Tag: Stakeholder

pelatihan Effective Stakeholder Engagement for The 2030 Agenda

Pelatihan Internasional dari UNESCAP bersama IAP2 Indonesia didukung oleh SGPP Indonesia

Bogor – Pelatihan Internasional yang mengakat tema “Effective Stakeholder Engagement for The 2030 Agenda”, telah dihelat dengan sukses di kampus SGPP Indonesia pada tanggal 06 – 08 Agustus 2018. Apa yang muncul dibenak Anda pertama kali saat mendengar kata melibatkan pemangku kepentingan?

Tidak mudah untuk mengumpulkan stakeholder dalam satu meja disatu waktu bersama-sama, dan bagaimana cara melibatkan publik didalamnya juga menjadi pertanyaan besar bagi Anda bukan? Masih banyak pertanyaan lainnya yang mengganggu pikiran Anda selama ini baik sebagai salah satu pemangku kepentingan, masyarakat biasa atau bahkan menjadi si pengambil keputusan.

Didalam pelatihan yang berlangsung selama 3 hari ini terangkum beberapa pembahasan, diantaranya adalah merancang proses keterlibatan pemangku kepentingan dan mengembangkan rencana keterlibatannya yang mempertimbangkan persyaratan khusus dari Agenda 2030. Penerapan teknologi juga tak luput dari proses pembelajaran didalam pelatihan ini.

Pada saat peserta memberikan jawaban atas kuesioner yang dilemparkan oleh pelatih dengan serta merta dapat langsung dilihat gambaran presentasinya. Hal ini dapat merupakan salah satu pemanfaatan dari kemajuan teknologi dalam mendukung proses pelibatan pemangku kepentingan yang efektif dimanapun.

Dalam pelatihan 3 hari ini menghadirkan Michelle Feenan sebagai consultant/director dari Engagement Plus dan Joel Levin sebagai consultant/managing director di Aha! Consulting. Dalam penanganan suatu proyek perlu keterlibatan seluruh pemangku kepentingan untuk berperan aktif didalamnya, Michelle menambahkan pentingnya untuk belajar dari yang lainnya, untuk membawa pengalaman baru dari Negara berbeda dan saling membaginya.

Pelibatan pemangku kepentingan adalah suatu proses melibatkan beragam pemangku kepentingan dari institusi dan masyarakat yang berbeda. Joel menambahkan, jika tidak ada pelibatan pemangku kepentingan, bukan hanya terjadi miskomunikasi, bahkan dapat terjadi kurangnya dukungan, keberatan, kritik, kegagalan dalam implementasi/resiko, kesalahpahaman, penggunaan/pemborosan sumber daya yang efektif, dan hasil yang merugikan.

Pelatihan Effective Stakeholder Engagement for The 2030 Agenda

Terlihat Joel sedang memberikan penjelasan dihari kedua pelatihan.

Pelatihan ini sangat diperlukan bagi Pejabat Pemerintah yang memiliki tanggung jawab langsung untuk mengimplementasikan keterlibatan pemangku kepentingan untuk Agenda 2030 dan kebijakan nasional atau perencanaan strategis lainnya.

Pejabat Pemerintah yang terlibat dalam koordinasi integrasi SDGs ke dalam nasional merencanakan, memantau, menindaklanjuti dan meninjaunya di tingkat nasional, provinsi atau lokal. Staf proyek yang berpengalaman dalam pelibatan dan fasilitasi pemangku kepentingan profesional yang bekerja dengan pemerintah untuk proyek SDGs.

Kelompok-kelompok masyarakat sipil yang bertanggung jawab untuk melibatkan konstituen mereka sendiri di dalam pelaksanaan 2030 Agenda. Peserta dalam pelatihan kali ini hadir dari lintas Negara, diantaranya Bangladesh, LAO PDR, Philipina, Sri Lanka, Thailand, dan Timor Leste yang datang dari beragam institusi.

pak gita wrijawan sedang bermain piano di pelatihan 3 hari

Pak Gita Wirjawan ditengah-tengah sesi istirahat menyapa para tamu SGPP Indonesia dengan kepiawaiannya memainkan piano, menambah kemeriahan suasana siang hari yang sejuk.

Selasa, 16 Oktober 2018 11.02 WIB

kuliah umum diruang kelas kampus SGPP Indonesia

Kuliah Umum SGPP oleh Muthoni Wambu Kraal: The Potential Seachange in American Democracy Post-Trump

Bogor – Mengakhiri bulan September ceria kemarin, perwakilan IAP2 Indonesia menghadiri undangan hangat dari SGPP Indonesia untuk hadir di kuliah umum yang mereka adakan. Perubahan mungkin tidak dapat menyenangkan banyak orang, namun dengannya kita tahu seberapa maju dan berbedanya kondisi/situasi dibanding masa lalu.

Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan seperti, sudah seberapa besarkah porsi bagi perempuan dalam lingkup pemerintahan dan swasta di Negeri Paman Sam? Bagaimana kaum perempuan disana memperjuangkan hak-haknya? dan masih banyak lagi pembahasan yang dilakukan dalam sesi kuliah umum diruang kelas pada tanggal 27 September 2018.

Berkenalan dengan Muthoni Wambu Kraal sebagai pembicara yang begabung dengan EMILY pada tahun 2009. Selain menjadi Direktur Regional Barat untuk Program Peluang Politik beliau juga menjadi Wakil Presiden dari National Outreach and Training.

Dia mengawasai pelaksanaan program pelatihan EMILY yang menciptakan dan memelihara kemitraan strategis dengan komunitas progresif. Menjadi bagian dari tim kampanye lokal dan nasional, Muthoni sedang memimpin kandidat pengembangan pipa sebagai Direktur Senior untuk Keterlibatan dan Pengembangan Negara.

Partnership dan Relationship adalah bagian penting dalam bergerak. Bagaimana mewujudkan lingkungan kerja yang berkeadilan bagi kaum perempuan baik dilingkup pemerintahan dan swasta. Menciptakan diversity yang luas yaitu dapat mewakili semua generasi, warna kulit, agama dan ras.

