Tag: #Tokoh

foto artikel

Difabel sukses menjadi CEO Perusahaan Thomas Alfa Edison

IAP2 INDONESIA –  Pada Sabtu, 16 September 2023, dunia bisnis Indonesia mendapat kabar duka dengan meninggalnya Handry Satriago, CEO General Electric (GE) Indonesia, pada usia 54 tahun. Sejak usia 18 tahun, Handry telah berjuang melawan penyakit kanker kelenjar getah bening, yang memaksa dirinya menggunakan kursi roda sebagai akibat dari kondisi kesehatannya yang semakin memburuk.

Kepemimpinan dan Karir

Difabel sukses

(Sumber Foto: GE Internasional )

GE merupakan perusahaan teknologi terbesar yang didirikan oleh Thomas Alva Edison sejak tahun 1892 di New York, Amerika Serikat. Handry menjabat sebagai CEO di perusahaan itu dari tahun 2011.

Namun, untuk mencapai kesuksesannya, Handry harus menghadapi berbagai rintangan dan kesulitan yang sangat berat. Pada usia 17 tahun, dia didiagnosis menderita kanker kelenjar getah bening di tulang belakangnya. Akibat penyakit ini, Handry terpaksa menggunakan kursi roda dan bahkan harus absen dari sekolah selama berbulan-bulan.

Difabel sukses

Baca Juga: 10 Tokoh Inspiratif Indonesia dengan Prestasi Mendunia

Meskipun menghadapi keterbatasan, semangat Handry tetap utuh. Pada tahun 1993, dia berhasil menyelesaikan studinya dan lulus dari Institut Pertanian Bogor. Kemudian, Handry melanjutkan pendidikannya dan meraih gelar dual degree magister manajemen dari Sekolah Tinggi Manajemen IPMI dan Universitas Monash pada tahun 1997. Selain itu, dia juga berhasil meraih gelar doktoral dalam bidang manajemen strategis dari Universitas Indonesia pada tahun 2010. Handry juga mengejar pendidikan eksekutif di Sekolah Bisnis Universitas Harvard.

GE Indonesia merupakan salah satu bagian dari GE Company, sebuah perusahaan global terkemuka yang beroperasi dalam berbagai sektor, mulai dari aviasi, perawatan kesehatan, tenaga, energi terbarukan, hingga industri digital, modal ventura, dan keuangan. Pada tahun 1997, Handry bergabung dengan GE, di mana ia menjabat sebagai Business Development Manager di GE International.

(Sumber Foto: Foto Tim GE Indonesia Menghubungkan dan Memperkuat Jaringan Listrik Jawa-Bali)

Pada tahun 1998, difabel sukses yang bernama Handry Satriago beralih ke posisi General Manager Industrial Lighting and Systems di GE Lighting Indonesia. Kemudian, di pertengahan tahun 2001, Handry menjabat sebagai Regional Black Belt di GE Power Systems Asia Pacific. Pada tahun 2004, dia memegang peran sebagai Quality ACFC Leader untuk GE Power Systems Asia. Dari tahun 2005 hingga 2010, Handry memimpin bisnis Power Generation untuk GE Energy di wilayah Indonesia, Vietnam, Kamboja, dan Filipina. Pada bulan Juli 2011, Handry meraih promosi sebagai CEO GE Indonesia.

Baca Juga: Partisipasi Publik: Peran Inspiratif Jenderal Sudirman dalam Pemersatu Bangsa Indonesia

Break The Limit, Be Participate

Handry Satriago dikenal sebagai sosok yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap berbagai isu sosial dan lingkungan. Beberapa contoh kepeduliannya yang mencolok termasuk:

  • Pendidikan: Handry Satriago telah terlibat dalam berbagai inisiatif pendidikan di Indonesia. Sebagai lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan pendidikannya yang tinggi, dia menyadari pentingnya pendidikan berkualitas. Dia telah mendukung program-program pendidikan dan pelatihan untuk anak-anak muda serta mempromosikan akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak di seluruh Indonesia.

 

  • Kesehatan: Handry juga peduli terhadap isu kesehatan, terutama dalam konteks perusahaan-perusahaan yang dia pimpin. Di sektor perawatan kesehatan, GE memiliki peran penting, dan Handry telah berkomitmen untuk menghadirkan solusi kesehatan yang inovatif dan terjangkau.

