Day: November 20, 2023

IAP2 Indonesia dalam kegiatan Safe & Sound Cities Global Convening 2023

IAP2 Indonesia – International Association for Public Participation (IAP2) Indonesia turut serta dalam acara Global Convening 2023 yang diselenggarakan oleh Safe & Sound Cities (S2Cities) pada Jumat, 27 Oktober 2023 di Bandung, Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi bagian dari serangkaian acara yang dihadiri oleh beragam pemangku kepentingan, seperti pemerintah daerah, lembaga, sektor swasta, para pelaku masyarakat, dan generasi muda. Pada acara tersebut, pemangku kepentingan berkumpul untuk saling berbagi pengetahuan, membangun jaringan kerja sama, dan membuka jalan menuju tindakan yang transformatif dalam menciptakan kota yang aman dan nyaman untuk generasi muda di lingkungan perkotaan. 

Bandung dan S2Cities

Kota Bandung, Jawa Barat, berkesempatan menjadi tuan rumah acara S2Cities yang diselenggarakan di Indonesia. Dalam pelaksanaannya S2Cities bekerjasama dengan World Resources Institute (WRI) Indonesia, International Council for Local Environmental Initiatives (ICLEI) Indonesia, Ruang Ketiga, dan tentunya pemerintah Kota Bandung. Selain itu, peserta acara ini cukup beragam karena dihadiri oleh perwakilan pemangku kepentingan seperti Dinas Perhubungan Kota Bandung (Pemerintah), Duta Bahasa (Pemerintah), Karang Taruna Taman Sari (NGO), Call to Action (NGO), The Local Enablers/TLE (Bisnis), Bank Sampah Bersinar (Bisnis), Lakuna Kota (Komunitas Anak Muda), Green Generation (Komunitas Anak Muda), Teens Go Green (Komunitas Anak Muda), dan Perwakilan Mahasiswa SAPPK ITB (Akademisi).

Baca Juga : Placemaking: Ketika Manusia dan Kota Saling Menghidupkan

Rangkaian Kegiatan S2Cities

Foto Peserta S2Cities

Rangkaian acara S2Cities dimulai dengan mengunjungi taman-taman yang ada di Bandung. Taman pertama yang dikunjungi adalah Taman Lansia yang diresmikan pada tahun 2014. Taman Lansia diberi nama demikian karena dahulu sering dikunjungi oleh kalangan lanjut usia (lansia); walaupun saat ini mayoritas pengunjungnya merupakan keluarga muda bersama anak-anaknya yang ingin melakukan rekreasi di ruang terbuka hijau. Taman lansia ini memiliki ikon yang unik yaitu sebuah patung Tyrannosaurus Rex (T-rex) setinggi 2 meter yang kehadirannya menarik minat anak-anak untuk mengunjungi taman ini. Taman Superhero juga merupakan salah satu taman yang dikunjungi di tur yang menggunakan Bandung Tour On Bus (BANDROS). Taman Superhero – seperti namanya – memiliki beberapa patung superhero yang menarik perhatian anak anak, sehingga kondisi taman ini sangatlah “hidup” dan dipenuhi oleh pengunjung dan pedagang kaki lima.

Destinasi selanjutnya adalah Taman Kiara Artha Park yang mengusung konsep urban modern karena dilengkapi dengan pertunjukan air mancur, cafe outdoor, tempat foto, dan fasilitas rekreasi seperti sewa kendaraan listrik. Pengunjung yang datang ke taman ini dikenakan biaya masuk sebesar RP 15.000,- untuk memasuki area utama. Taman ini dikelola oleh pihak swasta dan memiliki kondisi yang sangat terawat dan nyaman, meskipun pepohonannya tidak serindang taman-taman sebelumnya. Destinasi terakhir yang dikunjungi di tur ini adalah Alun-alun Bandung yang telah direvitalisasi sehingga memiliki fasilitas yang beragam. Di dalam area taman ini, terdapat perpustakaan kota yang dapat dikunjungi oleh pengunjung secara gratis mulai pukul 8 pagi hingga 5 sore. Di kawasan Alun-alun Kota Bandung juga terdapat Masjid Agung Kota Bandung yang menarik untuk dikunjungi sebagai tempat peribadatan masyarakat yang beragama muslim. Kunjungan ke beberapa taman tersebut dimaksudkan agar peserta mendapatkan bukti empiris mengenai kondisi Kota Bandung untuk nantinya didiskusikan saat sesi Diskusi Kelompok Terfokus (FGD).

Foto Kegiatan FGD

Acara S2Cities dilanjutkan dengan sesi FGD di Hotel Amaroosa dengan dua topik utama “Why Safe and Sound Cities are Urgent?” dan “Problems with Existing Public Spaces and How Can We Fix Them?”. Pada sesi FGD ini, peserta dibagi menjadi 8 kelompok FGD berisikan sekitar 4 – 6 orang untuk mendiskusikan topik tersebut. Pada sesi pertama, peserta digali pengetahuannya tentang kriteria kota yang “aman dan nyaman”, seberapa penting safe and sound cities, dan alasan mengapa kita perlu mewujudkan safe and sound cities. Pendapat setiap anggota grup dituliskan menggunakan post-it dan hasil diskusinya dikumpulkan untuk di dokumentasi. Pada sesi kedua, peserta diajak untuk berdiskusi mengenai permasalahan yang dapat ditemukan di perkotaan, mengapa permasalahan tersebut bisa terjadi, dan bagaimana solusi permasalahan tersebut. Pada akhir sesi diskusi kedua ini, solusi yang ditawarkan setiap kelompok sangatlah menarik karena berasal dari pemangku kepentingan yang memenuhi aspek ABCGM. Salah satu solusi yang ditawarkan oleh IAP2 Indonesia untuk mewujudkan safe and sound cities adalah partisipasi multipihak pemangku kepentingan.

Baca Juga : Society 5.0: Revolusi Industri Berbasis Inovasi

Hal yang menarik dari kegiatan S2Cities ini adalah penggunaan virtual reality (VR) dimana peserta dapat bergiliran menggunakan perangkat VR untuk masuk kedalam dunia virtual. Di dalam dunia virtual tersebut, peserta dapat merasakan mendengarkan diskusi internasional yang dihadiri oleh pembicara dan peserta dari belahan dunia lainnya. Selain itu, peserta dapat berinteraksi dengan peserta dari negara lain di dunia virtual tersebut seperti berdiskusi, bertukar kontak, dan memberikan reaksi antar peserta. Secara keseluruhan, acara S2 Cities ini berhasil membangkitkan kesadaran dari berbagai pihak untuk mewujudkan kota yang aman dan nyaman, tapi juga cukup menarik untuk dihadiri oleh anak muda.

Placemaking: Ketika Manusia dan Kota Saling Menghidupkan

IAP2 Indonesia – Dunia sedang mengalami tantangan urbanisasi, dimana masyarakat lebih banyak yang memilih untuk berpindah dari desa ke kota. Menurut data yang dikeluarkan oleh World Bank, pada tahun 2050 lebih dari 70 persen masyarakat dunia akan hidup di kota sedangkan pada tahun 2040 lebih dari 60 persen masyarakat Indonesia akan pindah ke kota. Namun, apakah kota sudah mampu menampung dan mendukung aktivitas masyarakat yang ada di dalamnya?

Kebutuhan Manusia terhadap Ruang Publik

Masyarakat perkotaan sebagai pelaku utama kegiatan di dalam sebuah kota, memiliki kegiatan sehari-hari dalam rangka pemenuhan kebutuhan fundamental setiap harinya. Menurut Teori Hirarki kebutuhan (Maslow, 1954, p.236) manusia memiliki lima jenis kebutuhan dasar, yaitu fisiologis, keamanan, sosial, apresiasi, dan aktualisasi diri. Kota – secara fisik dan infrastruktur – harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang ada di dalamnya, sesuai dengan skala kota tersebut.

Pemenuhan kebutuhan fisiologis terjadi dengan tersedianya permukiman, sedangkan kebutuhan akan keamanan tercukupi melalui adanya fasilitas pemerintahan dan keamanan. Sementara kebutuhan akan aspek sosial dan penghargaan terwujud melalui ketersediaan ruang publik, dan pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri termasuk penyediaan sarana pendidikan, hiburan, dan olahraga. Dari berbagai kebutuhan dan fasilitas yang dibutuhkan di dalam suatu kota, fasilitas komunal yang harus ada adalah ruang publik.

Menurut Danisworo (2004), ruang publik merujuk pada area yang digunakan oleh penduduk suatu daerah. Melalui ruang terbuka hijau, masyarakat memiliki akses bersama tanpa dikenai biaya untuk menggunakan ruang tersebut. Fasilitas ruang publik, yang utamanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sosial warga kota, bisa berwujud dalam bentuk ruang terbuka ataupun bangunan. Contoh dari ruang publik yang berwujud sebagai ruang terbuka termasuk taman kota, boulevard, plaza, waterfront, dan alun-alun. Adapun fasilitas ruang publik dalam bentuk bangunan meliputi gedung konvensi, atrium, dan civic center (pusat kegiatan masyarakat). Selain itu, terdapat pula fasilitas yang memenuhi kebutuhan sosial, seperti arena olahraga, perpustakaan umum, dan gedung pertunjukan. 

 

Placemaking sebagai salah satu cara mendesain Ruang Publik

Placemaking merupakan proses penciptaan tempat yang berkualitas untuk berbagai aktivitas di dalamnya, sebagaimana diungkapkan oleh Wyckoff, M.A (2014). Lebih dari sekadar sebuah konsep, placemaking adalah sebuah filosofi yang mengusung gagasan bahwa kualitas ruang harus sejalan dengan kualitas manusia dalam perancangan dan evaluasi ruang publik yang sering dianggap kurang optimal. Tujuan utama dari placemaking adalah membantu dalam menciptakan rasa kepemilikan komunitas terhadap suatu proyek, memberikan manfaat baik bagi sponsor maupun komunitas yang terlibat, serta menciptakan tempat yang tidak hanya nyaman, tetapi juga memiliki rasa komunitas yang kuat. Dengan penggabungan latar belakang, kegiatan, dan fungsi yang bersama-sama menghasilkan lebih dari sekadar tempat fisik.

Keberadaan placemaking diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk secara bersama-sama menata ulang dan menghidupkan kembali ruang publik yang ada. Menurut Wyckoff, terdapat 10 elemen kunci yang harus diperhatikan agar dapat menciptakan tempat berkualitas, antara lain: beragamnya penggunaan ruang, keberadaan ruang publik yang berkualitas, ketersediaan teknologi, pilihan transportasi yang beragam, opsi perumahan yang beragam, pelestarian struktur bersejarah, keberadaan warisan komunitas, seni, budaya, dan kreativitas, rekreasi, serta ruang hijau.

Tempat yang berkualitas akan memberikan rasa aman, keterhubungan, keterbukaan, pengalaman otentik, kemudahan akses, kenyamanan, ketenangan, kemudahan bersosialisasi, serta mendukung keterlibatan masyarakat dalam ruang publik. Ini semua menjadi landasan bagi penciptaan lingkungan yang berdaya tarik bagi individu maupun komunitas yang menggunakannya.

Baca Juga :  Darurat Partisipasi Publik yang Berkualitas di Indonesia

Bagaimana Placemaking berjalan?

Sumber foto: thehighline

Salah satu contoh nyata dari placemaking yang menunjukkan interaksi saling menghidupkan antara manusia dan kota adalah High Line di New York City. High Line merupakan sebuah jalur hijau yang dibangun di atas jalur kereta api mati yang sudah tidak aktif. Proyek ini melibatkan perubahan kreatif pada infrastruktur yang tidak terpakai menjadi taman perkotaan yang menarik.

Dengan adanya High Line, masyarakat dapat menikmati ruang terbuka hijau yang menarik dan terintegrasi di tengah-tengah kepadatan perkotaan. Ruang terbuka hijau ini tidak hanya memberikan tempat untuk rekreasi dan relaksasi, tetapi juga menjadi pusat aktivitas budaya dan komunitas. Berbagai kegiatan seni, pertunjukan, pameran, dan acara komunitas diadakan di sini, menghidupkan ruang publik yang dulunya terbengkalai.

Pembangunan High Line telah mendorong revitalisasi lingkungan sekitarnya. Bangunan-bangunan baru, restoran, dan usaha kecil tumbuh di sekitar area tersebut, menciptakan ekosistem kota yang hidup dan beragam. Selain memberikan ruang bagi interaksi sosial, High Line adalah contoh yang bagus bagaimana transformasi kreatif sebuah area dapat membangkitkan semangat komunitas dan memperindah kota secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan betapa manusia dan kota saling berinteraksi dan memberikan manfaat satu sama lain melalui praktik placemaking yang inovatif.

 

M Block Space

Sumber foto: M Bloc

M Block Space lahir dari sebuah kolaborasi multipihak antara Peruri (Sebagai pemilik bangunan) dan beberapa elemen masyarakat seperti Arsitek (Yacobus Gatot S), Aktivis jenama lokal (Handoko Hendroyono) untuk berkolaborasi. Konsep digunakan dalam restorasi dan revitalisasi kawasan ini adalah adaptive reuse (memanfaatkan warisan masa lalu untuk hal dan fungsi yang baru) sebagai pemanfaatan aset sekaligus penerapan unsur bisnis. Kini M Block Space menjadi tempat bagi masyarakat untuk berkegiatan.

Baca Juga : Can Indonesian democracy keep up with urbanization? – Academia

Pemanfaatan Ruang Publik di Kota Bandung

Sumber foto: Tampang.com

Dilansir dari laman Humas Pemkot Bandung, menurut data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung dalam Buku Bandung dalam Angka Tahun 2022, Untuk taman saja terdapat 759 taman di Kota Bandung dengan total luas 2.170.134,11 meter persegi.

Melalui kegiatan S2Cities yang diikuti oleh IAP2 Indonesia pada tanggal 27 Oktober 2023, IAP2 Indonesia mengunjungi salah satu taman di Bandung, yaitu Taman Lansia. Di taman ini banyak kegiatan masyarakat seperti kegiatan senam bagi para lansia sampai kunjungan sekolah untuk sekedar menikmati pepohonan, udara segar dan beragam fasilitas lainnya.

 

Partisipasi Publik dalam Placemaking

Hal yang ditekankan dalam placemaking adalah masyarakat sebagai penggunanya. Hal ini membuat partisipasi publik menjadi penting dalam proses perancangannya. Pelibatan masyarakat dalam proses perancangan bertujuan agar suatu ruang publik dapat menunjang kebutuhan masyarakat. Masyarakat seringkali dilibatkan dalam proses survei yang berbentuk diskusi terfokus maupun pengisian kuesioner. Namun sebenarnya partisipasi publik bermakna lebih dari itu–masyarakat terlibat dalam mayoritas proses perancangannya.