Beranda » Archives for September 2018

Month: September 2018

perhelatan seminar nasional masyarakat sipil Indonesia untuk SDGs 2018

Seminar Nasional Masyarakat Sipil Indonesia untuk SDGs 2018

Jakarta – Perwakilan IAP2 Indonesia turut serta hadir dalam acara Seminar Nasional SDGs yang dilaksanakan oleh INFID (International NGO Forum on Indonesian Development) pada hari Kamis 20 September 2018 di Hotel Aryaduta, Jakarta, mengangkat tema Konsolidasi Pemangku Kepentingan Dalam Pelaksanaan dan Pencapaian SDGs di Indonesia. Pada tanggal 25-27 September 2015, telah dikeluarkannya program SDGs (Sustainable Development Goals) yang juga disahkan untuk menggantikan agenda pembangunan global pertama yaitu MDGs (Millenium Development Goals) yang telah berakhir pada tahun 2015 oleh PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa). Dimana Indonesia turut terlibat aktif didalam penyusunan SDGs.  Periode SDGs ini berlangsung pada tahun 2015-2030. Kita melihat selama 3 tahun belakangan ini semenjak program SDGs (Sustainable Development Goals) diimplementasikan, masih terdapat beberapa pekerjaan rumah, yang belum harus dilanjutkan dan diselesaikan.

Perlu kita ketahui bahwa didalam agenda 2030 SDGs terdapat 17 Tujuan, 169 Target dan dengan 241 Indikator.  Untuk dapat menjamin keberhasilan dari pencapaian ke 17 Tujuan tersebut, diperlukan sinergitas yang baik dari pihak-pihak organisasi masyarakat sipil, pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, filantropi, media dan akademisi.

Berdasarkan agenda 2030 SDGs tersebut pemerintah Indonesia telah mengeluarkan PP No. 59 tahun 2017 tentang pelaksanaan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) oleh Bapak Presiden Ir. Joko Widodo pada bulan Juli 2017. PP ini menjadi landasan hukum dalam pengimplementasian SDGs di Indonesia, selain itu Pemerintah juga mengeluarkan Surat Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor Kep. 64/ M.PPN/ HK/ 04/ 2018 tentang pembentukan Tim Pelaksana, Kelompok Kerja, dan Tim Pakar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2017-2019.

Maka dari itu ditunjuklah Kementerian PPN (Pembangunan dan Perencanaan Nasional) / BAPPENAS untuk memimpin upaya pengimplementasian agenda 2030 SDGs agar terwujud dari tingkat nasional hingga daerah. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Bambang P. S. Brodjonegoro selaku Menteri PPN (Perencanaan Pembangunan Nasional) / BAPPENAS, dimana agenda 2030 SDGs ini melibatkan apa yang disebut 5P (People, Prosperity, Peace, Partnership, dan Planet). Singkat penjelasan dari 5P adalah bagaimana kita menyejahterakan masyarakat, memastikan tidak ada lagi kemiskinan, manusia bisa hidup damai, dapat berpartisipasi dan lingkungan tetap terjaga kelestariannya.

Pencapaian dari pengimpelementasian agenda 2030 SDGs yang diraih pemerintah saat ini masih perlu ditingkatkan lagi. Dalam hal ini ada beberapa hal yang belum dituntaskan diantaranya adalah belum adanya peta jalan (road map), mekanisme keterlibatan dan kerja sama multi-pihak ditingkat nasional dan daerah, serta mekanisme pertanggungjawabannya, hingga visi pendanaan jangka panjang.Tentu hal ini harus secepatnya diselesaikan melihat sudah berjalan 3 tahun semenjak agenda 2030 SDGs ini diimplementasikan di Indonesia.

Namun, kita tak dapat menafikan bahwa jauh sebelum SDGs ini lahir, para pendahulu kita sudah mengimplementasikan nilai-nilai SDGs dalam pembangunan Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang tertulis “…untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”.

Memanfaatkan momentum terbitnya SDGs ini dapat menjadi energy positif dalam melanjutkan cita-cita para leluhur pendiri Bangsa Indonesia, dengan bersama-sema semua pihak lebih giat lagi untuk dapat mewujudkan 17 Tujuan SDGs di skala nasional dan daerah. Mengingat bahwa sebetulnya SDGs ini sebagai Hak Asasi Manusia (HAM) maka dari itu menjadi kewajiban kita bersama untuk mewujudkannya, yang kuat membantu yang lemah, yang berada membantu yang miskin.

Tentu 17 Tujuan SDGs ini terlihat saling terkait satu sama lain, misalnya saja jika kita ingin bekerja tentu kita harus sehat. Ini sangat kompleks, maka dari itu tidak cukup hanya bermodal PP dan Peraturan Kementerian perlu juga komitmen dari semua pihak (pemerintah/non pemerintah) untuk mewujudkannya.

Seperti kata pepatah Cina mengatakan, “Katakan padaku, aku lupa. Tunjukan padaku, aku ingat. Libatkan aku, aku mengerti”. Pelibatan publik/masyarakat, pemangku kepentingan dan pengambil keputusan perlu dilakukan untuk menghindari konflik dikemudian hari dan demi menciptakan/menghadirkan keputusan yang berkelanjutan. Dimana keputusan yang berkelanjutan atau sustainable decisions ini dapat menghadirkan 4 kelebihan yaitu technically feasible (layak secara teknis), publicly acceptable (dapat diterima publik), environmentally compatible (ramah lingkungan) dan economically viable (ekonomis). Kita tahu bahwa 3 dari 4 aspek tersebut masuk kedalam dimensi pembangunan berkelanjutan atau sustainability development yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Keterkaitan dengan 3 dimensi dari pembangunan yang berkelanjutan itu hadirlah 17 Tujuan SDGs.

IAP2 melihat 17 Tujuan SDGs ini sebagai kesempatan bukan sebagai masalah. Pelibatan publik dalam mengatasi kekurangan yang terdapat dalam mempercepat proses pengimplementasian agenda 2030 SDGs dapat menjadi salah satu solusinya. Salah satu kekurangannya dimana belum adanya road map tentu ini merupakan hal yang dapat menjadi peran bagi pelibatan publik mengambil tempat. Pembuatan road map  itu sendiri perlu adanya indikator yang memliki measurement yang terukur, disamping itu juga diperlukan dukungan data kualitatif untuk menyusunnya, namun yang ada di lapangan sekarang data yang tersedia hanya berupa data kuantitatif, ini menjadi tantangan tersendiri bagi Tim Bappenas SDGs untuk menjalankan tugasnya.

Namun perlu diketahui bahwa menjalankan proses partisipasi publik bukan hanya sekedar memanggil masyarakat sipil untuk hadir duduk didalam satu meja bersama. Namun lebih dari itu, jika ingin menghadirkan hasil yang efektif perlu adanya implementasi dari dasar-dasar partisipasi publik itu sendiri. Kita tahu bahwa partisipasi publik yang baik akan menghasilkan keputusan yang lebih baik. Maka daripada itu pemahaman akan partisipasi publik yang efektif perlu disadari dan dihadirkan bagi setiap pengemban 17 Tujuan SDGs baik dari sisi pemerintah dan non pemerintah. Untuk itu IAP2 Indonesia memandang proses pelibatan publik dan pemahamannya ini menjadi suatu urgensi jika ingin mempercepat proses pencapaian 17 Tujuan SDGs di Indonesia.

Kamis, 27 September 2018 15.41 WIB

SGPP Indonesia dan Jurnal Kebijakan ‘Strategic Review’: Indonesia and Cultural Industries

Jakarta – Pada tanggal 12/09 School of Goverment & Public Policy (SGPP Indonesia) dan Jurnal Kebijakan ‘Strategic Review’ mengadakan Roundtable Discussion  di Equity Tower, SCBD, Jakarta. Diskusi ini mengusung tema “Indonesia and Cultural Industries” yang dipimpin oleh Ted Fishman Pengarang Buku China Inc.’ dan Shock of Gray.

“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa namun sampai saat ini belum termonetisasi/dikapitalisasi dengan baik.” Ujar Ted kepada partisipan seraya menunjukan beberapa potensi seni pertunjukan yang ia ambil dari Youtube.

Indonesia merupakan negara dengan berbagai macam suku, ras, agama dan kubudayaan di dalamnya. Berdasarkan data yang di peroleh dari Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dengan kurun waktu 2009 sampai dengan 2017, setidaknya terdapat 7.241 karya budaya yang tercatat dan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia. Karya budaya tak benda menurut konvensi UNESCO 2003 meliputi tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya tak benda; adat istiadat masyarakat, ritus, perayaan-perayaan, dan seni pertunjukan.

Tetapi kita tahu bahwa budaya yang kita miliki saat ini belum terkelola dengan baik, Karena belum ada narasi yang terbangun mengenai betapa pentingnya budaya dalam rangka kegiatan pembangunan. Kegiatan pembangunan yang memasukkan budaya sebagai unsur yang setara dengan kegiatan ekonomi, sosial, politik, diplomasi tidak hanya di dalam skala nasional namun juga ke luar negeri.

Hampir setiap daerah memiliki budayanya masing-masing lalu bagaimana cara kita mengedepankan budaya dalam kegiatan pembangunan? Padahal contohnya sudah banyak, seperti Jepang dengan J-pop, Korea dengan K-pop dan Brazil dengan Samba dan lainnya yang sudah melakukannya dan sangat berhasil.

“solusinya ada pada warga negara itu sendiri untuk dapat memunculkan solusi tersebut, karena contohnya sudah banyak, seperti; Kpop, Jpop, samba Brazil” Ujar Ted.

Lebih lanjut, dari sekitar 50 partisipan yang hadir umumnya juga untuk masyarakat Indonesia, diharapkan dapat memberikan solusi perkembangan budaya yang berkelanjutan serta yang terpenting ialah keikutsertaan masyarakat yang masiv dalam memperkenalkan budaya kita kepada dunia sehingga dapat mengedepankan budaya dalam kegiatan pembangunan Indonesia.

Riza Wahyudi, IAP2 Indonesia | Jum’at, 21 September 2018 16.21 WIB

teknik dalam partisipasi publik saat pelatihan dasar-dasar partisipasi publik berlansung

Review Hari Keempat di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik 30 Juli – 03 Agustus 2018 (2)

Masih ingat teknik apa saja yang kita bahas diartikel sebelumnya kan? Yup, betul sekali, teknik world cafes dan wawancara. Sekarang kita mau bahas teknik fishbowl. Fishbowl? Iya beneran nama tekniknya “fishbowl”, bingung kenapa dinamakan fishbowl. Yuk, kita simak penjelasannya. Pertama-tama pelatih menyampaikan manfaat atau keunggulan dari teknik ini, diantaranya adalah untuk mengamati pengambil keputusan, anggota publik atau ahli teknis dalam diskusi terbuka, membangun tingkat kepercayaan dalam proses keterlibatan pemangku kepentingan, menunjukan rasional dibalik proses pengambilan kepetusan, dan meningkatkan pemahaman tentang alasan keputusan.

Dalam teknik fishbowl ini termasuk kedalam kategori konsultasikan (consult) dan atau libatkan (involve). Teknik dalam menyatukan orang bersama ini dapat dilakukan manakala tingkat kepercayaan masyaraka rendah, serta untuk membantu membuka suatu proses sehingga publik dapat melihat alasan yang berkembang dan memahami alasan-alasan untuk pengambilan keputusan seiring berjalannya proses. Seperti terlihat pada gambar di atas, pelatih sedang mensimulasikan teknik fishbowl ini, dimana tiga orang selaku ahli teknis dan pengambil keputusan dan satu orang lagi sebagai fasilitator. Dalam teknik fishbowl ini diperkenankan masyarakat yang hadir untuk dapat bertanya hal lebih lanjut lagi. Nah, simulasi ini seperti ibarat menyaksikan ikan didalam fishbowl, publik dapat melihat/menyaksikan secara jelas didepan mata mereka, dan dapat saling berinteraksi.

Ada lagi teknik yang lainnya, dengan nama yang unik, bukan hanya sekedar nama unik tetapi juga merepresentasikan dari konsep teknik itu sendiri. Teknik selanjutnya adalah nominal grup. Dalam nominal grup ini serupa seperti berdiskusi dalam kelompok kecil, untuk mengembangkan serangkaian prioritas tindakan. Proses ini melibatkan identifikasi masalah, penciptaan solusi, dan pengambilan keputusan.  Teknik ini dapat dikombinasikan dengan teknik lainnya, Terdapat petunjuk utama dalam melakukannya. Diantaranya adalah hanya ada satu pertanyaan kunci yang harus digunakan dalam suatu sesi untuk mempertahankan focus dan tujuan yang jelas, tanggapan dikumpulkan satu persatu dan ditulis pada flip chart sampai semua tanggapan terkumpul.

Para peserta kemudian diminta untuk memeringkat urunan tanggap-tanggapan tersebut. Tanggapan yang berdasarkan kumpulan dari para peserta tersebut kemudian oleh para peserta dipilih 5 yang menurut mereka pribadi paling penting atau utama. Setelah itu pelatih meminta para peserta melakukan scoring terhadap lima tanggapan pilihannya. Aturan dalam pemberian scoring mulai dari point terbesar 5 hingga paling kecil 1, angka 5 untuk yang paling penting, hingga angka 1 untuk yang paling tidak penting. Setelah dilakukan per-score-an maka hasilnya dijumlahkan, dari sana akan terlihat mana tanggapan/isu/hal yang paling penting dan utama diketahui bedasarkan jumlah terbesar yang didapatkan, hingga berurutan mendapatkan 5 tanggapan yang paling tinggi nilai pointnya.

Dengan begini akan memudahkan kita untuk dapat memilih mana-mana saja tanggapan/isu/hal yang akan menjadi bahan utama untuk diproses dalam pengambilan keputusan selanjutnya. Bagaimana, tambah penasaran dengan teknik-teknik lain yang tak kalah efektifnya. Oke, langsung kita bahas teknik lainnya.

Pernah dengar istilah open space? Belum? Mungkin ada istilah yang serupa tapi tak sama, seperti open source, open house, dan lainnya. Nah, open space ini nama teknik yang bakal kita bahas nih. Open space ini adalah pertemuan mandiri dimana para peserta membuat dan merancang agenda sendiri. Didalam spectrum IAP2 ini termasuk kedalam kategori libatkan (involve) dan bisa juga masuk kategori kolaborasi (collaborate).  Dalam open space ini terdapat petunjuk utama diantaranya adalah temukan ruang dan waktu yang cukup untuk mengakomodasi beberapa kelompok secara terpisah.

Hal ini dilakukan untuk memfasilitasi mereka yang marah dan merasa tidak berdaya untuk dapat merasa diberikan tindakan secara langsung atau direspon langsung dan dapat menentukan nasib sendiri seperti misalnya para korban benca alam yang sudah lama tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dimana perlu penanganan yang cepat dan memenuhi kebutuhan mendesak.  Open space ini juga dapat mengakomodir kelompok besar dengan beragam kepentingan untuk mengatasi isu dan kekhawatiran mereka seperti kelompok penyandang disabilitas, masyarakat asli. Menarik bukan? Bayangkan, banyaknya teknik yang dapat digunakan sesuai kebutuhan mana yang lebih efektif.

Tak berasa kita sudah dipenghujung artikel. Namun jangan khawatir, masih ada satu teknik lagi yang kita dibahas disni. Setelah penjelasan mengenai open space, pelatih melanjutkan ke teknik lainnya yaitu Citizen Juries. Citizen Juries merupakan suatu proses mengumpulkan panel perwakilan warga yang dipilih secara acak dan demografis selama periode waktu yang disepakati untuk secara hati-hati memeriksa suatu isu dan memberikan rekomendasi kepada pengambil keputusan dan publik. Ada beberapa karakteristik dari teknik Citizen Juries diantaranya adalah pemilihan acak, perwakilan, terinformasikan, netral/tidak memihak, dan musyawarah/konsultatif. Citizen Juries ini masuk kedalam spectrum IAP2 kategori berkolaborasi (collaborate) dan juga menguasakan (empower). Ditingkat berkolaborasi citizen juries memberikan rekomendasi kepada pengambli keputusan dan publik dan terkadang ditingkat berdayakan citizen juries diberi wewenang untuk mengambil keputusan. Teknik ini bisa digunakan untuk melibatkan warga dalam dialog berkualitas tinggi tentang isu utama, dan mengembangkan solusi dari permasalahan atau isu yang sedang dihadapi. Akan masih ada kelanjutannya dari teknik efektif partisipasi publik. Tunggu diartikel kami yang segera publish.

Admin, IAP2 Indonesia | Senin, 24 September 2018 09.33 WIB

Review Hari Keempat di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik 30 Juli – 03 Agustus 2018 (1)

Sudah siap dengan review yang akan kita bahas kali ini pada pelatihan dasar?, langsung saja tanpa banyak basa-basi lagi kita akan masuk ke pembahasan modul yang kedua yaitu teknik efektif partisipasi publik. Masuk di hari keempat ini pelatih memulai pembahasannya melalui slide presentasinya, terdapat point-point dari materi yang akan dibahas. Beberapa point yang dipaparkan diantaranya adalah pengalaman melakukan teknik partisipasi publik yang disebut World Café yaitu memperkenalkan teknik untuk berbagi informasi, teknik untuk mengumpulkan dan menyusun informasi, dan teknik untuk menyatukan orang bersama.

Selanjutnya pada modul kedua, pelatih memulai dengan mengadakan simulasi menggunakan salah satu teknik dalam mengumpulkan orang bersama yaitu World Café. Trainer pelatihan dasar ini menyampaikan aturan mainnya, peserta dibagi menjadi 3 kelompok, dan ditiap meja ditentukan pembahasannya untuk kasus yang sudah ditentukan untuk dibahas. Dalam sesi ini pembahasannya adalah apa tantangan utama yang anda hadapi dalam pelibatan pemangku kepentingan, dan apa yang mungkin menjadi faktor pendukungnya, waktu yang diberikan hanya 25 menit. Tentunya waktu tersebut bagi sebagian orang mungkin kurang namun setiap “permainan” pasti ada rules-nya bukan?. Dan ini merupakan simulasi yang apabila dilakukan pada prakteknya bisa lebih cepat atau lama.

Oke, “rules” selanjutnya adalah disetiap meja harus ada yang menjadi pencatat pendapat dari tiap peserta setelah dilakukan pencatatan semuanya, kemudian tiap peserta harus pindah berganti dengan peserta dari kelompok lainnya untuk saling bertukar pendapatnya, dan si pencatat tetap berada dimejanya untuk mencatat “suara” dari peserta dari kelompok lainya, sekaligus menyampaikan apa hasil rangkuman dari apa yang dicatatnya. Setelah waktu habis, tiap peserta diminta duduk ditempatnya masing-masing, dan pelatih menyampaikan beberapa karakteristik dari World Café ini diantaranya adalah penampilan informal dengan basis terstruktur, pergerakan orang, pertanyaan-pertanyaan awal dan pertanyaan-pertanyaan yang belum kita dapatkan jawabannya, kontribusi, keingintahuan, energy tinggi. Seperti pada kutipan dari Adam Kahane “To change the world is to change the way you talk and listen”, diskusi ini merupakan bentukan untuk menyatukan/mengumpulkan orang dalam satu forum bukan hanya berbicara dan ingin didengar tetapi juga mendengarkan pendapat atau pandangan orang lain. Mari kita mulai berlatih berdiskusi yang baik dan santun sejak sekarang.

Mungkin Anda bertanya-tanya apa lagi sih yang menjadi “identitas” dari teknik World Cafes. Apakah ada prinsip didalamnya? Yup, Anda benar sekali. World Cafes ini memiliki 7 prinsip diantaranya adalah mengenali konteks yang dibahas, menghadirkan ruang yang ramah, mengeksplorasi pertanyaan yang penting, mendorong setiap orang untuk berkontribusi, menghubungkan beragam sudut pandang, saling mendengar untuk menambah wawasan, berbagi setiap penemuan yang dikumpulkan. Selain dari pada didukung oleh 7 prinsip tersebut, ada 3 elemen penting dalam mengajukan pertanyaan didalamnya, diantaranya adalah pertanyaan yang dilempar harus bersifat terbuka, ruang lingkup, dan tidak ada asumsi.

Setelah diskusi selesai dilakukan, kemudian pelatih meminta kepada tiap peserta untuk mengambil kertas A5 masing-masing tiga lembar, kemudian peserta diminta untuk menuliskan tiga hal penting menurut anda dari diskusi “World Cafes” tadi bukan tentang prosesnya, dituliskan masing-masing 1 hal ditiap lembar kertas. Kemudian dari 3 hal yang sudah ditulis tadi pelatih pelatihan dasar meminta peserta untuk merumuskan buah pikirannya kedalam sebuah kalimat minimal 5-7 kata di atas sebuah kertas A5 dengan tulisan besar menggunakan spidol teknik ini dinamakan card storming. Card storming adalah proses untuk mengumpulkan masukan atau tanggapan terhadap pertanyaan dari sejumlah besar orang dengan cara yang membantu mengidentifikasi banyak ide dan isu tentang suatu topik dan kemudian mengaturnya ke dalam kelompok yang biasa. Semua orang merasa dilibatkan dan dapat melihat kontribusi mereka terkandung dalam pemikiran kelompok. Keuntungan menyampaikan pendapat dengan teknik card storming para peserta tak perlu sungkan atau malu untuk mengungkapkan pendapatnya. Kemudian semua orang dapat membca pendapat dari masing-masing peserta dan mengelempokannya pada topik yang sama.

Simulasi dari teknik World Cafes dapat berjalan dengan baik dan semua peserta begitu antusias menjalankannya dan merasakan keefektifan dari salah satu teknik partisipasi publik ini yang terklasifikasi kedalam spectrum IAP2 yaitu libatkan (involve), berkolaborasi (collaborate), dan menguasakan (empower). Membaca keseruan dari simulasi ini berlangsung, pasti membuat Anda ingin menerapkannya juga kan sekarang?.

Eiits, tunggu dulu, jangan sekarang ini juga, karena masih ada banyak teknik lainnya yang bisa dipakai, oke kita lanjut. Setelah simulasi selesai dilakukan kemudian pelatih pelatihan dasar meminta peserta untuk memberikan/menempelkan stiker tanda lingkaran hijau (sudah mengerti) dan tanda lingkaran merah (belum mengerti), disetiap kartu-kartu yang tertulis nama-nama teknik dalam partisipasi publik, diantaranya ada yang sudah begitu familiar ada yang masih asing namanya. Ketika pemberian stiker warna tersebut selesai, pelatih menjelaskan tujuan dari apa yang dilakukan oleh peserta tadi. Hal ini dilakukan guna memberikan gambaran singkat untuk pelatih dapat mengetahui teknik-teknik mana yang akan dijadikan bahan penjelasan lebih dalam lagi dihari berikutnya, dan mengingat singkatnya waktu pelatihan, dan banyaknya teknik yang dapat dilakukan dalam partisipasi publik. Nah, langsung saja kita lanjut ke pembahasan teknik yang lain. Check this out!

Kalau Anda bertanya-tanya, memang ada teknik yang sama efektifnya selainnya world cafes? Iya, ada kok, yaitu teknik wawancara. Hah wawancara? Itu kan biasa. Pasti dari Anda ada yang terbesit seperti ini, tunggu dulu, mari kita simak bersama-sama penjelasannya. Diruang kelas pelatih memberikan gambaran dari apa dan bagaimana bentuk dari salah satu teknik mengumpulkan dan menyusun masukan. Teknik wawancara ini termasuk kedalam klasifikasi dari spectrum IAP2 yaitu informasikan (inform) dan mengkonsultasikan (consult).  Didalam slide presentasinya pelatih pelatihan dasar menyampaikan kegunaan dari teknik wawancara diantaranya adalah mengumpulkan informasi untuk merancang proses partisipasi publik, digunakan dalam memfasilitasi proses partisipasi publik, untuk dapat menemukan informasi sensitif/konflik/opini yang tidak popular, menemukan opini yang kuat sebelum mereka menghadiri pertemuan publik, dan mempersiapkan individu untuk berpartisipasi dalam pertemuan yang lebih besar skalanya. Nah, bagaimana, tentu dari kita tidak banyak menyadari kalau wawancara itu bukan sekedar wawancara belaka, yang hanya mengajukan segrombolan pertanyaan dan minta dijawab. Masih ingin tahu teknik apa lagi sih yang ada didalam partisipasi publik? Stay tune di artikel berikutnya.

Jumat, 21 September 2018 11.20 WIB

Review Hari Ketiga di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik (3)

Masih ingat apa langkah selanjutnya setelah dilakukan identifikasi teknik, yang kita bahas diawal artikel?, yup, betul sekali, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah identifikasi elemen pendukung untuk implementasi rencana. Menerapkan rencana partisipasi publik membutuhkan penerapan elemen dukungan dasar. Ini termasuk waktu (yaitu, penjadwalan); sumber daya (mis. anggaran, personil, dll.); rencana komunikasi pendukung, dan peran serta tanggung jawab yang ditentukan.

Rencana partisipasi publik perlu memuat jadwal waktu terperinci dari proses pengambilan keputusan serta kegiatan partisipasi publik dalam proses keputusan tersebut. Informasi yang akan diberikan kepada publik dan masukan/saran dari publik harus diatur waktunya sehingga hak publik untuk mendapatkan kesempatan dalam mempengaruhi proses keputusan dapat terfasilitasi dengan baik. Sudah menjadi hal umum dimana seringkali tenggat waktu keputusan/jadwal proyek menentukan jadwal waktu dari partisipasi masyarakat.

Perencanaan untuk anggaran dan sumber daya juga tak kalah pentingnya dalam rencana partisipasi publik. Penganggaran untuk partisipasi publik merupakan hal yang perlu dipantau. Jangan memulai proses partisipasi publik yang membutuhkan sumber daya yang tidak tersedia. Pastikan rencana partisipasi publik berisi perkiraan anggaran terperinci dan identifikasi semua sumber pendanaan. Selanjutnya adalah membuat perencanaan untuk peran dan tanggung jawab. Peran dan tanggung jawab hadir dalam tiga konteks, diantaranya adalah konten (mereka yang menyediakan, menerima, dan menganalisis data), proses (mereka yang mendesain dan mengimplementasikan proses), hubungan (mereka yang berinteraksi dengan para pemangku kepentingan).

Detail operasional, identifikasi dini terhadap kebutuhan operasional proses diperlukan. Lebih detailnya adalah identifikasi dan persiapkan untuk lokasi‐lokasi potensial yang memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan dan teknik, ukuran fasilitas dan akustik, kebutuhan peralatan audio‐visual, pameran/gambar, catering, persyaratan kepegawaian, asuransi, kebutuhan lainnya. Persiapkan rencana komunikasi, buat draf rencana komunikasi untuk mendukung rencana partisipasi publik Anda. Informasi tentang unsur‐unsur yang perlu dipertimbangkan untuk dimasukkan dapat ditemukan di bagian modul perencanaan efektif partisipasi publik. Kombinasi penjelasan dari pelatih dengan slidenya dan modul dapat menjadi pembuka wawasan yang cukup mumpuni.

Tak berasa sudah berada dipenghujung artikel, inilah langkah atau kegiatan terakhir dalam merancang rencana partisipasi publik, tidak lain dan tidak bukan adalah menetapkan metodologi evaluasi. Kenapa sih perlu evaluasi?

Evaluasi selama proses adalah untuk mengujinya dalam kata lain untuk mengidentifikasi bidang-bidang yang perlu ditingkatkan dan menyelesaikan masalah yang muncul, meninggalkan evaluasi hingga akhir proses partisipasi mengurangi nilainya. Sebagai penutup dari pembahasan modul perencanaan efektif dari partisipasi publik, pelatih selanjutnya menjelaskan perencanaan komunikasi dan partisipasi publik.

Mulai dari model dasar komunikasi, mitos komunikasi, pengembangan pesan utama, komunikasi resiko, persepsi resiko, memahami nilai/kebutuhan/motivasi/pemangku kepentingan, dan menutup rangkaian (closing the loop). Bagaimana, sudah paham mengenai perencanaan efektif partisipasi publik?. Sudah merasa puas dengan review ini?, kurang lengkap? Yaa, namanya juga review, ringkasannya saja, namun jangan berkecil hati, review ini tidak berhenti disini saja. Masih ada kelanjutannya, akan bersambung modul kedua yaitu teknik efektif partisipasi publik. Tunggu diartikel kami yang segera publish.

pelatihan dasar-dasar partisipasi publik 2018

Review Hari Ketiga di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik (2)

Diartikel sebelumnya sudah sama-sama kita bahas apa sih itu format rencana pada pelatihan dasar-dasar partisipasi publik. Nah, untuk bahasan kali ini masih menyinggung tentang mengintegrasikan data dasar kedalam dokumen. Saat kita ingin membuat ringkasan eksekutif perlu juga untuk memastikan bahwa informasi yang disajikan berupa elemen-elemen utama dari setiap bagian yang mana diharapkan dengan dokumen ringkasan ini dapat membantu membangun dan meningkatkan praktik partisipasi publik.

Untuk menghadirkan itu diperlukan ringkasan komprehensif yang dapat mendidik para pengambil keputusan tentang manfaat partisipasi publik, dapat menjadi kebutuhan sumber daya untuk upaya pribadi, terdapat studi kasus yang komprehensif untuk rekan kerja, dan selain dari pada itu dapat berfungsi sebagai alat pemasaran dalam mempromosikan partisipasi publik untuk tim proyek, lembaga serta pengambil keputusan di masa depan. Nah, tentu kita semua tahu dalam membuat isi ringkasan ini ada yang namanya proses. Apa sih yang diproses, yang pastinya adalah data dan komentar yang sudah didapatkan sebelumnya.

Pelatih memberikan sedikit gambaran perjalanan proses melalui slidenya, mengenai manajemen data & komentar. Terdapat perjalanan dari data hingga menjadi sebuah tindakan atau keputusan untuk masa depan. Data yang berupa kata, frasa, pendapat, film, gambar, foto maupun lembaran form yang pengisiannya dengan tanda centang/silang/peringkat (emoticon senyum/bintang, dan lain sebagainya). Kemudian data diolah menjadi informasi (pengumpulan data berupa grafik, ringkasan bertema, words cloud, dan lain sebagainya).

Informasi tersebut digunakan untuk menambah wawasan/pengetahuan dengan melakukan analisa (apa pesan dibalik informasi yang diberikan, dan atau apa makna yang bisa kita peroleh dari ini). Dari wawasan/pengetahuan tersebut kemudian diolah untuk mendapatkan sebuah tindakan atau keputusan terhadap suatu kasus untuk ditangani yang berorientasi pada masa depan (apa yang mungkin kita lakukan sebagai hasil dari pengetahuan atau analisis ini?). Pembahasan semakin seru dan menarik, mari kita berlanjut ke kegiatan selanjutnya.

Seperti yang sudah kita bahas di awal artikel tentang kegiatan dari rencana partisipasi publik, dimana langkah selanjutnya adalah mengidentifikasikan teknik yang mendukung sasaran partisipasi publik. Format untuk partisipasi publik dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu diantaranya adalah berbagi informasi (melalui rilis berita, lembar fakta, situs web non-interaktif), kumpulkan dan koleksi input/masukan (melalui ringkasan komentar, instrumen survey, laporan survey, voting), dan menyatukan orang-orang bersama (melalui open house, percakapan bergulir, ruang obrolan, kelompok-kelompok kecil, sesi pemangku kepentingan).

Di dalam modul pelatihan terdapat gambaran umum tentang sejumlah teknik untuk berbagi informasi, menyatukan orang‐orang bersama dan mengumpulkan data serta umpan balik. Kesemua teknik tersebut di atas dapat Anda gunakan sesuai kebutuhannya. Cukup rinci penjelasan dari pelatih dalam pelatihan ini, dibantu dengan keterangan yang ada di modul. Dengan banyak macam teknik tentunya dapat membuat partisipasi publik jadi lebih fleksibel bukan?. Apa dan bagaimana pembahasan lanjutannya, tunggu di artikel berikutnya…(Bersambung)

Review Hari Ketiga di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik (1)

Di edisi review kali ini kita akan mengulik apa saja sih yang dibahas pada hari ketiga pelatihan sejak tanggal 30 Juli 2018 hari senin lalu. Masih dilanjutkan dengan mengupas tuntas modul perencanaan efektif dari partisipasi publik, pelatih menyampaikan langkah yang ke-5 atau langkah yang terakhir dilakukan dalam proses 5 langkah perencanaan, yaitu merancang rencana partisipasi publik.

Ada lima kegiatan yang dilakukan didalamnya diantaranya adalah; menentukan format dari pilihan yang sederhana atau kompleks, mengintegrasikan data dasar ke dalam rencana, mengidentifikasi teknik yang mendukung sasaran partisipasi publik yang pada gilirannya mendukung langkah-langkah dalam proses pengambilan keputusan, mengidentifikasi elemen pendukung untuk implementasi rencana, termasuk perencanaan komunikasi, dan yang terakhir menetapkan metodologi evaluasi. Lalu apa dan bagaimana maksud dari semua kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan di atas?, mari kita simak bersama-sama penjelasannya berikut ini.

Oke, kita bahas pada kegiatan yang pertama yaitu tahap pembuatan format rencana. Format rencana dapat dibuat secara sederhana atau juga kompleks, bergantung pada persyaratan pengambil keputusan, pengalaman profesional partisipasi publik, sifat proyek/inisitif, serta kebutuhan masyarakatnya seperti apa. Jika dibuat dalam bentuk sederhana maka keterangan atau informasi yang diperlukan didalamnya adalah apa yang dilakukan, kapan akan dilakukan, dengan siapa akan melakukannya, oleh siapa saja dan dimana akan dilakukan.

Lain halnya jika yang dibuat adalah berupa dokumen yang lebih kompleks, akan berisi lebih detail, dilengkapi alasan dan data. Apapun sifat dokumennya jika dirancang dengan matang akan dapat berfungsi baik sebagai panduan implementasi, dan sebagai dokumen historis dari pelaksanaan rencana dan hasil. Nah, format mana yang akan Anda gunakan, sederhana atau kompleks?, tidak ada aturan baku dan pemaksaan terserah pada Anda. Sudah siap dengan kegiatan yang selanjutnya?, let’s jump into it.

Setelah Anda memantapkan langkah menjadi “tim” format sederhana atau “tim” format kompleks, kemudian langkah selanjutnya adalah mengintegrasikan data dasar kedalam dokumen. Data yang akan diintegrasikan harus benar-benar jelas dan ringkas. Data yang tertera termasuk latar belakang, gambaran umum proyek, ringkasan pemangku kepentingan dan isu, keputusan untuk mengatasi masalah dan peluang, langkah-langkah proses keputusan, tujuan langkah keputusan, dan tujuan proses partisipasi publik.

Selain dari pada itu, dapat juga ditambahkan di setiap bagian-bagian dalam proses partisipasi publik yaitu; hasil yang di capai dalam setiap bagian (produk, keputusan yang tercapai, hubungan yang di perkuat, liputan media), tantangan yang di hadapi dan bagaimana penanganannya, pelajaran yang di petik dan perbaikan yang perlu dilakukan kedepannya. Data tersebut tentunya perlu waktu untuk mengumpulkannya bukan?, namun jangan khawatir karena apa-apa yang dipersiapkan di atas itu nantinya akan memberi kemudahan untuk kita juga kok, misalnya kalau kita butuh menyiapkan atau membuat ringkasannya yang biasa juga disebut dengan ringkasan eksekutif. Apa dan bagaimana pembahasan lanjutannya, tunggu di artikel berikutnya…(Bersambung)

Senin, 17 September 2018. 14.37 WIB

Review Hari Kedua di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik

Pada hari kedua pelatihan berlangsung dengan sangat baik, pelatih melanjutkan materi Perencanaan/Planning yang disampaikan oleh Tanya Burdett. Tanya menyampaikan lima langkah perencanaan dalam partisipasi publik. Diantaranya adalah mendapatkan komitmen internal, belajar dari publik, pilih tingkat partisipasi, definisikan proses pengambilan keputusan dan identifikasi sasaran partisipasi publik, dan merancang rencana partisipasi publik.

Penjelasan secara lugas disampaikan oleh pelatih terkait pembahasan lima langkah perencanaan dari partisipasi publik. Hal pertama dalam melakukan rencana efektif dalam partisipasi publik adalah mendapatkan komitmen internal. Hal ini menjadi langkah pertama dikarenakan, mendapatkan tingkat komitmen yang sesuai adalah kunci utama dalam memastikan keputusan yang dihasilkan dapat menggerakan seluruh pemangku kepentingan agar dapat terlibat secara optimal dan efektif .

Para profesional partisipasi publik harus terlebih dahulu terlibat dan mendapatkan komitmen dari pemangku kepentingan internal untuk mendapatkan tingkat dukungan yang sesuai sebelum merencanakan setiap keterlibatan dengan para pemangku kepentingan eksternal. Lalu bagaimana caranya, adalah dengan melakukan pertemuan dengan tim partisipasi publik internal, untuk membahas sejarah organisasi yang mensponsori beserta harapan mereka. Hal tersebut perlu dilakukan diskusi terlebih dahulu dengan merumuskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini; siapa pengambil keputusan, apa pendekatan/riwayat/laporan mereka, jelaskan keputusan dan tujuan, mengidentifikasi pemangku kepentingan dan isu, dan apa saja harapan pemangku kepentingan/pengambil keputusan.

Pada dasarnya untuk mendapatkan dukungan komitmen internal akan bergantung pada budaya dan nilai partisipasi publik organisasi, pengalam partisipasi publik organisasi sebelumnya, nilai individu di dalam organisasi (apa motivasi mereka dan apa yang mempengaruhinya?), serta lingkungan operasi organisasi. Adapun pendekatan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan komitmen internal adalah dengan cara memaparkan beberapa hal, diantaranya mulai dari studi kasus, manfaat partisipasi publik, proyeksi biaya peluang (dampak potensial yang terjadi pada organisasi jika partisipasi publik tidak dijalankan dengan baik dan sesuai), dan proposal investasi bisnis (untuk menunjukan bagaimana partisipasi publik dapat menghasilkan laba atas investasi dan mendorong tujuan bisnis).

Pada kenyataannya mungkin akan kita temui beberapa organisasi yang ragu‐ragu untuk melibatkan publik dengan alasan itu bukan bagian dari budaya mereka. Mereka mungkin percaya bahwa publik tidak akan menambah nilai atau mereka mungkin tidak merasa bahwa mereka memiliki waktu atau kemampuan untuk mengakomodasi preferensi publik. Untuk itu perlu merumuskan sebuah pernyaatan keputusan yang efektif demi mendapatkan komitmen internal. Jika begitu, lalu yang menjadi petanyaannya adalah apa saja indikasi dari pernyataan keputusan yang efektif?

Pelatih pelatihan dasar-dasar partisipasi publik, menjelaskan bahwa terdapat beberapa indikator dari keputusan yang efektif diantaranya adalah pernyataan yang dibuat merupakan pernyataan yang jelas (menjelaskan apa masalah/peluang/masalah/proyek dan tentang bagaimana para pemangku kepentingan dapat berpartisipasi), mencerminkan kebutuhan pengambil keputusan dan para pemangku kepentingan, tentang sesuatu yang ingin diselesaikan atau digali oleh para pemangku kepentingan, pernyataan dinyatakan dengan jelas dalam bahasa masyarakat/umum, pernyataannya merupakan salah satu yang dapat diterima oleh sebagian besar pemangku kepentingan, dan juga yang mengikuti prinsip KISS (keep it simple and straight forward) – tetap sederhana dan lugas.

Setelah melakukan langkah pertama, kita berlanjut ke langkah perencanaan yang kedua yaitu belajar dari publik/pemangku kepentingan. Ada empat hal yang perlu dilakukan didalamnya diantaranya adalah persepsi keputusan, daftar pemangku kepentingan, hubungan pemangku kepentingan dengan isu, dan tinjau/perbaiki keputusan. Dalam menjelaskan langkah yang kedua ini pelatih mengadakan sebuah simulasi, berlatih bagaimana belajar dari pemangku kepentingan. Para peserta diminta untuk mencari pasangan, dimana satu orang berperan sebagai salah satu pemangku kepentingan didalam sebuah kasus dan yang satu lagi menjadi pewawancara. Dalam simulasinya ini lebih ditekankan pada proses wawancara, mencari tahu apa peran mereka dan apa masalah mereka (didalam kasus ini apa hal yang menjadi concern mereka, yang dianggap sebagai suatu masalah penting dalam proyek tersebut).

Lanjut penjelasan dari pelatih mengenai persepsi keputusan. Persepsi keputusan merupakan proses dalam memahami bagaimana orang merasakan seputar masalah dan peluang yang akan ditangani serta apa keputusan yang harus dibuat. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan wawancara secara langsung seperti yang dilakukan dalam simulasi tadi. Simulasi wawancara dilakukan dengan menggunakan form yang formatnya disediakan/diberikan pelatih, dari hasil wawancara tersebut kita dapat melakukan kategorisasi pemangku kepentingan; premier (mereka yang memiliki hubungan langsung ke proyek), sekunder (mereka yang memiliki kepentingan dalam proyek atau isu dan mungkin akan ikut terpengaruh), dan tersier (mereka yang memiliki kepentingan tetapi tidak terpengaruh). Selain dari kategorisasi pemangku kepentingan akan didapatkan juga korelasi antara stakeholder dengan isu yaitu; pengambil keputusan, pemberi pengaruh, yang berdampak, dan dipersepsikan.

Hal terakhir adalah meninjau/memperbaiki keputusan, memeriksa/memperbaiki pernyataan masalah/peluang yang akan ditangani dan keputusan yang akan dibuat. Suatu hal yang umum jika para pemangku kepentingan memiliki persepsi yang berbeda dengan pengambil keputusan terhadap suatu masalah, peluang dan atau isu yang ada. Perlu diingat juga bahwa dalam meninjau perbedaan/gap harus dilakukan bersama pembuat keputusan. Maka dari itu perlu dilakukan check and recheck apakah pernyataan keputusan yang sudah didiskusikan/dibuat akan menarik keterlibatan dari semua para pemangku kepentingan.

Berlanjut langkah ketiga adalah memilih tingkat partisipasi, ada tiga hal yang harus dilakukan didalamnya yaitu; menilai harapan internal dan eksternal, pilih tingkatannya berdasarkan spectrum partisipasi publik IAP2, dan yang terakhir adalah menilai kesiapan dari organisasi yang mensponsori. Pelatih memberikan lembar penilaian harapan internal dan eksternal untuk digunakan sebagai simulasi para peserta dalam sebuah kasus. Setelah dilakukan penilaian, langkah selanjutnya adalah mengevaluasi harapan.