Berapa banyak tempat bekerja yang dapat memfasilitasi itu semua, adakah ditempat Anda bekerja sekarang? Itu baru dari sisi perempuan, bagaimana dengan mereka yang difabel, imigran, dan golongan yang termarginalkan lainnya dalam mendapatkan tempat yang sesuai dan adil.

Pencapaian yang diinginkan ini membutuhkan professional volunteer, tools, dan metode tepat untuk menggerakan sistem. Salah satu yang paling sederhana adalah butuh seseorang professional yang menjalankan kampanye untuk tujuan tertentu agar cara berpikir suatu golongan/masyarakat dapat berubah hingga membuat mereka tergerak dengan kesadarannya sendiri, berpikir yang lebih holistik dan inklusif.

Dalam kesempatan ini juga dibahas bagaimana partisipasi publik bekerja di Amerika, tren dari partisipasi publik dapat berpengaruh di Amerika, dan lain sebagainya. Salah satu bentuk hasil dari kehadiran partisipasi publik didalamnya adalah bagaimana dapat melibatkan kaum perempuan dan kaum difabel dapat bekerja di wilayah Pemerintah atau pun disektor Swasta, dengan tidak mengabaikan hak-hak asasi dari kaum tersebut.

Rabu, 03 Oktober 2018 13.41 WIB

teknik partisipasi publik

Review Hari Kelima di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik 30 Juli – 03 Agustus 2018 (Teknik)

Tak terasa kita sudah berada diakhir rangkaian review pelatihan dasar-dasar partisipasi publik. Kali ini fokus kita dihari terakhir ini adalah melanjutkan pembahasan teknik menyatukan orang bersama, yang diantaranya adalah pembicaraan/diskusi terfokus, charrettes, lokakarya, appreciative inquiry, dan musyawarah.

Diawali dengan membahas bagaimana memfasilitasi percakapan/diskusi terfokus dengan peserta lain. Percakapan/diskusi terfokus itu sendiri merupakan pendekatan terstruktur dalam membahas/menggali isu yang kompleks/sulit dengan menggunakan serangkaian pertanyaan.  Pertanyaan dalam diskusi terfokus ini dilakukan dengan memancing/menggali ide TRIK, diantaranya adalah tujuan, reflektif, interpretasi dan keputusan.

Apa dan bagaimana maksudnya, berikut ini penjelasannya yang juga dilengkapi dengan tampilan slide presentasi dari pelatih. Untuk pertanyaan mengenai “tujuan” itu sendiri adalah hal yang perlu diketahui pertama kali saat melakukan percakapan/diskusi terfokus. Mengapa kita harus mengetahui tujuannya?

Karena dalam menggali situasi yang menantang atau isu-isu yang krusial, baiknya perlu kita mengetahui/meninjau fakta, dimana ini merupakan jawaban yang berdasarkan pengalaman yang dirasakan berhubungan dengan apa yang sedang menjadi pembahasannya. Pengalaman terkait apa yang dilihat, apa yang didengar dan apa dilakukan. Mari kita lanjutkan dengan penjelasan lainnya.

Setelah kita meninjau fakta untuk mengetahui tujuan, langkah selanjutnya adalah pertanyaan reflektif. Dalam reflektif ini adalah untuk meninjau tanggapan emosional. Tanggapan emosional dapat digali dengan pertanyaan seperti bagaimana hal-hal ini dapat mempengaruhi Anda, dan lain sebagainya. Merefleksikan gambaran situasi emosional dari publik dalam menyadari, merasakan dan apa yang dialaminya.

Lanjut ke interpretasi, dimana peninjauan makna dilakukan. Mengapa dan apa artinya bagi Anda adalah salah satu pertanyaan yang dapat menggali makna dari publik. Dari sini diharapkan kita dapat mengetahui sisi nilainya, tujuannya, dan signifikansinya bagi masing-masing peserta diskusi/publik. Kemudian hal terakhir yang dapat digali adalah mengenai keputusan.

Mengetahui apa yang menjadi pertimbangkan tindakan di masa depan terhadap keputusan yang dibuat. Apa yang sekiranya akan berubah saat keputusan dijalankan nantinya dan apa yang akan Anda lakukan secara berbeda. Hal ini berhubungan dengan resolusi yang berkaitan dengan pertimbangan, pilihan dan hasilnya.

Didalam proses diskusi atau percakapan terfokus ini berbentuk lingkup yang kecil yang sudah ditentukan sebelumnya, sementara yang lainnya dapat terbuka untuk semua. Proses ini dapat berlangsung selama satu atau beberapa hari. Teknik diskusi terfokus ini dalam spektrum IAP2 masuk kedalam kategori libatkan dan atau berkolaborasi.

Melibatkan peserta diskusi dalam memberikan pandangannya sesuai pertanyaan terstruktur tersebut dan juga dapat menjadikan peserta diskusi untuk berkolaborasi dalam meninjau keputusan dalam isu yang genting atau situasi yang dirasa rumit. Bagaimana sudah jelas dengan teknik diskusi terfokus ini? Amat menarik bukan? Mari kita jelajah teknik efektif lainnya.

Teknik selanjutnya yang dibahas dalam pelatihan yang didukung oleh suasana asri dan sejuk kota Bogor adalah charrettes. Teknik ini merupakan proses intens yang umumnya digunakan dalam desain dan perencanaan perkotaan.

Charrettes ini dapat meningkatkan kesadaran akan prinsip-prinsip praktek terbaik dalam desain perkotaan yang berkelanjutan, menggali dan menunjukan bagaimana mereka dapat diterapkan, menggunakan proses iteratif dan interaktif untuk mengembangkan ide, solusi, beberapa alternatif untuk membuat suatu keputusan.

Dalam charrettes ini dapat menjadi wadah dalam menyatukan semua pihak yang berperan penting untuk rapat kerja atau untuk memfasilitasi serangkaian pertemuan yang panjang. Teknik charrettes ini masuk kedalam kategori libatkan dan atau berkolaborasi dispektrum IAP2.

