11 Februari: Memperkuat Partisipasi Inklusif Perempuan di Dunia Sains

IAP2 Indonesia – Tanggal 11 Februari diperingati secara global sebagai Hari Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains, dengan tujuan mendorong partisipasi yang lebih inklusif bagi perempuan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Peringatan ini menjadi momentum penting untuk menyoroti kesenjangan gender sekaligus memperkuat peran perempuan dalam inovasi dan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.

Di Indonesia, keterlibatan perempuan di sektor sains dan riset terus berkembang, namun masih menghadapi tantangan struktural, sosial, dan budaya.

Signifikansi 11 Februari bagi Perempuan Sains Indonesia

Perempuan dalam Sains

Sumber: UNESCO

Peringatan 11 Februari lahir dari kebutuhan mengakui kontribusi perempuan seperti Marie Curie dan Rosalind Franklin, yang sering terabaikan. Di Indonesia, inisiatif Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui program “Perempuan dalam Sains” telah melatih 5.000 siswi STEM sejak 2020. Data UNESCO (2024) menunjukkan partisipasi perempuan di sains Indonesia naik 15% berkat program ini, meski masih tertinggal dibanding Singapura (45%).

Gerakan ini selaras dengan Visi Indonesia Emas 2045, di mana sains menjadi pilar ekonomi hijau. Contohnya, perempuan seperti Dr. Habiba Hasanah di bidang bioteknologi vaksin COVID-19 membuktikan potensi inklusivitas untuk inovasi nasional.

Hambatan Partisipasi Perempuan di Sains

Sumber: statista

Perempuan Indonesia menghadapi multifaktor penghambat. Stereotip gender: Survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2025 menemukan 60% siswi SMA ragu masuk STEM karena norma “laki-laki lebih logis”. Kesenjangan akses: Di pedesaan, hanya 35% perempuan akses lab digital, memperlemah digital divide.

Beban ganda: Ibu bekerja di riset kehilangan 20% waktu karir akibat tanggung jawab rumah tangga Kurang representasi: Hanya 18% profesor perempuan di universitas negeri, menurut Asosiasi Dosen Indonesia.

Peluang Digital untuk Partisipasi Inklusif

Sumber: Sekolah Luar Negeri

Era digital membuka gerbang baru. Platform seperti Coursera dan edX telah menjangkau 2 juta perempuan Indonesia dengan kursus AI gratis sejak 2023. Aplikasi Qlue Sains memungkinkan siswi laporkan eksperimen lingkungan, integrasi IoT untuk riset biodiversitas.

Inisiatif seperti Girls in STEM Indonesia via TikTok capai 1 juta views 2025, gamifikasi belajar sains. Kolaborasi dengan perusahaan ESG seperti Unilever mendanai beasiswa perempuan di nanoteknologi, dukung SDG 17.

Strategi Nasional Memperkuat Partisipasi

Sumber: asm.org

Pemerintah dan swasta harus sinergi. Kurikulum inklusif: Integrasikan modul perempuan sains di sekolah, seperti biografi Sri Mulyani di ekonomi digital. Target: 50% siswi ambil STEM pada 2030.

· Beasiswa dan mentorship: Program L’Oréal-UNESCO For Women in Science beri Rp500 juta/tahun untuk 10 perempuan Indonesia. Perluas ke AI dan climate tech.

· Kebijakan kerja: Dorong cuti ayah dan fleksibilitas remote di lembaga riset, seperti di BPPT. Kolaborasi dengan Telkomsel untuk 5G lab perempuan di NTT.

· Advokasi publik: Rayakan 11 Februari dengan hackathon perempuan, hasilkan 50 inovasi ESG 2025.

Studi Kasus Sukses Perempuan Indonesia

Perempuan dalam Sains

Sumber: Adi Utarini

Sejumlah ilmuwan perempuan Indonesia telah menunjukkan kontribusi signifikan dalam pengembangan sains dan inovasi. Salah satunya adalah Prof. Adi Utarini (UGM), yang memimpin riset global tentang penggunaan nyamuk Wolbachia untuk menekan penyebaran demam berdarah. Program ini diakui secara internasional dan menjadi terobosan penting dalam bidang epidemiologi dan kesehatan masyarakat.

Di bidang kebijakan pendidikan dan sains kognitif, Prof. Stella Christie berperan dalam riset tentang pembelajaran, perkembangan kognitif, serta penguatan kebijakan berbasis sains untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Baca juga: Digital Participation: Memperkuat Partisipasi Publik di Era Digital

Sementara itu, berbagai ilmuwan perempuan di BRIN dan universitas nasional turut aktif mengembangkan riset di bidang bioteknologi, lingkungan, energi terbarukan, dan pangan berkelanjutan — membuka peluang inovasi yang mendukung agenda pembangunan hijau dan berkelanjutan.

 

Referensi

Asosiasi Dosen Indonesia (ADI). (2026). Laporan profesor perempuan.

Badan Pusat Statistik (BPS). (2025). Survei tenaga kerja perempuan STEM.

Kemendikbudristek. (2025). Program perempuan sains.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). (2025). Survei stereotip gender STEM.

UNESCO. (2024). Women in science report.

Bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *