IAP2 Indonesia – Dalam era yang semakin terhubung ini, tantangan besar tidak lagi bisa diselesaikan oleh satu individu atau satu organisasi secara mandiri. Mulai dari pembangunan infrastruktur hingga kebijakan publik, keberhasilan sebuah inisiatif sangat bergantung pada satu faktor krusial yakni kolaborasi. Namun, kolaborasi yang efektif tidak muncul secara instan; ia membutuhkan fondasi kuat yang disebut dengan public engagement atau keterlibatan publik.
Memahami Esensi Public Engagement

Sumber: expossumbar.com
Public engagement bukan sekadar sosialisasi satu arah atau aktivitas pemasaran. Ini adalah proses komunikasi dua arah yang bertujuan untuk membangun pemahaman bersama, kepercayaan, dan partisipasi aktif. Dalam konteks kolaborasi, keterlibatan publik adalah alat untuk memastikan bahwa semua pemangku kepentingan (stakeholders) memiliki suara dalam proses pengambilan keputusan. Tanpa keterlibatan yang tulus, kolaborasi seringkali hanya menjadi kesepakatan di atas kertas tanpa implementasi yang kuat di lapangan.
Mengapa Keterlibatan Publik Penting untuk Kolaborasi?

Sumber: Mahkamah Konstitusi RI
Keterlibatan publik berfungsi sebagai katalisator dalam mempercepat proses kolaboratif melalui tiga aspek utama:
- Menghancurkan Silo Informasi: Seringkali, proyek besar gagal karena setiap pihak bekerja di dalam “kotak” masing-masing. Public engagement membuka sekat tersebut, memungkinkan pertukaran ide antara pakar, pemerintah, dan masyarakat umum secara transparan.
- Membangun Rasa Kepemilikan (Sense of Ownership): Ketika masyarakat merasa didengarkan, mereka akan merasa memiliki proyek tersebut. Rasa kepemilikan ini adalah bahan bakar utama kolaborasi jangka panjang, di mana masyarakat aktif menjaga dan mendukung keberlangsungan sebuah program.
- Mitigasi Risiko dan Konflik: Banyak konflik muncul karena kurangnya transparansi. Dengan melibatkan publik sejak dini, potensi penolakan atau kesalahpahaman dapat diidentifikasi dan diselesaikan melalui dialog yang konstruktif sebelum menjadi masalah besar.
Strategi Transformasi Menuju Kolaborasi

Sumber: marketing.co.id
Untuk mengubah keterlibatan publik menjadi kolaborasi yang nyata, organisasi perlu bergerak melampaui sekadar memberikan informasi. Proses ini dimulai dari tahap Informing (menyediakan data transparan), meningkat ke tahap Consulting (mendengarkan masukan), hingga mencapai tahap Involving di mana masyarakat bekerja berdampingan dengan pengambil kebijakan.
Baca juga: PARTISIPASI BERMAKNA: BUKAN FORMALITAS, MELAINKAN PRASYARAT KEADILAN DAN KETANGGUHAN RENCANA
Puncaknya adalah tahap Collaborating, di mana publik dipandang sebagai mitra sejajar dalam setiap tahap pengambilan keputusan. Di era digital saat ini, pemanfaatan platform partisipasi daring menjadi kunci untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan inklusif.
Kesimpulan
Mendorong kolaborasi lewat public engagement adalah tentang menghargai setiap individu sebagai pemangku kepentingan yang berharga. Ketika kita berhenti bicara kepada masyarakat dan mulai bicara dengan masyarakat, di situlah kolaborasi sejati dimulai. Inovasi bukan lagi milik segelintir orang, melainkan hasil kerja keras kolektif demi kepentingan bersama.
Referensi
OECD. (2020). Innovative citizen participation and new democratic institutions: Catching the deliberative wave. OECD Publishing.
International Association for Public Participation (IAP2). (2018). IAP2 spectrum of public participation. IAP2 International.
Nabatchi, T., & Leighninger, M. (2015). Public participation for 21st century democracy. John Wiley & Sons.
Seltzer, E., & Mahmoudi, D. (2013). Citizen participation, convergence, and classic enlightenment: The role of video games in the planning process. Journal of Planning Education and Research, 33(1), 33-45.
Rowe, G., & Frewer, L. J. (2005). A typology of public engagement mechanisms. Science, Technology, & Human Values, 30(2), 251-290.