Selain dari kedua teknik tersebut, mari kita bahas yang selanjutnya yaitu lokakarya. Tentu saja istilah ini sudah tak asing lagi. Biasa disebut juga dengan sebutan workshop, lokakarya ini terdiri dari beberapa unsur didalamnya, namun pertama kita bahas pengertiannya dahulu. Secara bahasa lokakarya diartikan sebagai sebuah forum publik, dimana para peserta bekerja dalam kelompok-kelompok kecil dengan tugas yang ditentukan.

Teknik lokakarya/workshop ini dapat digunakan untuk membantu peserta belajar dengan penemuan dan pertukaran, serta memfokuskan peserta pada penyampaian masukan yang dapat diberikan langsung ke dalam proses pengambilan keputusan. Adapun unsur-unsur dari lokakarya kecil partisipatif adalah presentasi tentang prinsip-prinsip praktik terbaik, sesi pengarahan dan tur lokasi, sesi merancang dan meninjau, penutup presentasi dan komentar.

Berlanjut ke teknik selanjutnya adalah appreciative inquiry. Teknik ini mengenai studi tentang apa menghargai apa yang sudah ada dan dimiliki saat ini yang memberi kehidupan kepada sistem manusia ketika mereka berfungsi pada kondisi terbaiknya. Didasari pada keyakinan bahwa sistem manusia dapat berfungsi lebih baik saat mereka berfokus pada solusi atau apa yang berhasil daripada berkonsentrasi pada masalah.

Dimana sementara besar dalam proses pengambilan keputusan selalu berfokus pada masalah atau apa yang rusak, memperbaiki masalah sedangkan, dalam proses appreciative inquiry  ini melihat apa yang kita inginkan lebih jauh lagi. Ada empat fase didalamnya, penemuan (menghargai apa yang ada), impian (membayangkan apa yang mungkin terjadi), desain (menentukan apa yang seharusnya), dan takdir (menciptakan apa yang terjadi).

Terakhir adalah teknik proses musyawarah, teknik ini harus menyediakan dialog terbuka, akses informasi, adanya ras hormat, ruang untuk memahami dan menata ulang isu serta  gerakan menuju konsenus. Didalam musyawarah harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan dan pengambilan keputusan selain daripada itu didalamnya juga harus mewakili populasi dan menyertakan beragam sudut pandang dan nilai, memberikan kesempatan yang sama bagi semua untuk berpartisipasi.

Adapun struktur proses musyawarah diantaranya adalah terdapat pengantar, proses yang dijelaskan, pedoman, pengalaman/pandangan pribadi yang dibagikan, identifikasi isu, mencari kesamaan, mengeksplorasi untuk memahami, serta mencapai kesepakatan tentang tindakan. Yup, kita sudah berada diakhir rangkaian review pelatihan dasar-dasar partisipasi publik.

Makin penasaran dengan dunia partisipasi publik dan mau bergabung dengan IAP2 Indonesia, silahkan kontak kami. Salam hangat dari kami dan selamat berkarya demi kemajuan Bangsa Indonesia. Tetap terus ikuti kami untuk mendapatkan informasi terbaru.

Senin, 01 Oktober 2018 12.08 WIB

perhelatan seminar nasional masyarakat sipil Indonesia untuk SDGs 2018

Seminar Nasional Masyarakat Sipil Indonesia untuk SDGs 2018

Jakarta – Perwakilan IAP2 Indonesia turut serta hadir dalam acara Seminar Nasional SDGs yang dilaksanakan oleh INFID (International NGO Forum on Indonesian Development) pada hari Kamis 20 September 2018 di Hotel Aryaduta, Jakarta, mengangkat tema Konsolidasi Pemangku Kepentingan Dalam Pelaksanaan dan Pencapaian SDGs di Indonesia. Pada tanggal 25-27 September 2015, telah dikeluarkannya program SDGs (Sustainable Development Goals) yang juga disahkan untuk menggantikan agenda pembangunan global pertama yaitu MDGs (Millenium Development Goals) yang telah berakhir pada tahun 2015 oleh PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa). Dimana Indonesia turut terlibat aktif didalam penyusunan SDGs.  Periode SDGs ini berlangsung pada tahun 2015-2030. Kita melihat selama 3 tahun belakangan ini semenjak program SDGs (Sustainable Development Goals) diimplementasikan, masih terdapat beberapa pekerjaan rumah, yang belum harus dilanjutkan dan diselesaikan.

Perlu kita ketahui bahwa didalam agenda 2030 SDGs terdapat 17 Tujuan, 169 Target dan dengan 241 Indikator.  Untuk dapat menjamin keberhasilan dari pencapaian ke 17 Tujuan tersebut, diperlukan sinergitas yang baik dari pihak-pihak organisasi masyarakat sipil, pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, filantropi, media dan akademisi.

Berdasarkan agenda 2030 SDGs tersebut pemerintah Indonesia telah mengeluarkan PP No. 59 tahun 2017 tentang pelaksanaan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) oleh Bapak Presiden Ir. Joko Widodo pada bulan Juli 2017. PP ini menjadi landasan hukum dalam pengimplementasian SDGs di Indonesia, selain itu Pemerintah juga mengeluarkan Surat Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor Kep. 64/ M.PPN/ HK/ 04/ 2018 tentang pembentukan Tim Pelaksana, Kelompok Kerja, dan Tim Pakar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2017-2019.

Maka dari itu ditunjuklah Kementerian PPN (Pembangunan dan Perencanaan Nasional) / BAPPENAS untuk memimpin upaya pengimplementasian agenda 2030 SDGs agar terwujud dari tingkat nasional hingga daerah. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Bambang P. S. Brodjonegoro selaku Menteri PPN (Perencanaan Pembangunan Nasional) / BAPPENAS, dimana agenda 2030 SDGs ini melibatkan apa yang disebut 5P (People, Prosperity, Peace, Partnership, dan Planet). Singkat penjelasan dari 5P adalah bagaimana kita menyejahterakan masyarakat, memastikan tidak ada lagi kemiskinan, manusia bisa hidup damai, dapat berpartisipasi dan lingkungan tetap terjaga kelestariannya.

Pencapaian dari pengimpelementasian agenda 2030 SDGs yang diraih pemerintah saat ini masih perlu ditingkatkan lagi. Dalam hal ini ada beberapa hal yang belum dituntaskan diantaranya adalah belum adanya peta jalan (road map), mekanisme keterlibatan dan kerja sama multi-pihak ditingkat nasional dan daerah, serta mekanisme pertanggungjawabannya, hingga visi pendanaan jangka panjang.Tentu hal ini harus secepatnya diselesaikan melihat sudah berjalan 3 tahun semenjak agenda 2030 SDGs ini diimplementasikan di Indonesia.

Namun, kita tak dapat menafikan bahwa jauh sebelum SDGs ini lahir, para pendahulu kita sudah mengimplementasikan nilai-nilai SDGs dalam pembangunan Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang tertulis “…untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”.

Memanfaatkan momentum terbitnya SDGs ini dapat menjadi energy positif dalam melanjutkan cita-cita para leluhur pendiri Bangsa Indonesia, dengan bersama-sema semua pihak lebih giat lagi untuk dapat mewujudkan 17 Tujuan SDGs di skala nasional dan daerah. Mengingat bahwa sebetulnya SDGs ini sebagai Hak Asasi Manusia (HAM) maka dari itu menjadi kewajiban kita bersama untuk mewujudkannya, yang kuat membantu yang lemah, yang berada membantu yang miskin.

Tentu 17 Tujuan SDGs ini terlihat saling terkait satu sama lain, misalnya saja jika kita ingin bekerja tentu kita harus sehat. Ini sangat kompleks, maka dari itu tidak cukup hanya bermodal PP dan Peraturan Kementerian perlu juga komitmen dari semua pihak (pemerintah/non pemerintah) untuk mewujudkannya.

Seperti kata pepatah Cina mengatakan, “Katakan padaku, aku lupa. Tunjukan padaku, aku ingat. Libatkan aku, aku mengerti”. Pelibatan publik/masyarakat, pemangku kepentingan dan pengambil keputusan perlu dilakukan untuk menghindari konflik dikemudian hari dan demi menciptakan/menghadirkan keputusan yang berkelanjutan. Dimana keputusan yang berkelanjutan atau sustainable decisions ini dapat menghadirkan 4 kelebihan yaitu technically feasible (layak secara teknis), publicly acceptable (dapat diterima publik), environmentally compatible (ramah lingkungan) dan economically viable (ekonomis). Kita tahu bahwa 3 dari 4 aspek tersebut masuk kedalam dimensi pembangunan berkelanjutan atau sustainability development yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Keterkaitan dengan 3 dimensi dari pembangunan yang berkelanjutan itu hadirlah 17 Tujuan SDGs.

IAP2 melihat 17 Tujuan SDGs ini sebagai kesempatan bukan sebagai masalah. Pelibatan publik dalam mengatasi kekurangan yang terdapat dalam mempercepat proses pengimplementasian agenda 2030 SDGs dapat menjadi salah satu solusinya. Salah satu kekurangannya dimana belum adanya road map tentu ini merupakan hal yang dapat menjadi peran bagi pelibatan publik mengambil tempat. Pembuatan road map  itu sendiri perlu adanya indikator yang memliki measurement yang terukur, disamping itu juga diperlukan dukungan data kualitatif untuk menyusunnya, namun yang ada di lapangan sekarang data yang tersedia hanya berupa data kuantitatif, ini menjadi tantangan tersendiri bagi Tim Bappenas SDGs untuk menjalankan tugasnya.

Namun perlu diketahui bahwa menjalankan proses partisipasi publik bukan hanya sekedar memanggil masyarakat sipil untuk hadir duduk didalam satu meja bersama. Namun lebih dari itu, jika ingin menghadirkan hasil yang efektif perlu adanya implementasi dari dasar-dasar partisipasi publik itu sendiri. Kita tahu bahwa partisipasi publik yang baik akan menghasilkan keputusan yang lebih baik. Maka daripada itu pemahaman akan partisipasi publik yang efektif perlu disadari dan dihadirkan bagi setiap pengemban 17 Tujuan SDGs baik dari sisi pemerintah dan non pemerintah. Untuk itu IAP2 Indonesia memandang proses pelibatan publik dan pemahamannya ini menjadi suatu urgensi jika ingin mempercepat proses pencapaian 17 Tujuan SDGs di Indonesia.

Kamis, 27 September 2018 15.41 WIB

teknik dalam partisipasi publik saat pelatihan dasar-dasar partisipasi publik berlansung

Review Hari Keempat di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik 30 Juli – 03 Agustus 2018 (2)

Masih ingat teknik apa saja yang kita bahas diartikel sebelumnya kan? Yup, betul sekali, teknik world cafes dan wawancara. Sekarang kita mau bahas teknik fishbowl. Fishbowl? Iya beneran nama tekniknya “fishbowl”, bingung kenapa dinamakan fishbowl. Yuk, kita simak penjelasannya. Pertama-tama pelatih menyampaikan manfaat atau keunggulan dari teknik ini, diantaranya adalah untuk mengamati pengambil keputusan, anggota publik atau ahli teknis dalam diskusi terbuka, membangun tingkat kepercayaan dalam proses keterlibatan pemangku kepentingan, menunjukan rasional dibalik proses pengambilan kepetusan, dan meningkatkan pemahaman tentang alasan keputusan.

Dalam teknik fishbowl ini termasuk kedalam kategori konsultasikan (consult) dan atau libatkan (involve). Teknik dalam menyatukan orang bersama ini dapat dilakukan manakala tingkat kepercayaan masyaraka rendah, serta untuk membantu membuka suatu proses sehingga publik dapat melihat alasan yang berkembang dan memahami alasan-alasan untuk pengambilan keputusan seiring berjalannya proses. Seperti terlihat pada gambar di atas, pelatih sedang mensimulasikan teknik fishbowl ini, dimana tiga orang selaku ahli teknis dan pengambil keputusan dan satu orang lagi sebagai fasilitator. Dalam teknik fishbowl ini diperkenankan masyarakat yang hadir untuk dapat bertanya hal lebih lanjut lagi. Nah, simulasi ini seperti ibarat menyaksikan ikan didalam fishbowl, publik dapat melihat/menyaksikan secara jelas didepan mata mereka, dan dapat saling berinteraksi.