 

  • Konservasi Lingkungan: Handry Satriago juga memiliki kesadaran akan isu-isu lingkungan. Sebagai pemimpin di industri energi dan teknologi, dia mendorong praktik bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. GE sendiri telah terlibat dalam proyek-proyek energi terbarukan dan efisiensi energi yang berkontribusi pada perlindungan lingkungan.

 

  • Pemberdayaan Masyarakat: Handry telah mendukung inisiatif pemberdayaan masyarakat, terutama dalam hal pelatihan keterampilan dan penciptaan lapangan kerja. Ini membantu meningkatkan taraf hidup komunitas yang lebih luas dan berkontribusi pada pembangunan sosial ekonomi.

Kepedulian Handry Satriago terhadap berbagai isu ini mencerminkan tanggung jawab sosial perusahaan dan nilai-nilai keberlanjutan. Dia berusaha untuk mencapai dampak positif dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya melalui peran dan pengaruhnya dalam dunia bisnis dan kepemimpinan.

Partisipasi Publik: Peran Inspiratif Jenderal Sudirman dalam Pemersatu Bangsa Indonesia

IAP2 INDONESIA – Jenderal Sudirman, pahlawan nasional Indonesia, tak terlupakan dalam sejarah perjuangan bangsa. Beliau merupakan simbol keberanian dan kepemimpinan saat merebut kemerdekaan dari penjajah. Tidak hanya berperan penting dalam pembangunan Indonesia pasca-kemerdekaan, namun juga memberikan ajaran partisipasi yang inspiratif dari kehidupan dan kepemimpinannya.

Mengenal Jenderal Sudirman

Jenderal Sudirman, atau Raden Soedirman, lahir di Purbalingga pada 24 Januari 1916, dan meninggal dunia pada usia muda, 34 tahun, di Magelang pada 29 Januari 1950. Dibesarkan oleh pamannya, seorang priyayi, ia sepenuh hati mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sebagai seorang pemuda, aktif bergabung dengan Gerakan Pemuda Indonesia, Jenderal Sudirman memainkan peran penting dalam kegiatan pergerakan. Pada tahun 1945, saat perang kemerdekaan pecah, beliau menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh, pemimpin gerilyawan melawan tentara penjajah. Ketegasan, keberanian, dan kedisiplinannya mengundang penghormatan serta menginspirasi banyak pihak.

Baca Juga : BJ Habibie: Peran Ilmuwan dalam Mendorong Partisipasi Publik untuk Kemajuan Negara

Peran Jenderal Sudirman dalam Kemerdekaan RI

Jenderal Sudirman memiliki peran krusial dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Awal perjalanan karirnya dimulai ketika ia ditunjuk sebagai kader dalam pelatihan Pembela Tanah Air (PETA), organisasi militer yang penting dalam perlawanan terhadap penjajahan. Setelah menjalani pelatihan, beliau menjabat sebagai komandan batalyon di Banyumas.

Puncak perannya yang krusial terjadi saat ia diangkat sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (Panglima TNI) pada tahun 1949. Di bawah kepemimpinannya, TNI terorganisir dengan baik dan berhasil mengusir penjajah dari wilayah Indonesia. Jenderal Sudirman mampu menyatukan elemen bangsa Indonesia dari beragam latar belakang budaya, agama, dan etnis dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

 

Baca Juga : Partisipasi Masyarakat dalam Kebijakan Publik

Partisipasi Publik dalam Kesatuan Bangsa

Jenderal Sudirman, sebagai panglima besar TNI, mengajarkan pentingnya partisipasi publik dalam menyatukan bangsa. Kepemimpinannya yang tegas dan bijaksana selama perang kemerdekaan menunjukkan betapa aktifnya masyarakat berperan dalam mencapai tujuan bersama, yaitu kemerdekaan Indonesia.

Tidak hanya memberikan suara, tetapi Jenderal Sudirman mengajarkan bahwa partisipasi publik melibatkan aksi nyata untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ia tanpa memandang latar belakang memperkuat pemahaman tentang pentingnya kebersamaan dan kesatuan dalam menghadapi tantangan.

Dengan jejaknya, partisipasi publik pun menjadi lebih luas dan merambah berbagai bidang, dari politik hingga sosial. Ia memberikan inspirasi bagi setiap generasi untuk aktif berperan dalam pembangunan Indonesia ke depan.

“Teruskan Perjuangan Kita” – Jenderal Sudirman