Partisipasi Pemilu Terancam Politik Transaksional

PemiluPelaksanaan pemilihan legislatif (pileg) tinggal menghitung hari, yakni 9 April 2014. Banyak pihak khawatir bahwa pileg tahun 2014 ini tidak akan menghasilkan legislator-legislator yang berkualitas untuk tingkat pusat dan daerah. Hal ini terlihat dari daftar calon sementara yang dipublikasikan di website KPU dimana caleg-caleg yang dimunculkan oleh berbagai partai politik umumnya muka lama atau wajah baru yang kredibilitasnya diragukan masyarakat. Kondisi ini bisa meningkatkan apatisme masyarakat terhadap pemilu, sehingga partisipasi mereka akan semakin rendah.

Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Prof. Hamdi Muluk dalam sebuah forum diskusi beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa menurunnya partisipasi publik dalam pemilu merupakan dampak dari kekecewaan masyarakat terhadap kualitas legislator hasil pemilu sebelumnya. Kalaupun kemungkinan partisipasi politik dalam pemilu meningkat, tambah Hamdi, maka hal ini lebih disebabkan adanya politik transaksional yang dilakukan oleh berbagai caleg. “Kita tahu sendiri bahwa politik uang masih dilakukan sebagian besar caleg dalam berbagai bentuk”, jelas Hamdi.

Melihat data yang ada, partisipasi politik yang paling tinggi dalam pemilu sejak era reformasi adalah pemilu tahun 1999 yang mencapai 92,74%. Pemilu tahun 2004 menurun menjadi 84,07% dan tahun 2009 turun lagi menjadi 71%. Berdasarkan data-data ini, pengamat politik Dendy Susianto mengatakan bahwa tingginya partisipasi masyarakat dalam pemilu 1999 disebabkan adanya harapan masyarakat yang sangat tinggi akan perubahan dan perbaikan kehidupan mereka setelah jatuhnya Suharto tahun 1998. “High expectation dari masyarakat terlihat jelas”, tegas Dendy.

Namun, Dendy memperkirakan bahwa pemilu 2014 akan menurun partisipasi masyarakat. Hal ini terkait dengan meningkatnya apatisme masyarakat terhadap hasil pemilu sebelumnya yang tidak banyak membawa perubahan. Untuk pemilu presiden, menurut Dendy, partisipasi masyarakat akan meningkat jika muncul calon-calon presiden populis dan diharapkan masyarakat seperti Jokowi. “Kalau Jokowi dicapreskan oleh PDIP, saya yakin partisipasi masyarakat akan meningkat tinggi”, kata Dendy. (Admin)

Author

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *