Mudik Lebaran di Era New Normal Life

Mudik atau kembali ke kampung halaman adalah salah satu aktivitas mobilitas khas Indonesia yang biasanya dilakukan sekali setahun menjelang hari raya umat Islam, Idul Fitri. Tujuannya supaya bisa berkumpul dengan keluarga besar dan bersilaturahmi terutama dengan orang tua dan sanak saudara.  Semua moda transportasi merasakan puncak kesibukan seminggu sebelum dan sesudah hari raya yang biasa disebut juga dengan istilah Lebaran. Seiring dengan perkembangan jaman, mudik kemudian bertransformasi menjadi mobilisasi yang tidak hanya bertujuan ke kampung halaman, namun juga ke daerah-daerah tujuan wisata.

Berdasarkan data tahun 2019 lalu dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub), terdapat tiga moda transportasi yang menjadi pilihan ketika mudik, yaitu transportasi udara, transportasi laut dan transportasi darat (kereta api). Di  antara ketiganya, kereta api lah yang menjadi pilihan utama para pemudik dengan jumlah mencapai 35,1 juta orang. Pilihan kedua adalah angkutan udara yang mencapai 7 juta orang, dan terakhir adalah transportasi laut dengan penumpang mencapai 2,4 juta orang. Jika ditotalkan, maka pada tahun 2019 terdapat sebanyak 44, 5 juta orang bergerak dari satu titik ke titik lain dalam masa mudik tersebut.

Bagaimana dengan tahun 2020 ini? Paruh pertama tahun 2020 telah dihabiskan dengan upaya memahami sekaligus memerangi Virus Corona yang menjadi penyebab penyakit COVID-19 dengan gejala awal dan penyebaran yang menyerupai penyakit ‘Flu’. Layaknya “Flu”, maka tindakan awal untuk menekan angka penyebaran virus ini adalah dengan menggunakan masker dan menjaga jarak. Bulan Maret 2020 WHO mengeluarkan pernyataan bahwa “Flu” ini menjadi wabah dunia atau pandemi karena dalam waktu singkat telah menyebar ke berbagai negara. Tercatat 188 ribu kasus positif COVID-19 tersebar pada 114 negara. Social Distancing atau menjaga jarak dan menghindari ker­umunan menjadi satu hal yang tidak bisa ditawar dan menjadi suatu keharusan yang perlu dipatuhi dan lakukan.

Kebijakan Social Distancing dan Kerja–Sekolah–Ibadah dari Rumah adalah kebijakan yang langsung diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia dengan tagar #dirumahaja. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kemudian menyusul dan paling akhir adalah kebijakan larangan mudik dengan tagar #janganmudik agar tradisi mudik ini dikesampingkan dulu. Jika ingin melakukan komunikasi tatap muka, Pemerintah menghimbau agar melakukannya dengan komunikasi virtual menggunakan metode daring. Gaya komunikasi seperti ini kemudian banyak disebut sebagai bagian dari “New Normal Life”.

Namun tampaknya ‘New Normal Life’ tersebut mendapatkan tantangan saat diterapkan pada masa mudik Lebaran tahun ini, di saat kurva pandemi masih belum menurun. Seminggu menjelang Hari Raya Idul Fitri 1441 H/2020 M, publik dihebohkan dengan berita terkait dengan antrean panjang calon penumpang di Bandar Udara Soekarno Hatta tanpa menerapkan prinsip Social Distancing dan antrean panjang mobil pribadi di jalan tol menuju dan ke luar kota (Jakarta). Media banyak memberitakan tentang berbagai kendaraan yang  diminta untuk kembali ke tujuan awal karena tidak membawa dokumen lengkap dan memiliki tujuan perjalanan yang tidak sesuai dengan kebijakan.  Rupanya masyarakat masih lebih memilih untuk melakukan mudik dan komunikasi langsung, walau ada risiko berbahaya mengintai.

Sesuai dengan tren penyebaran COVID-19 yang meningkat bila ada mobilisasi dan kerumunan orang, tidak heran jika angka kasus positif COVID-19 melonjak naik. Data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 menyebutkan, pada tanggal 21 Mei 2020 terjadi kenaikan sebanyak 973 kasus positif COVID-19. Sehari sebelumnya kenaikan kasus baru ada pada angka 693 kasus. Angka penambahan kemudian cenderung menurun. Tren menurun ini tentunya perlu dipertahankan agar angka penambahan kasus dapat ditekan dan sampai di titik yang memungkinkan untuk dapat melakukan aktivitas seperti semula.

Arus balik mudik juga perlu untuk diwaspadai. Bukan hanya dari sisi ‘penambahan orang’ dari arus balik, namun dari sisi ‘penambahan angka kasus positif COVID-19’ yang potensial terbawa oleh para pelaku ‘arus balik’. Mengingat mobilisasi selama masa arus balik juga melewati beberapa batas administrasi wilayah, maka logis bila langkah kewaspadaan harus menjadi kerja yang dilakukan bersama antar pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait.

Kebutuhan kerjasama untuk mewaspadai arus balik dan kenaikan angka kasus COVID-19 ini bagaikan ajang praktik ke sekian kali bagi pihak terkait untuk dapat duduk bersama menyusun kebijakan dan program demi kepentingan orang banyak tanpa dibebani oleh kepentingan-kepentingan lain. WHO dalam Forum Pembangunan Berkelanjutan Asia-Pasifik (APFSD) 2020 menyebutkan bahwa COVID-19 membuat semua pihak bersungguh-sungguh menyusun kebijakan bagi kepentingan orang banyak (people-centered policy). Hal ini sesuai dengan semangat dari Agenda Global 2030 atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadikan kerjasama sebagai tulang punggung dari pencapaian ke-17 tujuannya.

Kerjasama yang baik tentunya membutuhkan partisipasi seluruh pihak, salah satunya adalah publik atau masyarakat. Partisipasi publik dalam kerjasama antar pemerintah daerah dan pihak terkait dalam menghadapi kenaikan angka positif COVID-19 yang berasal dari arus  balik mudik dapat dimulai dengan menggunakan Spektrum Partisipasi Publik dari IAP2. Spektrum tersebut terdiri dari  to inform (Menginformasikan), to consult (Mengonsultasikan), to involve (Keterlibatan), to collaborate (Berkolaborasi) dan to empower (Memberdayakan). Sejauh mana publik sudah terlibat atau hingga titik mana publik dapat terlibat, dapat terlihat dari tahapan dan fokus dari partisipasi yang tersebut dalam spektrum ini.

Kita pasti sepakat bahwa situasi pandemi ini telah membuka pintu semua pihak untuk bekerjasama menurunkan angka penyebaran dan kasus positif COVID-19. Dengan mendekatnya arus balik diiringi dengan mulai maraknya New Normal Life, sepertinya tidak berlebihan bila kita juga menambahkan ‘kerjasama’ dalam daftar New Normal Life yang perlu dipraktikkan dalam keseharian, untuk melengkapi New Normal Life yang sudah ada. Dengan kerjasama semua pihak, arus balik mudik diharapkan sebisa mungkin tidak menambah “angka” yang sudah ada. ***IS

Sumber:

  1. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/03/18/pemerintah-siapkan-mudik-2020-ini-jumlah-pemudik-tahun-lalu
  2. https://nationalgeographic.grid.id/read/132059249/who-tetapkan-covid-19-sebagai-pandemi-global-apa-maksudnya
  3. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51850113
  4. Foto: https://www.freepik.com/free-vector/flat-happy-family-traveling-background_4677313.htm#page=1&query=family%20vacation&position=33
Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.