IAP2 Indonesia – Setiap tanggal 10 Januari, Indonesia memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon sebagai pengingat bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga hasil dari keterlibatan aktif masyarakat. Di tengah krisis iklim, polusi udara, dan penyusutan ruang hijau, menanam pohon menjadi salah satu bentuk partisipasi publik paling konkret, inklusif, dan berdampak jangka panjang.
Namun, makna gerakan ini tidak berhenti pada jumlah pohon yang ditanam. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat dilibatkan sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan pascatanam. Di sinilah penanaman satu juta pohon dapat dibaca sebagai aksi partisipasi publik yang bermakna, bukan sekadar kegiatan simbolik tahunan.
Partisipasi Publik dalam Aksi Lingkungan

Sumber: local.microsoft.com
Dalam kerangka partisipasi publik, kegiatan menanam pohon membuka ruang keterlibatan lintas aktor: warga, komunitas, sekolah, kampus, dunia usaha, hingga pemerintah daerah. Setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari penyediaan bibit, pemilihan lokasi yang tepat, hingga perawatan jangka panjang.
Partisipasi semacam ini penting karena isu lingkungan bersifat lokal sekaligus sistemik. Warga yang tinggal di suatu wilayah paling memahami kondisi lingkungannya, termasuk kebutuhan jenis pohon, risiko banjir, atau keterbatasan lahan. Ketika suara dan pengetahuan lokal dilibatkan, kebijakan dan program lingkungan menjadi lebih relevan dan berkelanjutan.
Penghijauan Jakarta Menjelang 10 Januari 2026

Sumber: preventionweb.net
Menjelang peringatan Hari Gerakan Satu Juta Pohon pada 10 Januari 2026, praktik partisipasi publik terlihat nyata di DKI Jakarta. Suku Dinas Pertanaman dan Hutan Kota (Sudin Tamhut) Jakarta Selatan dan Jakarta Timur bersama masyarakat telah melakukan berbagai upaya penghijauan sepanjang tahun 2025 sebagai bagian dari persiapan peringatan tersebut.
Kedua wilayah ini mencatat penanaman lebih dari 2.200 pohon, terdiri atas pohon pelindung dan produktif, yang tersebar di taman kota, jalur hijau, hingga kawasan permukiman. Jenis pohon dipilih dengan mempertimbangkan ketahanan terhadap kondisi perkotaan dan manfaat ekologisnya, seperti penyerapan polutan dan peningkatan kualitas udara. Kegiatan ini menunjukkan bahwa peringatan 10 Januari tidak dimaknai sebagai acara seremonial satu hari, melainkan bagian dari strategi ekologis kota yang melibatkan warga secara berkelanjutan.
Dari Menanam ke Merawat: Tantangan Partisipasi Bermakna

Sumber: tentree.com
Salah satu tantangan utama dalam gerakan menanam pohon adalah keberlanjutan pascatanam. Banyak pohon mati karena minimnya perawatan atau tidak sesuai dengan kondisi lahan. Oleh karena itu, partisipasi publik perlu diperluas dari sekadar hadir saat penanaman menjadi komitmen jangka panjang dalam merawat dan memantau pertumbuhan pohon.
Pendekatan partisipatif yang bermakna mendorong pembagian peran yang jelas, transparansi informasi, serta mekanisme evaluasi bersama. Dengan dukungan teknologi—seperti pelaporan berbasis aplikasi atau pemantauan komunitas—masyarakat dapat terlibat langsung dalam memastikan pohon yang ditanam benar-benar tumbuh dan memberi manfaat ekologis.
Momentum 10 Januari sebagai Ruang Kolaborasi

Sumber: kalderanews.com
Peringatan 10 Januari seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, dunia usaha, dan generasi muda. Gerakan menanam satu juta pohon bukan hanya soal angka, tetapi tentang membangun kesadaran kolektif bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Baca juga: Jerhemy Owen Menginisiasi Donasi Publik sebagai Bentuk Partisipasi Lingkungan
Ketika partisipasi publik dijalankan secara inklusif dan berkelanjutan, gerakan ini dapat menjadi fondasi bagi transformasi ekologi yang lebih luas—dari kota yang lebih hijau hingga masyarakat yang lebih peduli dan berdaya.
Kesimpulan
Peringatan 10 Januari melalui Gerakan Menanam Satu Juta Pohon menegaskan bahwa pelestarian lingkungan hanya akan berdampak jika dijalankan sebagai proses partisipasi publik yang berkelanjutan. Contoh penghijauan di Jakarta menjelang 2026 menunjukkan bahwa keterlibatan warga sejak perencanaan hingga perawatan pohon mampu memperkuat ketahanan ekologis kota. Lebih dari sekadar menanam, gerakan ini menjadi ajakan kolektif untuk merawat kehidupan dan memastikan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.
Referensi
Liputan6.com. (2026, January 8). Sambut Hari Sejuta Pohon 10 Januari: Dua kota di Jakarta lakukan upaya penghijauan.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2023). Gerakan penanaman pohon dan rehabilitasi lingkungan.
International Association for Public Participation. (2018). IAP2 spectrum of public participation.