Melakukan pertimbangan atas bagan ringkasan harapan yang sudah didapatkan sebelumnya untuk dapat menentukan tingkatan partisipasinya di spectrum IAP2. Berdasarkan tingkat pemahaman tentang kebutuhan pemangku kepentingan internal dan eksternal ini, dapat dipilih tingkat partisipasi publik yang paling baik untuk memenuhi kebutuhan proyek dan kebutuhan pemangku kepentingan. Setelah kita sudah dapat menetapkan pilihan tingkat pada spectrum IAP2, penting untuk mengetahui kesiapan dari organisasi sponsor untuk melakukan program pada tingkat ini.

Untuk lebih memahami dalam mengetahui kesiapan dari organisasi sponsor ini, pelatih mengajak para peserta untuk bermain games di lobby gedung rektorat SGPP Indonesia, peserta dengan pelatih membentuk sebuah lingkaran kecil, kemudian pelatih melemparkan bola/benda berukuran kecil ke seseorang, setelah orang tersebut menerima bolanya dia harus melemparkan bolanya ke orang lain, secara terus menerus bergantian hingga orang terakhir. Permainan lebih ditingkatkan lagi, bukan hanya dengan satu bola, tetapi dengan banyak bola secara berurutan dengan pola operan/lemparan harus yang sama seperti pada bola pertama dengan tempo kecepatan operan lambat. Permainan pun semakin ditingkatkan lagi, bukan hanya dengan banyak bola yang harus dioper/dilemparkan tetapi kali ini dengan tempo melempar yang semakin lama semakin cepat.

Dapat diprediksi yang terjadi adalah kesemrawutan, banyak bola yang terjatuh bergelinding kemana-mana, dan ada yang memegang banyak bola ditangannya karena tidak sempat mengoper kembali. Para peserta dan pelatih pun saling tertawa melihat akhir dari permainan yang sangat seru ini. Setelah selesai, Barbara menjelaskan arti dari permainan ini, bahwa penting untuk kita mengetahui kesiapan dari partner/orang lain dalam memberikan penugasan atau tanggung jawab.

Selain itu dari sisi diri kita perlu fokus, dapat melihat situasi dan kondisi dari partner kita, apakah sedang overload atau tidak, agar “bola-bola” tersebut tidak bertempuk didirinya. Jika memungkinkan kita harus berikan waktu/jeda waktu dalam mengoper ke orang lain agar “bola-bola” tersebut dapat lancar teroper kesemua peserta sambil memanggil nama orang yang ingin kita berikan “bolanya”. Hal ini dapat dijadikan analogi dalam melihat kesiapan dari organisasi sponsor dan bahkan melihat kesiapan dari para pemangku kepentingan dalam mengemban tanggungjawabnya sesuai kadar dan fungsinya.

Dipenghujung hari kedua pelatihan, pelatih melanjutkan materinya yaitu langkah perencanaan yang keempat adalah mendefinisikan proses pengambilan keputusan dan identifikasi sasaran partisipasi publik. Didalam langkah ini ada beberapa yang perlu dilakukan, diantaranya adalah mengembangkan sasaran partisipasi publik, memahami proses keputusan yang ada, menetapkan sasaran partisipasi publik untuk setiap langkah dalam proses keputusan, menghubungkan proses keputusan dengan sasaran, dan kemudian memastikan sasaran memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan.

Kamis, 6 September 2018. 10:25 WIB

Review Hari Pertama di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik (2)

Disiang hari pembahasan dilanjutkan dengan pemberian materi mengenai dasar-dasar partisipasi publik IAP2. Dilengkapi dengan slide presentasinya, pelatih menyampaikan bahwa ada tiga komponen dalam dasar-dasar dari partisipasi publik yaitu, berbasis nilai, berorientasi keputusan, dan didorong tujuan. Pelatih pada 5 hari pelatihan ini pada 30 Juli – 03 Agustus 2018 kemudian mengajak para peserta untuk dapat menyampaikan apa saja nilai-nilai dasar dari dalam diri mereka sendiri. Beragam jawaban disampaikan oleh para peserta secara bergantian. Merefleksikan nilai-nilai dari para peserta ke dalam materi yang sedang dibahas, pelatih menyampaikan bahwa partisipasi publik itu berbasis nilai, dimana nilai mengatur bagaimana cara kita seharusnya memikirkan segala sesuatu. Untuk menambah pemahaman kepada peserta pelatihan, pelatih melanjutkan dengan memberikan kuis kecil.

Melalui slidenya pelatih memperlihatkan pernyataan sebagai berikut Anda sendirian di rumah dan semua hal ini terjadi pada waktu yang sama!; Telepon berdering, bayi menangis, keran dapur pecah, alarm tetangga berbunyi, ada yang mengetuk pintu, dan ada kucing akan memangsa burung kesayangan. Kemudian dari sekian lakuan yang terlihat dislide, terdapat perintah didalamnya untuk peserta lakukan. Perintahnya adalah peserta diminta untuk mengurutkan apa yang akan dilakukan pertama kali hingga yang paling akhir. Urutan mereka masing-masing ditulis diselembar kertas, kemudian para peserta diminta untuk saling mencari dan mencocokan jawaban dengan peserta lain.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada peserta yang memiliki jawaban urutan yang sama persis. Ternyata dari hasil pencocokan jawaban tersebut ada dua peserta yang mempunyai kesamaan urutan. Berdasarkan hal tersebut pelatih melanjutkan pemberian pemahaman mengenai nilai, bahwa meskipun setiap individu berjalan berdasarkan nilainya masing-masing yang mana pasti ada yang berbeda-beda namun dari setiap perbedaan yang ada akan dapat ditemukan minimal satu kesamaan.

Kemudian dari satu atau beberapa hal yang sama itu dapat dijadikan landasan untuk setiap pemangku kepentingan dapat melibatkan diri sesuai fungsi dan kapasitasnya dalam hal ini adalah melakukan praktek partisipasi publik secara optimal dalam proses pengambilan keputusan diberbagai sektor. Pelatih menambahkan penjelasannya dengan menunjukan gambar segitiga yang terbagi menjadi tiga bagian; yaitu bagian yang paling bawah ada nilai, bagian tengah ada kepentingan dan bagian paling atas ada posisi.

Kemudian pelatih melanjutkan materi dasar dari partisipasi publik yang kedua adalah berorientasi pada keputusan. Ada 3 pertanyaan penting didalamnya yaitu; Apa keputusannya? Dapatkah publik/masyarakat berkontribusi? dan apa peran publik dalam berkontribusi?. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi awalan untuk memperoleh sebuah keputusan. Dimana keputusan yang dibuat dengan penerapan partisipasi publik didalamnya akan menghasilkan pernyataan keputusan yang efektif.

Indikator dari keputusan yang efektif adalah menghasilkan pernyataan yang jelas yang menjelaskan apa masalah/peluang/masalah/proyek dan tentang bagaimana para pemangku kepentingan dapat berpartisipasi, dapat mencerminkan kebutuhan pengambil keputusan dan para pemangku kepentingan, tentang sesuatu yang ingin diselesaikan atau digali oleh para pemangku kepentingan, pernyataan keputusan dinyatakan dengan jelas dalam bahasa masyarakat/umum, merupakan salah satu yang dapat diterima oleh sebagian besar pemangku kepentingan, dan mengikuti prinsip KISS (keep it simple and straight forward) – tetap sederhana dan lugas.

Pada akhir dari pelatihan hari pertama, pelatih menyampaikan dasar yang ketiga yaitu didorong oleh tujuan. Pelatih menjelaskan dasar ketiga ini dengan menunjukan slidenya yang terdapat sebuah bagan spectrum partisipasi publik IAP2. Terjelaskan juga didalamnya bahwa terdapat 5 spectrum yaitu diantaranya ada Inform (informasikan), Consult (konsultasikan), Involve (libatkan), Collaborate (berkolaborasi), dan Empower (berdayakan).

Rabu, 05 September 2018. 10.05 WIB

Review Hari Pertama di Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik (1)

Pelatihan Dasar-dasar Partisipasi Publik yang berlangsung pada tanggal 30 Juli – 03 Agustus 2018, di Gedung Rektorat SGPP Indonesia, Bogor, dibuka oleh Bapak Aldi M. Alizar selaku Ketua Afiliasi. Beliau memberikan sambutannya dihadapan para peserta pelatihan yang sudah hadir. Didalam sambutannya Bapak Aldi M. Alizar memberikan sekilas pengenalan tentang organisasi IAP2 Indonesia dan latar belakang diadakannya acara pelatihan dasar-dasar partisipasi publik di Indonesia.

Beliau menyatakan bahwa kebutuhan akan pemahaman isu partisipasi publik kepada masyarakat dan pemangku kepentingan perlu difasilitasi sehingga kebijakan/proyek/pembangunan yang berdampak pada seluruh pihak dapat berkeadilan sosial khususnya di Indonesia. Sambutan juga disampaikan oleh perwakilan dari pihak SGPP, memberikan ucapan selamat datang kepada para peserta, pelatih dan official IAP2 Indonesia, kemudian sambutan terahir datang dari dua orang pelatih yang sudah hadir di Indonesia.

Sebelum memulai masuk ke dalam materi pelatihan, Barbara dan Tanya mengawali dengan mengajak para peserta saling berkenalan, awal yang baik sebelum memulai hari pertama. Para pelatih memberikan masing-masing peserta secarik kertas berisi pertanyaan singkat seperti nama, pekerjaan, instansi, dan pengalaman apa yang ingin dibagi diluar pekerjaan. Setiap peserta menuliskan jawabannya dikertas masing-masing setelah diisikan kemudian peserta harus menaruhkan kertasnya di atas satu meja yang sudah ditentukan pelatih. Selanjutnya pelatih mengajak para peserta untuk mengambil kertas yang sudah terkumpul tadi, masing-masing orang satu kertas, tidak diperkenankan untuk mengambil kertas yang berisi jawaban diri sendiri. Setiap orang harus mengenal lebih dekat nama peserta yang kertasnya terambil terkait hal-hal yang terjawab dikertas tersebut dan menjelaskan kembali kepada semua yang hadir diruangan mengenai hasil pengenalannya.

Sesi pengenalan yang cukup seru membuat suasana ruangan menjadi lebih cair dan hangat. Pengenalan partisipasi publik menjadi materi awalan dihari pertama pelatihan. Lebih rincinya adalah membahas apa itu partisipasi publik, orbit dari partisipasi publik, mengapa harus ada partisipasi publik, dan dasar-dasar dari partisipasi publik IAP2.

Didalam ruang kelas dijelaskan dengan baik oleh pelatih, bahwa partisipasi publik merupakan sebuah proses yang mengikutsertakan publik/masyarakat dalam pemecahan masalah atau pengambilan keputusan, dan menggunakan masukan publik untuk membuat keputusan yang berkelanjutan di dalam pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat. Proses keputusan secara umum ada 6 tahapan; Isu/ruang lingkup proyek, data yang dikumpulkan, menetapkan kriteria, mengembangkan pilihan, meninjau pilihan, dan kemudian mengambil keputusan. Namun dalam prakteknya/kenyataan dilapangan publik/masyarakat diikutsertakan hanya pada tahapan meninjau pilihan.

Dimana pilihan-pilihan tersebut sudah diputusakan yang kemudian baru dilemparkan ke publik/masyarakat untuk ditinjau bersama-sama mereka, hasil peninjauannya juga akan tetap menghasilkan keputusan yang sama atau dalam kata lain sengaja untuk mempertahankan pilihan yang sudah diputuskan secara sepihak tanpa melibatkan publik ditahapan awalnya. Hal tersbut kontradiksi dengan yang seharusnya dilakukan dimana fokus partisipasi publik harus ada disetiap langkah dalam proses pengambilan keputusan.

Kita tahu bahwa tingkat partisipasi setiap individu berbeda-beda, diantaranya terbagi menjadi; tidak perhatian, pengamat, perhatian, pemberi pengaruh, dan penentu. Dalam kehidupan sehari-hari pun ada individu ataupun kelompok yang bersikap apatis terhadap isu yang sedang berkembang dan ada yang mengambil sikap menjadi penentu sebagai bentuk partisipasinya saat sebuah kasus/proyek terjadi. Disinilah peran dari partisipasi publik diperlukan untuk membuka mata kepada seluruh pemangku kepentingan bersama-sama mengambil peran sesuai fungsinya sehingga keputusan yang di ambil dapat berkeadilan dan berkelanjutan. Supaya semua kebutuhan pemangku kepentingan dapat digabungkan, pemahaman mereka terfasilitasi dan keputusan yang dibuat dapat berkualitas maka partisipasi publik perlu dilakukan dalam sebuah proyek/kasus yang sedang ditangani/terjadi.

Masih banyak lagi manfaat dan yang menjadi landasan atau dasar kuat diperlukannya penerapan dari praktek-praktek partisipasi publik disektor manapun. Diantaranya adalah bahwa partisipasi publik sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia untuk dapat terlibat dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi hidup mereka secara langsung, ada demokrasi partisipatif yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh publik, masyarakat perlu menyadari akan kepemilikan masalah dan solusi, ini juga dapat menjadi sebuah bentuk manajemen risiko yang baik, dapat mencegah kemarahan/ketidakharmonisan publik, dapat menghasilkan penerimaan keputusan yang lebih baik.

Jika kita tidak memulai partisipasi maka para pemangku kepentingan yang berkuasa akan memulainya, dapat membangun kepercayaan dalam proses pengambilan keputusan, dapat lebih mengembangkan pemahaman tentang isu melalui berbagi informasi, sebagai jalan dalam membangun hubungan antara pemangku kepentingan dan pengambil keputusan, menciptakan sumber daya yang sesuai dengan harapan internal/eksternal, dan juga mengumpulkan informasi dari penduduk setempat tentang masalah lokal. Disiang hari pembahasan dilanjutkan dengan pemberian materi mengenai dasar-dasar partisipasi publik IAP2. Apa dan bagaimana pembahasannya, tunggu di artikel berikutnya… (Bersambung)

Senin, 03 September 2018. 17:;07 WIB