Bagaimana Taman Kota Menjadi Wadah Partisipasi Publik

IAP2 Indonesia – Taman kota berfungsi sebagai ruang terbuka hijau (RTH) yang tidak hanya menyediakan oksigen dan ruang rekreasi, tetapi juga menjadi wadah utama partisipasi publik dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Di Indonesia, khususnya kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, taman kota mendorong keterlibatan masyarakat melalui kegiatan seperti penanaman pohon, design charrette, diskusi publik, hingga community garden. Artikel ini membahas mekanisme, manfaat, serta tantangan partisipasi publik di taman kota secara faktual.

Pengertian dan Peran Taman Kota

Partisipasi Publik Taman Kota

Sumber: RRI

Taman kota merupakan RTH publik yang secara nasional ditargetkan mencapai 30% dari luas wilayah kota, dengan pembagian 20% RTH publik dan 10% RTH privat, sesuai Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Di Jakarta, realisasi RTH pada 2025 tercatat sekitar 5,6%, meningkat dari 5,36% tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan masih besarnya kesenjangan terhadap target nasional, sehingga partisipasi publik menjadi elemen krusial untuk percepatan pencapaian RTH hingga 2045.

Secara ekologis, taman kota berperan dalam mengurangi urban heat island, menyerap air hujan, dan meningkatkan kualitas udara. Dari sisi sosial, taman berfungsi sebagai ruang interaksi lintas kelompok. Contohnya, Taman Maju Bersama di Jakarta dirancang sebagai ruang inklusif yang mendorong pertemuan lintas kelas sosial dan usia. Partisipasi publik mengubah taman dari sekadar ruang hijau pasif menjadi aset komunal yang hidup dan berkelanjutan.

Bentuk Partisipasi Publik di Taman Kota

Sumber: Kumparan

Partisipasi masyarakat di taman kota hadir dalam berbagai bentuk. Di RTH Gajah Wong Educational Park, Yogyakarta, masyarakat terlibat langsung dalam pengelolaan dan aktivitas edukatif berbasis lingkungan. Sementara itu, di Taman Kopo, Bandung, pendekatan design charrette melibatkan LSM seperti ASF Indonesia dan Karang Taruna untuk merancang ruang publik yang ramah anak, lansia, dan kelompok rentan.

Contoh lain dapat dilihat di Jakarta melalui Taman Literasi Martha Christina Tiahahu (Blok M). Taman ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau, tetapi juga sebagai ruang diskusi, membaca, dan kegiatan budaya yang melibatkan komunitas literasi, pelajar, serta warga sekitar. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana taman kota dapat menjadi medium partisipasi publik berbasis pengetahuan dan kreativitas.

Selain itu, Tebet Eco Park menjadi contoh taman tematik yang mengedepankan edukasi lingkungan dan keterlibatan warga. Program relawan, tur edukasi ekosistem, serta aktivitas komunitas mendorong kesadaran ekologis sekaligus rasa memiliki terhadap ruang publik.

Community garden juga berkembang di berbagai kota, seperti di Surabaya Selatan pada lahan tidur, di mana warga mengelola tanaman pangan dan hortikultura untuk ketahanan pangan lokal. Di Jakarta, Dinas Pertamanan memanfaatkan Focus Group Discussion (FGD) sejak tahap perencanaan untuk pembangunan 21 RTH baru pada 2025, menjadikan warga sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan.

Contoh Sukses di Indonesia

Partisipasi Publik Taman Kota

Sumber: ANTARA News

Beberapa kasus menunjukkan keberhasilan nyata partisipasi publik. Taman Dukuh Atas, Jakarta, berkembang menjadi ruang interaksi malam hari, pusat aktivitas skateboard, dan ekspresi seni urban, mendukung konsep third place di perkotaan.

Contoh lain di Jakarta adalah kawasan taman kota Gelora Bung Karno (GBK) yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau sekaligus ruang publik aktif. Selain menjadi lokasi olahraga dan rekreasi, kawasan GBK juga mendorong partisipasi publik melalui kegiatan komunitas seperti car free day, kelas olahraga terbuka, kampanye lingkungan, hingga aksi sosial dan kebudayaan. Pengelolaan GBK yang relatif terbuka memungkinkan kolaborasi antara pemerintah, komunitas olahraga, komunitas kreatif, dan masyarakat umum.

Di Surabaya, community garden di lahan idle dimanfaatkan sebagai sarana PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), yaitu program pengabdian dan inovasi mahasiswa yang mendorong pembelajaran berbasis praktik, khususnya di bidang urban farming dan edukasi lingkungan bagi siswa.

Transformasi Taman Kopo melalui keterlibatan anak-anak dan kelompok PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) menghasilkan program pemeliharaan taman yang lebih terarah. Sementara di Ciamis, desain taman ramah lingkungan mengajak warga terlibat dalam penanaman dan pengawasan. Seluruh contoh ini menunjukkan bahwa partisipasi publik meningkatkan kualitas taman sekaligus kualitas hidup masyarakat.

Manfaat Partisipasi bagi Masyarakat dan Lingkungan

Partisipasi Publik Taman Kota

Sumber: closeup.org

Partisipasi publik di taman kota memberikan manfaat multidimensi. Dari sisi lingkungan, terjadi peningkatan kualitas udara, pengurangan risiko banjir, serta konservasi keanekaragaman hayati skala lokal. Dari sisi sosial, taman memperkuat kohesi sosial dan menjadi ruang aman untuk berekspresi.

Secara ekonomi, taman kota mendorong ekonomi kreatif melalui pasar seni, pertunjukan komunitas, dan kegiatan UMKM. Bagi kelompok muda, keterlibatan ini sejalan dengan SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan dan Inklusif. Kolaborasi publik–swasta di kota seperti Makassar dan Surabaya juga menunjukkan optimalisasi zonasi RTH yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Tantangan dan Strategi Peningkatan

Sumber: msa-ps.com

Tantangan utama partisipasi publik adalah rendahnya kesadaran, keterbatasan dana, serta ketergantungan pada APBD. Di Jakarta, meskipun terdapat skema fasos-fasum dari pengembang, implementasinya masih belum optimal. Tantangan lain mencakup konflik lahan dan belum meratanya regulasi partisipatif.

Baca juga: Mendorong Kolaborasi Lewat Public Engagement

Strategi peningkatan partisipasi meliputi penyelenggaraan workshop intensif, penguatan kemitraan dengan sektor swasta dan komunitas, serta pemanfaatan teknologi pemetaan partisipatif. Pemerintah daerah, melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertamanan, berperan sebagai dinamisator yang menjembatani kepentingan warga. Mendorong youth engagement melalui digital activism juga menjadi kunci keberlanjutan partisipasi.

Kesimpulan

Taman kota memiliki potensi besar sebagai wadah partisipasi publik yang memperkuat keberlanjutan lingkungan dan sosial. Dengan perencanaan partisipatif, taman tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga ruang belajar, berkolaborasi, dan membangun rasa memiliki masyarakat terhadap kota.

 

Referensi

Pemprov DKI. (2025). Target 30% RTH Jakarta hingga 2045. Metro TV News.
Muhammad, D. A. (2024). Peran pemerintah dalam tata kelola taman kota sebagai ruang terbuka hijau.
Lakuna Kota. (2024). Transformasi Taman Kopo melalui design charrette. ITB Pengabdian. Honda Power Products. (2023). 11 manfaat taman kota.

Bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *