Day: September 24, 2018

SGPP Indonesia dan Jurnal Kebijakan ‘Strategic Review’: Indonesia and Cultural Industries

Jakarta – Pada tanggal 12/09 School of Goverment & Public Policy (SGPP Indonesia) dan Jurnal Kebijakan ‘Strategic Review’ mengadakan Roundtable Discussion  di Equity Tower, SCBD, Jakarta. Diskusi ini mengusung tema “Indonesia and Cultural Industries” yang dipimpin oleh Ted Fishman Pengarang Buku China Inc.’ dan Shock of Gray.

“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa namun sampai saat ini belum termonetisasi/dikapitalisasi dengan baik.” Ujar Ted kepada partisipan seraya menunjukan beberapa potensi seni pertunjukan yang ia ambil dari Youtube.

Indonesia merupakan negara dengan berbagai macam suku, ras, agama dan kubudayaan di dalamnya. Berdasarkan data yang di peroleh dari Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dengan kurun waktu 2009 sampai dengan 2017, setidaknya terdapat 7.241 karya budaya yang tercatat dan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia. Karya budaya tak benda menurut konvensi UNESCO 2003 meliputi tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya tak benda; adat istiadat masyarakat, ritus, perayaan-perayaan, dan seni pertunjukan.

Tetapi kita tahu bahwa budaya yang kita miliki saat ini belum terkelola dengan baik, Karena belum ada narasi yang terbangun mengenai betapa pentingnya budaya dalam rangka kegiatan pembangunan. Kegiatan pembangunan yang memasukkan budaya sebagai unsur yang setara dengan kegiatan ekonomi, sosial, politik, diplomasi tidak hanya di dalam skala nasional namun juga ke luar negeri.

Hampir setiap daerah memiliki budayanya masing-masing lalu bagaimana cara kita mengedepankan budaya dalam kegiatan pembangunan? Padahal contohnya sudah banyak, seperti Jepang dengan J-pop, Korea dengan K-pop dan Brazil dengan Samba dan lainnya yang sudah melakukannya dan sangat berhasil.

“solusinya ada pada warga negara itu sendiri untuk dapat memunculkan solusi tersebut, karena contohnya sudah banyak, seperti; Kpop, Jpop, samba Brazil” Ujar Ted.

Lebih lanjut, dari sekitar 50 partisipan yang hadir umumnya juga untuk masyarakat Indonesia, diharapkan dapat memberikan solusi perkembangan budaya yang berkelanjutan serta yang terpenting ialah keikutsertaan masyarakat yang masiv dalam memperkenalkan budaya kita kepada dunia sehingga dapat mengedepankan budaya dalam kegiatan pembangunan Indonesia.

Riza Wahyudi, IAP2 Indonesia | Jum’at, 21 September 2018 16.21 WIB

teknik dalam partisipasi publik saat pelatihan dasar-dasar partisipasi publik berlansung

Review Hari Keempat di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik 30 Juli – 03 Agustus 2018 (2)

Masih ingat teknik apa saja yang kita bahas diartikel sebelumnya kan? Yup, betul sekali, teknik world cafes dan wawancara. Sekarang kita mau bahas teknik fishbowl. Fishbowl? Iya beneran nama tekniknya “fishbowl”, bingung kenapa dinamakan fishbowl. Yuk, kita simak penjelasannya. Pertama-tama pelatih menyampaikan manfaat atau keunggulan dari teknik ini, diantaranya adalah untuk mengamati pengambil keputusan, anggota publik atau ahli teknis dalam diskusi terbuka, membangun tingkat kepercayaan dalam proses keterlibatan pemangku kepentingan, menunjukan rasional dibalik proses pengambilan kepetusan, dan meningkatkan pemahaman tentang alasan keputusan.

Dalam teknik fishbowl ini termasuk kedalam kategori konsultasikan (consult) dan atau libatkan (involve). Teknik dalam menyatukan orang bersama ini dapat dilakukan manakala tingkat kepercayaan masyaraka rendah, serta untuk membantu membuka suatu proses sehingga publik dapat melihat alasan yang berkembang dan memahami alasan-alasan untuk pengambilan keputusan seiring berjalannya proses. Seperti terlihat pada gambar di atas, pelatih sedang mensimulasikan teknik fishbowl ini, dimana tiga orang selaku ahli teknis dan pengambil keputusan dan satu orang lagi sebagai fasilitator. Dalam teknik fishbowl ini diperkenankan masyarakat yang hadir untuk dapat bertanya hal lebih lanjut lagi. Nah, simulasi ini seperti ibarat menyaksikan ikan didalam fishbowl, publik dapat melihat/menyaksikan secara jelas didepan mata mereka, dan dapat saling berinteraksi.

