota Tangerang), dan Atta Halilintar (FC Bekasi City). Ditangan pemilik suara inilah nasib PSSI dan wajah sepak bola Indonesia kedepannya akan ditentukan.

Baca Juga : Masalah dan Sumber Daya: Kunci Pemberdayaan Masyarakat

Tentu semua insan sepak bola Indonesia berharap pada KLB ini akan terpilih anak bangsa yang benar-benar memiliki niat tulus untuk memperbaiki sepak bola Indonesia dan semoga momen KLB ini bisa menjadi titik balik prestasi sepak bola Indonesia kedepannya

Author

Bagikan:

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *