Tag: #PNS

PNS: Kelak Pekerjaan Ini Tidak Akan Ada Lagi?

IAP2 Indonesia – Belakangan ini isu generasi muda, lapangan pekerjaan yang tersedia hingga kecerdasan buatan kerap menjadi buah bibir di masyarakat. Salah satu isu yang disorot adalah pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Ini bukan barang yang sulit. Barang yang mudah dan memudahkan kita untuk memutuskan sebagai pimpinan di daerah maupun nasional, nanti dengan big data yang kita miliki, jaringan yang kita miliki, memutuskan akan cepat sekali kalau kita pakai AI. Tidak bertele-tele, tidak muter-muter,” ujar Presiden Joko Widodo dalam kegiatan pembukaan Musrenbangnas RPJMN 2020-2024 pada Desember 2019 lalu.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Kolaborasi.com pada 10 Januari hingga 9 Februari 2023 menunjukkan, selain karena potensi kecerdasan buatan yang lebih menggiurkan, tantangan bagi pekerjaan PNS adalah mayoritas anak muda Indonesia saat ini lebih menginginkan menjadi seorang pengusaha atau pebisnis dibandingkan menekuni pekerjaan tersebut.

Survei Kolaborasi ini dilakukan kepada 400 responden usia produktif 20-39 tahun di tujuh kota besar, yakni Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, Makassar dan Yogyakarta. Sebanyak 58,3 persen responden memilih untuk menjadi pengusaha. Selanjutnya, sebanyak 16,3 persen responden memilih menjadi investor. Sementara itu, ada 13,5 persen responden memilih menjadi PNS dan pekerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sebanyak 7,3 persen responden memilih menjadi guru atau dosen dan sebanyak 4,8 persen responden memilih profesi di sektor swasta.

Baca Juga : “No Challenge? No Change!,” Take Chances to Make Changes!

Masih dalam hasil survei yang sama, untuk pengembangan diri, mayoritas responden menginginkan adanya asupan informasi dan literasi dalam hal berbisnis sebanyak 36,3 persen, teknologi sebanyak 24,0 persen, investasi sekitar 20,4 persen, pemasaran digital mencapai 14,0 persen dan desain grafis berkisar 5,3 persen.

Menurut Manajer Riset Kolaborasi.com Sahli Hamzah, pekerjaan rumah bersama saat ini adalah bagaimana melakukan pemerataan akses informasi, literasi, serta kesempatan berusaha dan berkarya kepada anak muda hingga ke daerah karena mereka sudah menjadi bagian dari bonus demografi. Selain pemilihan cara memperoleh penghasilan dan penghidupan, hasil survei juga menunjukan ada kesadaran responden yang merupakan anak muda mengenai pentingnya peningkatan kemampuan baik hard skill maupun soft skill demi menunjang pilihannya sebagai pebisnis dalam berkompetisi.

Si “Gen z” dan Bonus Demografi

 

Sumber: Badan Pusat Statistik

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia 70,72 persen merupakan penduduk usia produktif, yaitu kalangan Generasi Milenial 25,87% atau 69,38 juta jiwa dan Generasi Z 27,94 persen atau 75,49 juta jiwa. Ini artinya, keberadaan Gen Z memegang peranan penting dan memberikan pengaruh pada perkembangan Indonesia saat ini dan nanti.

Baca Juga : Kepemimpinan Indonesia dalam Transformasi Ekonomi Berkelanjutan

Sementara itu, dilansir dari penelitian yang dilakukan oleh Deloitte Consulting, ketika generasi sebelum Gen Z sangat mementingkan gaji dalam bekerja, jika diberikan pilihan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi namun pekerjaannya membosankan, Generasi Z cenderung akan memprioritaskan pekerjaan yang tidak membosankan.

Untuk memenangkan hati para Generasi Z, sebuah lembaga atau perusahaan untuk melakukan transformasi, lebih memperbanyak aksi nyata dibandingkan sebuah narasi, dengan komitmen isu seperti masalah sosial yang lebih luas, keberlanjutan, masalah iklim dan kelaparan.

Kecerdasan buatan, peluang atau tantangan?

Kecerdasan buatan merupakan sebuah perkembangan teknologi yang memberikan peluang dan tantangan di dunia kerja. Kecerdasan buatan dapat digunakan untuk memproses data dan melakukan tugas-tugas yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh manusia. Namun, banyak yang merasa khawatir bahwa kecerdasan buatan akan menggantikan pekerjaan manusia. Seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan, banyak pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh manusia, kini bisa dilakukan oleh mesin atau program komputer. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran, apakah kecerdasan buatan akan mengambil alih pekerjaan manusia secara keseluruhan atau tidak.

Dalam konteks dunia kerja, kecerdasan buatan membawa banyak peluang bagi pengembangan industri, perusahaan maupun pemerintahan. Kecerdasan buatan belakangan ini sudah marak digunakan di berbagai kalangan karena mudah dan tanpa biaya untuk mengaksesnya. Memang kebanyakan dari kecerdasan buatan yang tanpa biaya ini bentuknya adalah aplikasi dan masih terbatas kemampuan eksplorasinya, namun dengan keterbatasan itu saja, kita sebagai pengguna sudah sangat terbantu akan kehadiran mereka. Seperti contohnya “Chat GPT” yang dapat berkomunikasi melalui chat box tentang segala hal dengan para penggunanya. Kecerdasan buatan “Chat GPT” akan membalas apapun yang pengguna tanyakan kepadanya, namun pengetahuan “Chat GPT” masih terbatas sampai tahun 2021 saja.

Baca Juga : Kolaborasi AMF dan SERD dalam Peningkatan Mata Pencaharian Petani Kopi di Sumatra Selatan

Beragam platform AI

Sumber : https://blogs.microsoft.com/

 

Selanjutnya ada kecerdasan buatan milik Microsoft, diberi nama “365 Copilot” yang berbasis chat seperti Chat GPT, Microsoft 365 Copilot juga akan menjawab apa yang penggunanya minta atau perintahkan. Sistem data 365 Copilot ini adalah grounding, jadi semua data pertanyaan serta jawaban dari interaksi dengan pengguna akan dimasukkan ke Microsoft Graph. 365 Copilot terintegrasi dengan Microsoft 365 yang secara otomatis menerapkan kebijakan keamanan dan privasi data kepada para penggunanya seperti autentikasi dua faktor, perlindungan privasi, dan penyesuaian aturan sehingga layanan kecerdasan buatan milik Microsoft ini terbilang layanan yang aman.

Dalam ranah yang lebih profesional, menurut survei yang dilakukan oleh Klynveld Peat Marwick Goerdeler (KPMG) di tahun 2021, 61% para pembuat kebijakan pemerintah merasakan manfaat dalam menggunakan Kecerdasan Buatan terhadap fungsi pelayanan yang dilakukan. Teknologi kecerdasan buatan sudah diterapkan dalam beberapa sistem pemerintahan dunia, seperti:

NegaraInstitusiAplikasiHasil
AustraliaKantor PajakChatbot/Asisten Virtual– Memiliki lebih dari 3 juta percakapan

– Menyelesaikan 88 persen  pertanyaan pada kontak pertama

Departemen Layanan KemanusiaanChatbot/Asisten Virtual– Dapat menjawab pertanyaan general tentang keluarga, pencari kerja, pembayaran sekolah dan informasi terkait lainnya
KanadaKota SurreyChatbot/Asisten Virtual– Membantu penduduk dalam mendapatkan jawaban terkait pertanyaan yang berkaitan dengan infrastruktur kota
Amerika SerikatAtlanta Fire Rescue Department (AFRD)Analisis Prediktif– Secara akurat memprediksi 73 persen kebakaran di gedung
Departemen EnergiPrakiraan Cuaca– Prakiraan berbasis pembelajaran mesin lebih akurat  persen dibandingkan dengan menggunakan pendekatan konvensional
Departemen Layanan Sosial, Kota New YorkMachine Vision– Digitalisasi dokumen tercapai
Kota PittsburghPengoptimalan lalu lintas otomatis– Scalable Urban Traffic Control (SURTrAC) terkoneksi dengan sembilan sinyal lalu lintas di tiga jalan utama Pittsburgh (Penn Circle, Penn Avenue, and Highland Avenue)

Sumber: https://research.aimultiple.com/ai-government/

Manusia dan Inovasi

Jika diibaratkan kecerdasan buatan itu seperti pisau yang dapat menjadi ancaman atau peluang kebermanfaatan yang lebih luas. Di Indonesia pemerataan akses informasi, literasi, serta kesempatan berusaha dan berkarya kepada anak muda hingga ke daerah memang selalu menjadi masalah utama. Akan tetapi. kita harus terus mengembangkan keterampilan dan kemampuan dalam menghadapi perubahan teknologi khususnya kecerdasan buatan, serta memanfaatkan potensi teknologi dan kecerdasan buatan untuk menciptakan solusi yang lebih baik bagi masalah sosial, lingkungan dan pemerintahan.

Dalam hal ini, manusia sebagai kreator dan pengembang teknologi tetap sangat penting untuk menghadapi tantangan masa depan. Indonesia patut berbangga karena jumlah usia produktif, seperti Generasi Z sangatlah banyak. Dengan berbagai macam peluang dan potensi tersebut sudah jadi kewajiban bagi kita untuk mempersiapkan diri dengan memperoleh keterampilan baru dan mengembangkan kemampuan yang berbeda dan menghasilkan dampak yang lebih efisien dan luas.