Ada lagi teknik yang lainnya, dengan nama yang unik, bukan hanya sekedar nama unik tetapi juga merepresentasikan dari konsep teknik itu sendiri. Teknik selanjutnya adalah nominal grup. Dalam nominal grup ini serupa seperti berdiskusi dalam kelompok kecil, untuk mengembangkan serangkaian prioritas tindakan. Proses ini melibatkan identifikasi masalah, penciptaan solusi, dan pengambilan keputusan.  Teknik ini dapat dikombinasikan dengan teknik lainnya, Terdapat petunjuk utama dalam melakukannya. Diantaranya adalah hanya ada satu pertanyaan kunci yang harus digunakan dalam suatu sesi untuk mempertahankan focus dan tujuan yang jelas, tanggapan dikumpulkan satu persatu dan ditulis pada flip chart sampai semua tanggapan terkumpul.

Para peserta kemudian diminta untuk memeringkat urunan tanggap-tanggapan tersebut. Tanggapan yang berdasarkan kumpulan dari para peserta tersebut kemudian oleh para peserta dipilih 5 yang menurut mereka pribadi paling penting atau utama. Setelah itu pelatih meminta para peserta melakukan scoring terhadap lima tanggapan pilihannya. Aturan dalam pemberian scoring mulai dari point terbesar 5 hingga paling kecil 1, angka 5 untuk yang paling penting, hingga angka 1 untuk yang paling tidak penting. Setelah dilakukan per-score-an maka hasilnya dijumlahkan, dari sana akan terlihat mana tanggapan/isu/hal yang paling penting dan utama diketahui bedasarkan jumlah terbesar yang didapatkan, hingga berurutan mendapatkan 5 tanggapan yang paling tinggi nilai pointnya.

Dengan begini akan memudahkan kita untuk dapat memilih mana-mana saja tanggapan/isu/hal yang akan menjadi bahan utama untuk diproses dalam pengambilan keputusan selanjutnya. Bagaimana, tambah penasaran dengan teknik-teknik lain yang tak kalah efektifnya. Oke, langsung kita bahas teknik lainnya.

Pernah dengar istilah open space? Belum? Mungkin ada istilah yang serupa tapi tak sama, seperti open source, open house, dan lainnya. Nah, open space ini nama teknik yang bakal kita bahas nih. Open space ini adalah pertemuan mandiri dimana para peserta membuat dan merancang agenda sendiri. Didalam spectrum IAP2 ini termasuk kedalam kategori libatkan (involve) dan bisa juga masuk kategori kolaborasi (collaborate).  Dalam open space ini terdapat petunjuk utama diantaranya adalah temukan ruang dan waktu yang cukup untuk mengakomodasi beberapa kelompok secara terpisah.

Hal ini dilakukan untuk memfasilitasi mereka yang marah dan merasa tidak berdaya untuk dapat merasa diberikan tindakan secara langsung atau direspon langsung dan dapat menentukan nasib sendiri seperti misalnya para korban benca alam yang sudah lama tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dimana perlu penanganan yang cepat dan memenuhi kebutuhan mendesak.  Open space ini juga dapat mengakomodir kelompok besar dengan beragam kepentingan untuk mengatasi isu dan kekhawatiran mereka seperti kelompok penyandang disabilitas, masyarakat asli. Menarik bukan? Bayangkan, banyaknya teknik yang dapat digunakan sesuai kebutuhan mana yang lebih efektif.

Tak berasa kita sudah dipenghujung artikel. Namun jangan khawatir, masih ada satu teknik lagi yang kita dibahas disni. Setelah penjelasan mengenai open space, pelatih melanjutkan ke teknik lainnya yaitu Citizen Juries. Citizen Juries merupakan suatu proses mengumpulkan panel perwakilan warga yang dipilih secara acak dan demografis selama periode waktu yang disepakati untuk secara hati-hati memeriksa suatu isu dan memberikan rekomendasi kepada pengambil keputusan dan publik. Ada beberapa karakteristik dari teknik Citizen Juries diantaranya adalah pemilihan acak, perwakilan, terinformasikan, netral/tidak memihak, dan musyawarah/konsultatif. Citizen Juries ini masuk kedalam spectrum IAP2 kategori berkolaborasi (collaborate) dan juga menguasakan (empower). Ditingkat berkolaborasi citizen juries memberikan rekomendasi kepada pengambli keputusan dan publik dan terkadang ditingkat berdayakan citizen juries diberi wewenang untuk mengambil keputusan. Teknik ini bisa digunakan untuk melibatkan warga dalam dialog berkualitas tinggi tentang isu utama, dan mengembangkan solusi dari permasalahan atau isu yang sedang dihadapi. Akan masih ada kelanjutannya dari teknik efektif partisipasi publik. Tunggu diartikel kami yang segera publish.

Admin, IAP2 Indonesia | Senin, 24 September 2018 09.33 WIB

Review Hari Keempat di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik 30 Juli – 03 Agustus 2018 (1)

Sudah siap dengan review yang akan kita bahas kali ini pada pelatihan dasar?, langsung saja tanpa banyak basa-basi lagi kita akan masuk ke pembahasan modul yang kedua yaitu teknik efektif partisipasi publik. Masuk di hari keempat ini pelatih memulai pembahasannya melalui slide presentasinya, terdapat point-point dari materi yang akan dibahas. Beberapa point yang dipaparkan diantaranya adalah pengalaman melakukan teknik partisipasi publik yang disebut World Café yaitu memperkenalkan teknik untuk berbagi informasi, teknik untuk mengumpulkan dan menyusun informasi, dan teknik untuk menyatukan orang bersama.

Selanjutnya pada modul kedua, pelatih memulai dengan mengadakan simulasi menggunakan salah satu teknik dalam mengumpulkan orang bersama yaitu World Café. Trainer pelatihan dasar ini menyampaikan aturan mainnya, peserta dibagi menjadi 3 kelompok, dan ditiap meja ditentukan pembahasannya untuk kasus yang sudah ditentukan untuk dibahas. Dalam sesi ini pembahasannya adalah apa tantangan utama yang anda hadapi dalam pelibatan pemangku kepentingan, dan apa yang mungkin menjadi faktor pendukungnya, waktu yang diberikan hanya 25 menit. Tentunya waktu tersebut bagi sebagian orang mungkin kurang namun setiap “permainan” pasti ada rules-nya bukan?. Dan ini merupakan simulasi yang apabila dilakukan pada prakteknya bisa lebih cepat atau lama.

Oke, “rules” selanjutnya adalah disetiap meja harus ada yang menjadi pencatat pendapat dari tiap peserta setelah dilakukan pencatatan semuanya, kemudian tiap peserta harus pindah berganti dengan peserta dari kelompok lainnya untuk saling bertukar pendapatnya, dan si pencatat tetap berada dimejanya untuk mencatat “suara” dari peserta dari kelompok lainya, sekaligus menyampaikan apa hasil rangkuman dari apa yang dicatatnya. Setelah waktu habis, tiap peserta diminta duduk ditempatnya masing-masing, dan pelatih menyampaikan beberapa karakteristik dari World Café ini diantaranya adalah penampilan informal dengan basis terstruktur, pergerakan orang, pertanyaan-pertanyaan awal dan pertanyaan-pertanyaan yang belum kita dapatkan jawabannya, kontribusi, keingintahuan, energy tinggi. Seperti pada kutipan dari Adam Kahane “To change the world is to change the way you talk and listen”, diskusi ini merupakan bentukan untuk menyatukan/mengumpulkan orang dalam satu forum bukan hanya berbicara dan ingin didengar tetapi juga mendengarkan pendapat atau pandangan orang lain. Mari kita mulai berlatih berdiskusi yang baik dan santun sejak sekarang.

Mungkin Anda bertanya-tanya apa lagi sih yang menjadi “identitas” dari teknik World Cafes. Apakah ada prinsip didalamnya? Yup, Anda benar sekali. World Cafes ini memiliki 7 prinsip diantaranya adalah mengenali konteks yang dibahas, menghadirkan ruang yang ramah, mengeksplorasi pertanyaan yang penting, mendorong setiap orang untuk berkontribusi, menghubungkan beragam sudut pandang, saling mendengar untuk menambah wawasan, berbagi setiap penemuan yang dikumpulkan. Selain dari pada didukung oleh 7 prinsip tersebut, ada 3 elemen penting dalam mengajukan pertanyaan didalamnya, diantaranya adalah pertanyaan yang dilempar harus bersifat terbuka, ruang lingkup, dan tidak ada asumsi.

Setelah diskusi selesai dilakukan, kemudian pelatih meminta kepada tiap peserta untuk mengambil kertas A5 masing-masing tiga lembar, kemudian peserta diminta untuk menuliskan tiga hal penting menurut anda dari diskusi “World Cafes” tadi bukan tentang prosesnya, dituliskan masing-masing 1 hal ditiap lembar kertas. Kemudian dari 3 hal yang sudah ditulis tadi pelatih pelatihan dasar meminta peserta untuk merumuskan buah pikirannya kedalam sebuah kalimat minimal 5-7 kata di atas sebuah kertas A5 dengan tulisan besar menggunakan spidol teknik ini dinamakan card storming. Card storming adalah proses untuk mengumpulkan masukan atau tanggapan terhadap pertanyaan dari sejumlah besar orang dengan cara yang membantu mengidentifikasi banyak ide dan isu tentang suatu topik dan kemudian mengaturnya ke dalam kelompok yang biasa. Semua orang merasa dilibatkan dan dapat melihat kontribusi mereka terkandung dalam pemikiran kelompok. Keuntungan menyampaikan pendapat dengan teknik card storming para peserta tak perlu sungkan atau malu untuk mengungkapkan pendapatnya. Kemudian semua orang dapat membca pendapat dari masing-masing peserta dan mengelempokannya pada topik yang sama.

Simulasi dari teknik World Cafes dapat berjalan dengan baik dan semua peserta begitu antusias menjalankannya dan merasakan keefektifan dari salah satu teknik partisipasi publik ini yang terklasifikasi kedalam spectrum IAP2 yaitu libatkan (involve), berkolaborasi (collaborate), dan menguasakan (empower). Membaca keseruan dari simulasi ini berlangsung, pasti membuat Anda ingin menerapkannya juga kan sekarang?.

Eiits, tunggu dulu, jangan sekarang ini juga, karena masih ada banyak teknik lainnya yang bisa dipakai, oke kita lanjut. Setelah simulasi selesai dilakukan kemudian pelatih pelatihan dasar meminta peserta untuk memberikan/menempelkan stiker tanda lingkaran hijau (sudah mengerti) dan tanda lingkaran merah (belum mengerti), disetiap kartu-kartu yang tertulis nama-nama teknik dalam partisipasi publik, diantaranya ada yang sudah begitu familiar ada yang masih asing namanya. Ketika pemberian stiker warna tersebut selesai, pelatih menjelaskan tujuan dari apa yang dilakukan oleh peserta tadi. Hal ini dilakukan guna memberikan gambaran singkat untuk pelatih dapat mengetahui teknik-teknik mana yang akan dijadikan bahan penjelasan lebih dalam lagi dihari berikutnya, dan mengingat singkatnya waktu pelatihan, dan banyaknya teknik yang dapat dilakukan dalam partisipasi publik. Nah, langsung saja kita lanjut ke pembahasan teknik yang lain. Check this out!

Kalau Anda bertanya-tanya, memang ada teknik yang sama efektifnya selainnya world cafes? Iya, ada kok, yaitu teknik wawancara. Hah wawancara? Itu kan biasa. Pasti dari Anda ada yang terbesit seperti ini, tunggu dulu, mari kita simak bersama-sama penjelasannya. Diruang kelas pelatih memberikan gambaran dari apa dan bagaimana bentuk dari salah satu teknik mengumpulkan dan menyusun masukan. Teknik wawancara ini termasuk kedalam klasifikasi dari spectrum IAP2 yaitu informasikan (inform) dan mengkonsultasikan (consult).  Didalam slide presentasinya pelatih pelatihan dasar menyampaikan kegunaan dari teknik wawancara diantaranya adalah mengumpulkan informasi untuk merancang proses partisipasi publik, digunakan dalam memfasilitasi proses partisipasi publik, untuk dapat menemukan informasi sensitif/konflik/opini yang tidak popular, menemukan opini yang kuat sebelum mereka menghadiri pertemuan publik, dan mempersiapkan individu untuk berpartisipasi dalam pertemuan yang lebih besar skalanya. Nah, bagaimana, tentu dari kita tidak banyak menyadari kalau wawancara itu bukan sekedar wawancara belaka, yang hanya mengajukan segrombolan pertanyaan dan minta dijawab. Masih ingin tahu teknik apa lagi sih yang ada didalam partisipasi publik? Stay tune di artikel berikutnya.

Jumat, 21 September 2018 11.20 WIB

Review Hari Ketiga di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik (3)

Masih ingat apa langkah selanjutnya setelah dilakukan identifikasi teknik, yang kita bahas diawal artikel?, yup, betul sekali, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah identifikasi elemen pendukung untuk implementasi rencana. Menerapkan rencana partisipasi publik membutuhkan penerapan elemen dukungan dasar. Ini termasuk waktu (yaitu, penjadwalan); sumber daya (mis. anggaran, personil, dll.); rencana komunikasi pendukung, dan peran serta tanggung jawab yang ditentukan.

Rencana partisipasi publik perlu memuat jadwal waktu terperinci dari proses pengambilan keputusan serta kegiatan partisipasi publik dalam proses keputusan tersebut. Informasi yang akan diberikan kepada publik dan masukan/saran dari publik harus diatur waktunya sehingga hak publik untuk mendapatkan kesempatan dalam mempengaruhi proses keputusan dapat terfasilitasi dengan baik. Sudah menjadi hal umum dimana seringkali tenggat waktu keputusan/jadwal proyek menentukan jadwal waktu dari partisipasi masyarakat.

Perencanaan untuk anggaran dan sumber daya juga tak kalah pentingnya dalam rencana partisipasi publik. Penganggaran untuk partisipasi publik merupakan hal yang perlu dipantau. Jangan memulai proses partisipasi publik yang membutuhkan sumber daya yang tidak tersedia. Pastikan rencana partisipasi publik berisi perkiraan anggaran terperinci dan identifikasi semua sumber pendanaan. Selanjutnya adalah membuat perencanaan untuk peran dan tanggung jawab. Peran dan tanggung jawab hadir dalam tiga konteks, diantaranya adalah konten (mereka yang menyediakan, menerima, dan menganalisis data), proses (mereka yang mendesain dan mengimplementasikan proses), hubungan (mereka yang berinteraksi dengan para pemangku kepentingan).

Detail operasional, identifikasi dini terhadap kebutuhan operasional proses diperlukan. Lebih detailnya adalah identifikasi dan persiapkan untuk lokasi‐lokasi potensial yang memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan dan teknik, ukuran fasilitas dan akustik, kebutuhan peralatan audio‐visual, pameran/gambar, catering, persyaratan kepegawaian, asuransi, kebutuhan lainnya. Persiapkan rencana komunikasi, buat draf rencana komunikasi untuk mendukung rencana partisipasi publik Anda. Informasi tentang unsur‐unsur yang perlu dipertimbangkan untuk dimasukkan dapat ditemukan di bagian modul perencanaan efektif partisipasi publik. Kombinasi penjelasan dari pelatih dengan slidenya dan modul dapat menjadi pembuka wawasan yang cukup mumpuni.

Tak berasa sudah berada dipenghujung artikel, inilah langkah atau kegiatan terakhir dalam merancang rencana partisipasi publik, tidak lain dan tidak bukan adalah menetapkan metodologi evaluasi. Kenapa sih perlu evaluasi?

Evaluasi selama proses adalah untuk mengujinya dalam kata lain untuk mengidentifikasi bidang-bidang yang perlu ditingkatkan dan menyelesaikan masalah yang muncul, meninggalkan evaluasi hingga akhir proses partisipasi mengurangi nilainya. Sebagai penutup dari pembahasan modul perencanaan efektif dari partisipasi publik, pelatih selanjutnya menjelaskan perencanaan komunikasi dan partisipasi publik.

Mulai dari model dasar komunikasi, mitos komunikasi, pengembangan pesan utama, komunikasi resiko, persepsi resiko, memahami nilai/kebutuhan/motivasi/pemangku kepentingan, dan menutup rangkaian (closing the loop). Bagaimana, sudah paham mengenai perencanaan efektif partisipasi publik?. Sudah merasa puas dengan review ini?, kurang lengkap? Yaa, namanya juga review, ringkasannya saja, namun jangan berkecil hati, review ini tidak berhenti disini saja. Masih ada kelanjutannya, akan bersambung modul kedua yaitu teknik efektif partisipasi publik. Tunggu diartikel kami yang segera publish.

pelatihan dasar-dasar partisipasi publik 2018

Review Hari Ketiga di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik (2)

Diartikel sebelumnya sudah sama-sama kita bahas apa sih itu format rencana pada pelatihan dasar-dasar partisipasi publik. Nah, untuk bahasan kali ini masih menyinggung tentang mengintegrasikan data dasar kedalam dokumen. Saat kita ingin membuat ringkasan eksekutif perlu juga untuk memastikan bahwa informasi yang disajikan berupa elemen-elemen utama dari setiap bagian yang mana diharapkan dengan dokumen ringkasan ini dapat membantu membangun dan meningkatkan praktik partisipasi publik.

Untuk menghadirkan itu diperlukan ringkasan komprehensif yang dapat mendidik para pengambil keputusan tentang manfaat partisipasi publik, dapat menjadi kebutuhan sumber daya untuk upaya pribadi, terdapat studi kasus yang komprehensif untuk rekan kerja, dan selain dari pada itu dapat berfungsi sebagai alat pemasaran dalam mempromosikan partisipasi publik untuk tim proyek, lembaga serta pengambil keputusan di masa depan. Nah, tentu kita semua tahu dalam membuat isi ringkasan ini ada yang namanya proses. Apa sih yang diproses, yang pastinya adalah data dan komentar yang sudah didapatkan sebelumnya.