Ada lagi teknik yang lainnya, dengan nama yang unik, bukan hanya sekedar nama unik tetapi juga merepresentasikan dari konsep teknik itu sendiri. Teknik selanjutnya adalah nominal grup. Dalam nominal grup ini serupa seperti berdiskusi dalam kelompok kecil, untuk mengembangkan serangkaian prioritas tindakan. Proses ini melibatkan identifikasi masalah, penciptaan solusi, dan pengambilan keputusan.  Teknik ini dapat dikombinasikan dengan teknik lainnya, Terdapat petunjuk utama dalam melakukannya. Diantaranya adalah hanya ada satu pertanyaan kunci yang harus digunakan dalam suatu sesi untuk mempertahankan focus dan tujuan yang jelas, tanggapan dikumpulkan satu persatu dan ditulis pada flip chart sampai semua tanggapan terkumpul.

Para peserta kemudian diminta untuk memeringkat urunan tanggap-tanggapan tersebut. Tanggapan yang berdasarkan kumpulan dari para peserta tersebut kemudian oleh para peserta dipilih 5 yang menurut mereka pribadi paling penting atau utama. Setelah itu pelatih meminta para peserta melakukan scoring terhadap lima tanggapan pilihannya. Aturan dalam pemberian scoring mulai dari point terbesar 5 hingga paling kecil 1, angka 5 untuk yang paling penting, hingga angka 1 untuk yang paling tidak penting. Setelah dilakukan per-score-an maka hasilnya dijumlahkan, dari sana akan terlihat mana tanggapan/isu/hal yang paling penting dan utama diketahui bedasarkan jumlah terbesar yang didapatkan, hingga berurutan mendapatkan 5 tanggapan yang paling tinggi nilai pointnya.

Dengan begini akan memudahkan kita untuk dapat memilih mana-mana saja tanggapan/isu/hal yang akan menjadi bahan utama untuk diproses dalam pengambilan keputusan selanjutnya. Bagaimana, tambah penasaran dengan teknik-teknik lain yang tak kalah efektifnya. Oke, langsung kita bahas teknik lainnya.

Pernah dengar istilah open space? Belum? Mungkin ada istilah yang serupa tapi tak sama, seperti open source, open house, dan lainnya. Nah, open space ini nama teknik yang bakal kita bahas nih. Open space ini adalah pertemuan mandiri dimana para peserta membuat dan merancang agenda sendiri. Didalam spectrum IAP2 ini termasuk kedalam kategori libatkan (involve) dan bisa juga masuk kategori kolaborasi (collaborate).  Dalam open space ini terdapat petunjuk utama diantaranya adalah temukan ruang dan waktu yang cukup untuk mengakomodasi beberapa kelompok secara terpisah.

Hal ini dilakukan untuk memfasilitasi mereka yang marah dan merasa tidak berdaya untuk dapat merasa diberikan tindakan secara langsung atau direspon langsung dan dapat menentukan nasib sendiri seperti misalnya para korban benca alam yang sudah lama tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dimana perlu penanganan yang cepat dan memenuhi kebutuhan mendesak.  Open space ini juga dapat mengakomodir kelompok besar dengan beragam kepentingan untuk mengatasi isu dan kekhawatiran mereka seperti kelompok penyandang disabilitas, masyarakat asli. Menarik bukan? Bayangkan, banyaknya teknik yang dapat digunakan sesuai kebutuhan mana yang lebih efektif.

Tak berasa kita sudah dipenghujung artikel. Namun jangan khawatir, masih ada satu teknik lagi yang kita dibahas disni. Setelah penjelasan mengenai open space, pelatih melanjutkan ke teknik lainnya yaitu Citizen Juries. Citizen Juries merupakan suatu proses mengumpulkan panel perwakilan warga yang dipilih secara acak dan demografis selama periode waktu yang disepakati untuk secara hati-hati memeriksa suatu isu dan memberikan rekomendasi kepada pengambil keputusan dan publik. Ada beberapa karakteristik dari teknik Citizen Juries diantaranya adalah pemilihan acak, perwakilan, terinformasikan, netral/tidak memihak, dan musyawarah/konsultatif. Citizen Juries ini masuk kedalam spectrum IAP2 kategori berkolaborasi (collaborate) dan juga menguasakan (empower). Ditingkat berkolaborasi citizen juries memberikan rekomendasi kepada pengambli keputusan dan publik dan terkadang ditingkat berdayakan citizen juries diberi wewenang untuk mengambil keputusan. Teknik ini bisa digunakan untuk melibatkan warga dalam dialog berkualitas tinggi tentang isu utama, dan mengembangkan solusi dari permasalahan atau isu yang sedang dihadapi. Akan masih ada kelanjutannya dari teknik efektif partisipasi publik. Tunggu diartikel kami yang segera publish.

Admin, IAP2 Indonesia | Senin, 24 September 2018 09.33 WIB