Pelatih memberikan sedikit gambaran perjalanan proses melalui slidenya, mengenai manajemen data & komentar. Terdapat perjalanan dari data hingga menjadi sebuah tindakan atau keputusan untuk masa depan. Data yang berupa kata, frasa, pendapat, film, gambar, foto maupun lembaran form yang pengisiannya dengan tanda centang/silang/peringkat (emoticon senyum/bintang, dan lain sebagainya). Kemudian data diolah menjadi informasi (pengumpulan data berupa grafik, ringkasan bertema, words cloud, dan lain sebagainya).

Informasi tersebut digunakan untuk menambah wawasan/pengetahuan dengan melakukan analisa (apa pesan dibalik informasi yang diberikan, dan atau apa makna yang bisa kita peroleh dari ini). Dari wawasan/pengetahuan tersebut kemudian diolah untuk mendapatkan sebuah tindakan atau keputusan terhadap suatu kasus untuk ditangani yang berorientasi pada masa depan (apa yang mungkin kita lakukan sebagai hasil dari pengetahuan atau analisis ini?). Pembahasan semakin seru dan menarik, mari kita berlanjut ke kegiatan selanjutnya.

Seperti yang sudah kita bahas di awal artikel tentang kegiatan dari rencana partisipasi publik, dimana langkah selanjutnya adalah mengidentifikasikan teknik yang mendukung sasaran partisipasi publik. Format untuk partisipasi publik dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu diantaranya adalah berbagi informasi (melalui rilis berita, lembar fakta, situs web non-interaktif), kumpulkan dan koleksi input/masukan (melalui ringkasan komentar, instrumen survey, laporan survey, voting), dan menyatukan orang-orang bersama (melalui open house, percakapan bergulir, ruang obrolan, kelompok-kelompok kecil, sesi pemangku kepentingan).

Di dalam modul pelatihan terdapat gambaran umum tentang sejumlah teknik untuk berbagi informasi, menyatukan orang‐orang bersama dan mengumpulkan data serta umpan balik. Kesemua teknik tersebut di atas dapat Anda gunakan sesuai kebutuhannya. Cukup rinci penjelasan dari pelatih dalam pelatihan ini, dibantu dengan keterangan yang ada di modul. Dengan banyak macam teknik tentunya dapat membuat partisipasi publik jadi lebih fleksibel bukan?. Apa dan bagaimana pembahasan lanjutannya, tunggu di artikel berikutnya…(Bersambung)

Review Hari Ketiga di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik (1)

Di edisi review kali ini kita akan mengulik apa saja sih yang dibahas pada hari ketiga pelatihan sejak tanggal 30 Juli 2018 hari senin lalu. Masih dilanjutkan dengan mengupas tuntas modul perencanaan efektif dari partisipasi publik, pelatih menyampaikan langkah yang ke-5 atau langkah yang terakhir dilakukan dalam proses 5 langkah perencanaan, yaitu merancang rencana partisipasi publik.

Ada lima kegiatan yang dilakukan didalamnya diantaranya adalah; menentukan format dari pilihan yang sederhana atau kompleks, mengintegrasikan data dasar ke dalam rencana, mengidentifikasi teknik yang mendukung sasaran partisipasi publik yang pada gilirannya mendukung langkah-langkah dalam proses pengambilan keputusan, mengidentifikasi elemen pendukung untuk implementasi rencana, termasuk perencanaan komunikasi, dan yang terakhir menetapkan metodologi evaluasi. Lalu apa dan bagaimana maksud dari semua kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan di atas?, mari kita simak bersama-sama penjelasannya berikut ini.

Oke, kita bahas pada kegiatan yang pertama yaitu tahap pembuatan format rencana. Format rencana dapat dibuat secara sederhana atau juga kompleks, bergantung pada persyaratan pengambil keputusan, pengalaman profesional partisipasi publik, sifat proyek/inisitif, serta kebutuhan masyarakatnya seperti apa. Jika dibuat dalam bentuk sederhana maka keterangan atau informasi yang diperlukan didalamnya adalah apa yang dilakukan, kapan akan dilakukan, dengan siapa akan melakukannya, oleh siapa saja dan dimana akan dilakukan.

Lain halnya jika yang dibuat adalah berupa dokumen yang lebih kompleks, akan berisi lebih detail, dilengkapi alasan dan data. Apapun sifat dokumennya jika dirancang dengan matang akan dapat berfungsi baik sebagai panduan implementasi, dan sebagai dokumen historis dari pelaksanaan rencana dan hasil. Nah, format mana yang akan Anda gunakan, sederhana atau kompleks?, tidak ada aturan baku dan pemaksaan terserah pada Anda. Sudah siap dengan kegiatan yang selanjutnya?, let’s jump into it.

Setelah Anda memantapkan langkah menjadi “tim” format sederhana atau “tim” format kompleks, kemudian langkah selanjutnya adalah mengintegrasikan data dasar kedalam dokumen. Data yang akan diintegrasikan harus benar-benar jelas dan ringkas. Data yang tertera termasuk latar belakang, gambaran umum proyek, ringkasan pemangku kepentingan dan isu, keputusan untuk mengatasi masalah dan peluang, langkah-langkah proses keputusan, tujuan langkah keputusan, dan tujuan proses partisipasi publik.

Selain dari pada itu, dapat juga ditambahkan di setiap bagian-bagian dalam proses partisipasi publik yaitu; hasil yang di capai dalam setiap bagian (produk, keputusan yang tercapai, hubungan yang di perkuat, liputan media), tantangan yang di hadapi dan bagaimana penanganannya, pelajaran yang di petik dan perbaikan yang perlu dilakukan kedepannya. Data tersebut tentunya perlu waktu untuk mengumpulkannya bukan?, namun jangan khawatir karena apa-apa yang dipersiapkan di atas itu nantinya akan memberi kemudahan untuk kita juga kok, misalnya kalau kita butuh menyiapkan atau membuat ringkasannya yang biasa juga disebut dengan ringkasan eksekutif. Apa dan bagaimana pembahasan lanjutannya, tunggu di artikel berikutnya…(Bersambung)

Senin, 17 September 2018. 14.37 WIB